33. Tiga Puluh Tiga

1418 Kata

Nadi turun dari kamarnya dengan seragam sekolah yang sudah lengkap melekat pada tubuh gadis itu. Langkahnya gontai tak bersemangat seperti beberapa hari terakhir. Bahkan tidak ada lagi teriakan pagi buta ala Nadi untuk membangunkan Zillo, atau nyanyian di balkon kamarnya untuk sang pemuda pujaan hati. Pikirannya terkuras hanya untuk mempertimbangkan akan ikut pergi bersama Eyang atau tidak. Pilihan yang sulit, Nadi ingin menemani Eyang di Jerman, tapi berat untuknya meninggalkan Indonesia, hatinya di sini, di tempat Zillo berada. Langkah Nadi terhenti pada gundukan tangga terakhir, pandangannya tertuju pada Eyang yang kini tengah berdiri di depan dinding yang memajang potretnya dan Grandpa dalam figura ukuran besar. Nadi menghela napas berat sebelum menghampiri Eyang dan memeluknya dari b

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN