Kesalahan Fatal

2389 Kata
Pagi ini suasana di meja makan teramat canggung. Hanya denting sendok beradu yang terdengar. Baik Alra maupun Diyo, tidak ingin membuka obrolan. Bahkan, sampai saat Diyo berdiri untuk menyimpan piring kotor pun, keduanya masih larut dalam keheningan. Diyo sudah akan berangkat, sebelum suara Alra menghentikan langkahnya. "Soal semalam, Om enggak ada niat buat jelasin?" tanya Alra pelan. Diyo yang mendengar itu justru terdiam. Apa yang harus dijelaskan? Ia sendiri pun masih bingung kenapa berbuat demikian. Diyo memilih mengalihkan pembicaraan. "Saya harus cepat ke kantor. Hari ini kamu berangkat sendirian." Alra yang mendengar itu berdiri. Kesal. Apakah Diyo berpikir, yang terjadi semalam bukanlah apa-apa? Dengan langkah cepat, Alra menghampiri Diyo, menggenggam lengannya, dan mendongak menatap pria dingin itu. "Jelasin Om. Kenapa Om lakukan itu?" Diyo diam, tidak tahu harus menjawab apa. Karena Diyo juga tidak tahu alasannya. "Seenggaknya Om harus minta maaf karena berbuat salah. Bilang kek kalau Om khilaf. Atau apa kek. Bukannya cuma diam kayak gini. Om pikir aku gadis apaan dicium sembarangan kayak gitu?" cecar Alra menggebu. Itu ciuman pertamanya. Katakan saja ia berlebihan, tapi untuk Alra, hal seperti itu harus didapat oleh orang yang tepat. Diyo bukanlah orang itu, setidaknya untuk saat ini. Sementara Diyo mendengar penuturan Alra, justru merasa kesal. Kesalahan? Khilaf? Bukan. Apa yang ia lakukan bukanlah kesalahan ataupun kekhilafan. Akan tetapi …. "Saya suami kamu. Suami sah kamu. Kenapa saya harus minta maaf untuk hal seperti itu?" Alra yang mendengar itu semakin menatap Diyo heran. "Suami?" gumamnya, tapi masih bisa didengar Diyo. "Tapi pernikahan ini sepihak. Om enggak bisa memperlakukan aku kayak gitu, karena aku enggak pernah menganggap pernikahan s****n ini. Aku---" Plakk Alra memegangi pipinya yang baru saja ditampar oleh Diyo. Matanya berkaca-kaca. Rasa panas mulai menjalar di sekujur pipi dan hatinya. Air mata merembes begitu saja. Diyo tidak sadar melakukannya. Mendengar gadis itu mengucapkan 'pernikahan s****n', seolah mengoyak harga dirinya. Ada hal yang membuat Diyo marah karena penuturan gadis itu. Sekarang, melihat gadis itu menangis karena ulahnya, membuatnya menyesal dan sesak. "Maaf," ujarnya seraya memegang pipi gadis itu yang justru ditepis kasar. "A-ku be-bnci sa-ma Om." Kalimat terakhir yang diucapkan Alra dengan susah payah, berhasil membuat Diyo bungkam seribu bahasa. Kalimat yang sarat akan nada benci itu, berhasil membuat Diyo semakin merasa bersalah. Kenapa harus menampar? Kenapa ia harus semarah itu? Padahal awalnya pun sama, Ia menganggap pernikahan ini sebagai sebuah kutukan dalam hidupnya. Lalu sekarang, apa yang terjadi? Apakah setelah dua bulan tinggal bersama, hatinya perlahan terbuka pada gadis itu? Diyo pusing. Ia hanya bisa meremas rambutnya dan berteriak tertahan melepaskan kekesalannya. *** Selama di sekolah, Alra lebih banyak diam. Tamparan itu memang tidak keras, tapi rasanya sangat menyakitkan. Tamparan pertama yang ia dapat dalam hidupnya. Mungkin itu alasan, kenapa ia merasa sangat kesakitan. "Lu kenapa sih dari tadi? Ada masalah?" tanya Marta saat ketiganya duduk di kantin. Ini sudah istirahat kedua, sehingga kantin tidak seramai sebelumnya. Alra menatap Marta sekilas lalu menggeleng. "Jawab, Ra. Jangan kayak anak kecil deh," sambar Elis tanpa saring seperti biasanya. "Menurut lo, gue kayak anak kecil?" tanya Alra datar. Hal itu membuat Elis dan Marta merasa heran. Di mana Alra yang selalu ceria saat berbicara? "Iya. Lo kayak anak kecil. Kita udah temenan dari SMP, tapi lo masih aja enggak mau cerita apa pun ke kita," balas Elis jengkel.Sedangkan Marta lebih banyak mendengarkan. "Gue bukannya enggak mau, tapi enggak bisa." Mendengar itu, membuat Marta dan Elis semakin bingung. Ada apa dengan gadis ini sebenarnya? "Gue, benci sama Om Diyo." Setelah mengucapkan itu, Alra terisak. Membuat meja mereka menjadi tontonan orang-orang yang ada di kantin, termasuk Daniel yang sedari tadi menatap Alra dari meja yang jaraknya cukup jauh. Ketika matanya menangkap gadis itu menangis, perasaanya jadi tidak keruan. Ia berdiri, berjalan ke arah meja Alra dan teman-temannya. "Ada apa?" Marta dan Elis serempak menggeleng. "Gue bisa bawa dia?" tanya Daniel meminta izin. Marta dan Elis serempak mengangguk. Daniel memegang bahu Alra, mengangkatnya perlahan lalu membawanya keluar dari kantin. *** "Apa yang kamu lakukan, hah!" teriak Diyo, suaranya menggelegar di ruang kerjanya. Hal itu membuat, sekretarisnya berdiri dengan gemetar. "Ma-maaf, Pak," ujarnya tergagap. Hanya itu yang bisa ia katakan untuk saat ini. Diyo memijat pelipisnya yang terasa pusing. "Sekali lagi kamu melakukan kesalahan, kamu saya pecat. Satu lagi, untuk hari ini kosongkan jadwal saya." "Tapi ...." Diyo menatap tajam, membuat wanita seusianya itu menunduk dan segera berlalu pergi. Diyo tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Untuk bekerja pun rasanya ia tak semangat. Alhasil, untuk mencari solusi dari masalahnya, ia mengajak salah satu temannya untuk bertemu. *** "Kusut bener muka lo, Yo,” ucap Rian dengan nada menjengkelkan. "Lo bisa diam?" "Santuy dong. Jadi, ada apa? Jarang banget lo ngajak gue ketemuan kayak gini?" Diyo menghela napas. Ia menatap sahabatnya yang sudah menjalani pernikahan selama hampir 3 tahun. Itulah alasannya kenapa Diyo mengajaknya,sekalipun tahu kalau Rian adalah manusia paling gesrek. "Lo pernah berantem sama Naya?" Rian yang mendengar itu, bukannya menjawab justru menatap Diyo dengan tatapan menjengkelkan. Salahkan Diyo mengajak pria umur 30 tahun itu bertemu? "Kenape lo? Berantem sama bini?" tanyanya cengengesan. Diyo menghela napas, lalu menatap Rian tajam. Hal itu membuat Rian terkekeh pelan. Sekarang Rian mulai paham situasi adik tingkatnya ini. "Ya pernah lah. Lumayan sering juga. Bahkan lebih parahnya, gue pernah hampir ngelempar dia pakai vas bunga. Gila, Man. Dicuekin gue berhari-hari. Enggak dikasih jatah. Bahkan---" "Cukup!" Mendengar Rian berbicara, mengingatkannya pada sosok Alra. Gadis kecil yang tengah marah padanya. "Apa yang lo lakuin buat baikan lagi?" "Gue kasih kejutan." Diyo menaikkan alisnya bingung. “Kejutan apa?” Rian mengisyaratkan Diyo untuk mendekat. Entah apa yang Rian bisikkan, tapi setelah itu Diyo menjitak kepala Rian. "Lo gila?" Rian mengusap kepalanya meskipun sebenarnya tidak sesakit itu. "Tapi ampuh, Man. Dia langsung meluk gue dengan manja." "Enggak ada cara lain?" Rian tampak berpikir, membuat Diyo jengkel. Sejak kapan pria aneh di depannya ini bisa berpikir?. Untuk urusan seperti ini, Diyo harus bertanya pada pakarnya. "Lo tenang aja. Itu biar jadi urusan gue dan sobat yang lain. Sini kunci rumah lo," pintanya mengulurkan tangan ke depan Diyo. "Ngapain?" "Sini elah." Dengan berat hati Diyo memberikan kunci rumahnya. Diyo hanya bisa berdoa agar otak Rian tidak segesrek dulu. "Tugas lo cuma satu. Tahan bini lo biar enggak pulang dulu sampai jam 8 malam." *** "Sebenarnya ada apa? Daritadi kamu diam aja," tanya Daniel entah untuk keberapa kalinya. Daniel menghela napas pelan. "Aku enggak suka lihat kamu sedih begini," ujar Daniel seraya mengusap kepala Alra pelan. Mereka sedang berada di rooftop sekolah, sedang bolos pelajaran. "Aku enggak bisa cerita. Maaf." Daniel mengangguk mengerti. "Gimana kalau nanti kita jalan? Nonton misalnya?" Alra menimang dulu. Pulang bukanlah sesuatu yang ingin ia lakukan sekarang. Alhasil, Alra mengangguk, seraya memaksakan senyum. Setelah itu, keduanya larut dalam hening. Keduanya berkelana dalam dunia khayal masing-masing. *** Seperti yang telah dijanjikan, kedua remaja itu berniat pergi nonton. Saat ini Alra tengah menunggu Daniel di parkiran, dikarenakan Daniel harus piket terlebih dahulu. Hanya 5 menit berlalu, Daniel sudah datang. "Cepet banget?" tanya Alra heran. Daniel cengengesan. "Biasa. Dibantuin temen tadi." Alra hanya mengangguk saja. Saat ia akan naik ke motor, sebelum sebuah tangan menghentikannya. "Ikut saya!" Suara yang sarat akan nada perintah itu, sudah sangat Alra hafal. Ia mendongak, dan matanya bertemu dengan mata Diyo. "Apasih, Om?" tanya Alra kesal seraya berusaha melepas cekalan Diyo yang justru berujung kegagalan. Bersyukur, parkiran tidak lagi ramai sehingga ketiga manusia itu tidak harus jadi tontonan. Diyo menarik Alra, tapi gadis itu terus melawan, menolaknya dengan keras. Sedangkan Daniel yang sedari tadi hanya jadi penonton, akhirnya ikut memegang lengan Alra yang terbebas. "Maaf. Dia sudah ada janji dengan saya. Lagipula, bukankah Anda terlalu kasar?" tanya Daniel . Ia tahu, bahwa pria di depannya ini adalah om-nya Alra. Jadi, ia harus menjaga sikap. Bukannya melepaskan Alra, Diyo malah berdecak pelan dan bertanya, "Kamu siapanya?" "Saya cuma temennya, tapi ...." "Saya su---" Belum selesai Diyo berucap, Alra lebih dulu berbicara seraya menarik Diyo. "Ayo, Om!" "Kamu bisa lepasin tangan aku?" lanjutnya kepada Daniel yang bingung melihat perubahan sikapnya itu. Meski bingung, pada akhirnyaDaniel tetap melepasnya juga. "Aku duluan. Nontonnya lain kali aja," lanjut Alra pelan. Lalu keduanya berjalan menuju mobil Diyo. Di mobil, mereka sama-sama diam, tidak ada satu pun yang mau membuka suara. Tepat saat mobil itu berhenti karena lampu merah, Diyo menoleh ke arah Alra. "Maaf," tanyanya pelan. "Pipi kamu baik?" lanjutnya menyesal. Bagaimanapun, ia telah melukai Alra. "Enggak usah sok peduli bisa?" ucap Alra tajam. Matanya menatap Diyo penuh kebencian. Diyo menghela napas. "Saya tidak suka kamu mengatakan pernikahan ini 'pernikahan s****n'. Maaf karena saya terlalu emosi sampai menampar kamu," ujarnya panjang lebar. Mungkin pertama kalinya ia bisa berbicara sepanjang ini kepada Alra. Namun, reaksi gadis itu justru hanya diam dan tak ada tanda akan menggubris. Tepat saat lampu sudah berubah hijau, Diyo menjalankan mobilnya lagi, dan Diyo harus mendengar kalimat membuatnya sakit hati dari mulut istrinya. "Om juga enggak suka kan sama pernikahan ini. Aku enggak pernah lihat Om senyum. Pernikahan ini emang enggak bawa kebahagiaan. Jadi, aku rasa itu udah cukup untuk bilang kalau pernikahan ini sialan." Diyo memilih diam. Ia menimang setiap kata yang keluar dari mulut Alra. Ucapan Alra ada benarnya, bagi Diyo pernikahan ini juga kesialan, tapi itu dulu. Sekarang, setelah hampir dua bulan bersama, rasanya sudah berbeda. Kehidupan Diyo yang kerap kesepian, telah diisi dengan kehadiran Alra. "Itu dulu. Sekarang saya merasa pernikahan ini tidak seburuk itu." Setelah mengucapkan kalimat yang berhasil membungkam mulut Alra, Diyo merasa lebih lega. Ia tidak tahu apa alasan dari semua tindakannya. Kenapa ia harus susah payah menghibur gadis ini. Kenapa harus merelakan waktunya yang berharga hanya untuk Alra, gadis yang selama ini tidak ia sukai. Kenapa mau menyerahkan rumahnya diotak-atik oleh sahabatnya hanya untuk menyenangkan hati gadis ini. *** "Makan!" perintah Diyo pada Alra. Mereka tengah berada di restoran untuk mengisi perutnya yang lapar. "Enggak selera," jawab Alra ketus. Diyo menghela napas pelan. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. "Kamu mau apa?" tanya Diyo pada akhirnya. Hanya pasrah yang bisa ia lakukan untuk membuat istrinya merasa lebih baik. Alra yang mendengar itu tampak berpikir. Banyak hal yang ingin ia lakukan, tapi gengsi untuk mengatakannya. "Mau pulang," jawabnya dengan nada sedikit tidak rela. "Mau nonton?" tanya Diyo tidak mengindahkan ucapan Alra. "Aku kan bilang mau pulang." "Nonton apa?" "Mau pulang, Om." Diyo menatap Alra. Habis sudah kesabarannya. "Saya berusaha baikin kamu, tapi kamu justru bersikap seperti ini. Tidak menghargai usaha saya sama sekali." Alra balas menatap Diyo. Tampaknya gadis itu tidak merasa takut sama sekali kepada Diyo yang kini menatapnya dengan tajam. "Enggak perlu pura-pura baik begini." "Saya harus apa biar kamu percaya?" Alra yang mendengar itu malah tertegun. Tatapan Diyo teduh, tidak dingin seperti biasanya. Nada suaranya lembut, tidak sedatar biasanya. Semua itu berhasil membuat hati Alra luluh dan membiarkan Diyo terus berusaha. "Aku percaya," ucap Alra pelan. Ia mengalihkan tatapannya, sebab tidak tahan berhadapan dengan mata Diyo yang tampak penuh penyesalan. Mata yang berhasil membuat jantungnya bekerja lebih cepat dari biasanya. "Kalau begitu makan. Habis ini kita nonton." *** Keduanya sudah memasuki sebuah mol. Banyak pasang mata menatap ke arah mereka, membuat keduanya risi. Melihat Alra mengenakan seragam dan Diyo dengan kemeja yang digulung hingga siku , membuat orang-orang berpikir yang tidak-tidak tentang mereka. Alra hanya bisa menunduk memikirkan itu. Diyo yang sadar hal itu, akhirnya membawa Alra ke tempat pakaian dan menyuruh menggantinya dengan pakaian yang lebih pas untuk digunakan "Pilih!" "Maksud Om bajunya?" tanya Alra polos. "Apa lagi? Kamu mau beli penjualnya juga?" "Apasih? Garing banget." Diyo diam saja. Ia mengisyartakan agar Alra segera memilih dan berganti pakaian. Tidak butuh waktu lama, Alra mengambil sebuah dress polos berwarna peach. Setelah itu menunjukkannya pada Diyo. "Yang ini saja." Diyo segera membayar dan Alra pergi ke ruang ganti. Tidak lama, Alra kembali dengan pakaian berbeda. Meskipun memakai sepatu kets putihnya, tetap saja penampilannya sudah lebih baik. Diyo mengangguk, lalu keduanya berjalan menuju lantai atas. *** Alra melihat-lihat jadwal film apa saja yang akan tayang . Alra kecewa, tidak ada satu pun film yang membuatnya tergiur. Ia mendongak menatap Diyo, yang ternyata juga menatapnya. "Kayaknya enggak perlu nonton, deh. Enggak ada yang seru juga." "Yakin?" "Iya, Om. Kita ke toko buku aja gimana?" tanya Alra antusias. Diyo mengangguk mengiakan. Diam-diam ia tersenyum. Ternyata semudah itu mengembalikan semangat dan ceria Alra. Perjalanan menuju toko buku hanya diselimuti hening, tapi dalam diamnya, mereka merasakan perasaan masing-masing. Alra diam-diam melirik Diyo yang tengah menyetir. Tanpa sadar ia tersenyum kecil. Jalan-jalan seperti ini, membuatnya senang. Meskipun, bayangan ketika Diyo menarparnya kembali terngiang. Setelah ditelaah lebih matang, ia juga merasa bersalah. Pernikahan adalah hal sakral. Keduanya berjanji di depan Tuhan, di hadapan pendeta, di depan keluarga. Namun, dengan mudahnya Alra mengatakan bahwa pernikahan ini adalah kesialan. Sekarang, ia jadi merasa bersalah. "Om?" "Hm?" "Maaf soal tadi pagi. Aku Cuma .... " "Lupain." Alra melirik Diyo. Pria itu tidak menampilkan ekspresi apa pun. Tampaknya Diyo juga tidak ingin mengungkit masalah itu. Akhirnya mereka tiba di toko buku. Alra berjalan cepat, tampak tidak sabar lagi melihat novel-novel remaja dengan percintaan pelik. Alra sibuk melihat-lihat buku yang akan dibeli, sementara Diyo mengikutinya dari belakang. Alra melihat sebuah judul buku yang sepertinya enak dibaca. Sayangnya buku itu terletak di tempat yang cukup tinggi. Ia berjinjit untuk meraihnya, tapi tetap saja gagal. Alra sudah akan merelakan buku itu, tapi saat melihat sebuah tangan menggapai buku itu dari belakangnya, Alra lantas berbalik, melihat sang pemilik. Namun, …. Deggg Jantung Alra mencelus saat dirinya tidak sengaja menabrak d**a bidang seseorang yang parfumnya sudah ia hafal. Siapa lagi kalau bukan Diyo? Perlahan ia mendongak. Dengan jarak sedekat itu, ia harus berusaha keras hanya untuk menatap wajah Diyo. Sementara Diyo sendiri menunduk balas menatapnyaserya atangan masih memegang buku di deret rak. Lagi-lagi, entah untuk keberapa kalinya, tatapanya terkunci pada gadis itu. Namun, ia berusaha untuk mengontrol. Diyo tidak boleh melakukan kesalahan yang sama. Alra tersadar saat sebuah buku menimpuknya pelan, dan pelakunya adalah Diyo. "Apa sih, Om? Om lagi nyari gara-gara?" kesal Alra. "Saya kasihan sama mata kamu. Lihatin saya sampai lupa berkedip." Alra yang mendengar itu, mengambil buku dari tangan Diyo, lalu memukulnya. "Eggak, ada ya. Om kali yang liatin aku segitunya," balas Alra tidak mau kalah. Diyo tersenyum kecil, membuat Alra bingung dan kaget. Ketika disuruh tersenyum Diyo malah jutek, tapi giliran dipukul dengan buku malah tersenyum. Terkadang manusia seaneh itu. "Makasih." "Makasih buat apa? Karena udah mukul?" "Makasih udah maafin saya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN