Alra menatap makanan di depannya tanpa selera. Akibat hal tak terduga itu, ia hanya memakan sesuatu yang membuatnya bosan. Telur., Hukankah ia terlalu sering mengonsumsi makanan itu?
Bagaimanapun ia adalah manusia biasa yang butuh asupan. Alra harus tetap makan sekalipun tidak selera. Demi kelangsungan hidup.
Sekilas Alra melirik Diyo yang anteng di depannya, menyantap makanannya dengan anggun. Ya ampun, sejak kapan Diyo jadi semenawan itu?
"Lihat muka saya bikin kamu kenyang?"
Suara itu berhasil mengalihkan perhatian Alra. Sepertinya, rasa kagumnya pergi begitu saja.
"PD banget sih. Orang aku lagi lihat Coco," sergah Alra cepat. Syukurlah tepat di belakang Diyo yang masih terlihat oleh Alra, Coco tengah terbaring tenang.
Diyo hanya memutar bola mata. Ia kembali melanjutkan makannya yang tertunda. Prinsipnya adalah tidak perlu mengurusi gadis itu.
Selepas makan malam, Alra memilih berbaring di sofa. Di atas tubuhnya, Coco tengah tidur dengan anteng. Tentu saja. Siapa yang tidak suka bila dielus lembut? Bahkan anjing pun tahu mana sebuah kenikmatan.
Sejujurnya Alra cukup bosan menonton sinetron Indonesia. Bukannya tidak menghargai karya bangsa, hanya saja sinetron yang tayang benar-benar tidak memancing emosi. Berbeda dengan drama Korea yang kerap ia tonton.
"Bosan banget," keluh Alra .
Malam Minggu memang terasa membosankan bagi Alra. Diam di rumah, menonton drakor, tidur, makan camilan. Hanya itu yang ia lakukan setiap malam Minggu. Terkadang iri juga pada temannya yang pergi ke luar.
Alra tersenyum sumringah saat sesuatu melintasi otaknya. Orang pacaran saja pergi jalan, kenapa orang yang sudah menikah hanya diam di rumah?
Dengan langkah seribu Alra berjalan menuju kamar. Ia bahkan tak memedulikan Coco yang tidurnya sempat terganggu.
Alra menghela napas bosan. Lihat saja suaminya itu, selalu sibuk dengan pekerjaannya.
Alra mendekat, menatap layar laptop Diyo yang menampilkan sesuatu yang sangat tidak dipahaminya.
Diyo yang merasa terganggu, lantas berdiri seraya mengangkat laptopnya. "Ngapain?"
"Keluar yuk, Om!"
Diyo yang mendengar itu menatap Alra aneh. Bingung.
"Keluar?" tanyanya.
"Iya. Jalan-jalan gitu. Terserah mau ke mana. Aku ikut Om aja," jawab Alra semangat.
"Udah malam."
"Namanya juga malam mingguan. Ya enggak mungkin pagi, kan?" jawab Alra sewot.
Diyo menghela napas. Kenapa gadis ini semakin banyak tingkah? "Saya banyak kerjaan."
"Masa tiap hari kerja. Presiden aja enggak sesibuk Om."
"Tahu dari mana?"
"Eh. Ya … gitulah pokoknya. Presiden aja masih sering bepergian ketemu rakyatnya. Om juga sesekali---"
"Ketemu presiden?"
Alra benar-benar kesal. Kenapa pria di depannya ini selalu susah diajak berbicara? Sementara Diyo tersenyum menang. Ia pada akhirnya pergi begitu saja.
"Nyebelin banget sih. Dasar tua."
***
Jalan kuy.
Sebuah pesan dari Marta membuat Alra berbinar. Akhirnya, ia punya teman untuk malam mingguan.
Kuylah. Ajakin Elis juga.
Dia sama gebetan.
Alra yang membaca pesan itu menghela napas. Elis tidak bisa. Jalan dengan Marta saja kelihatan aneh. Entar dikira yang tidak-tidak.
Ahh. Enggak usah kaauo gitu. Aneh banget tahu jalan cuma kita berdua.
Iya juga, ya?
Gagal lagi. Akan tetapi, di rumah saja lebih gagal. Alra mengotak-atik ponselnya dan menemukan nomor Daniel. Bagaimana kalau mengajaknya keluar? Namun, Alra segera mengenyahkan pikiran bodoh itu. Alra kan gadis bersuami. Kenapa harus jalan dengan laki-laki lain? Ia harus memikirkan perasaan suaminya.
Alra tiba-tiba bergidik. Ia menatap Diyo yang sibuk di sudut ruangan. Apakah Diyo punya perasaan?, Kenapa Alra harus repot memikirkam perasaannya, padahal Diyo tak pernah peduli? Jangn-jangan, Alra sudah ….
"Enggak! Enggak bisa!" teriaknya tiba-tiba.
Teriakan itu berhasil membuat Diyo terganggu. Kenapa gadis itu begitu berisik? Apakah mulutnya tidak lelah berbicara terus-menerus? Diyo saja yang hanya jadi pendengar merasa lelah.
"Kamu bisa diam?"
Alra mendengar itu menatap Diyo aneh. Pikiran yang sebelumnya kembali datang, membuatnya menggelengkan kepalanya seraya menggumamkan kata 'enggak'.
Diyo bingung melihat reaksi gadis itu. Pada akhirnya, menunda pekerjaan lalu berjalan ke arah Alra. "Ada apa?" tanya Diyo dengan nada yang tidak biasanya.
Alra menatap Diyo dan menggeleng pelan
"Kalau mau jalan, pergi saja."
Diyo mengutuk ucapannya barusan. Kenapa ia bisa bersikap seperti itu? Ia terlihat seperti anak remaja yang tengah kasmaran. Lihat saja, bagaimana tingkah Diyo yang berusaha mengalihkan tatapannya dari mata Alra. Jangan bilang ia gugup? Seorang Diyo Geovano yang dingin itu?
"Enggak punya temen," ujar Alra pelan.
Diyo mengangguk mengerti, kemudian diam setelahnya. Tak tahu harus menanggapinya seperti apa. Keheningan itu menyelimuti keduanya..
Tiba-tiba suara notifikasi dari ponsel Alra mengalihkan perhatian keduanya. Serempak mereka menoleh dan ternyata sebuah pesan dari nama kontak 'Oppa Daniel' tertera di sana.
Mau jalan nggak?
Dengan sigap Alra mengambil ponselnya. Senyumnya terpampang jelas. Diyo yang melihat reaksi gadis itu, hanya menatapnya datar, tanpa ekspresi dan lebih dingin dari biasanya.
Alra akan membalas pesan itu, tapi ia harus meminta izin lebih dulu.
"Boleh enggak aku balas pesannya, Om?" tanyanya antusias.
Diyo menatap Alra cukup lama Setelah menghela napas panjang, Diyo akhirnya membuka suara. “Boleh.”
Alra tersenyum senang. Ia mengalihkan tatapannya lagi pada ponselnya. Mengetikkan balasan pada Daniel dan langsung menentukan tempat pertemuan mereka. Bisa kacau urusannya kalau Daniel melihatnya tinggal dengan seorang pria..
Setelah mendapat pesan persetujuan dari Daniel, Alra beranjak dari duduknya, dan siap bergegas, sampai sebuah suara kembali menginstrupsinya.
"Kalau saya juga ikut."
***
"Om ayo!"
Teriakan Alra dari lantai bawah mengalihkan perhatian Diyo. Sekarang, ia sedang menatap isi lemarinya yang didominasi kemeja.
Diyo menghela napas, memakai kemeja untuk pergi dengan anak SMA sangat tidak elit. Lalu, ia harus memakai apa? Diyo berdiri frustrasi dengan handuk melilit pinggangnya dan memperlihatkan tubuh kekar telanjangnya.
Sementara Alra di bawah sana sudah kesal menunggu. Biasanya laki-laki yang menunggu perempuan, tapi ini kenapa jadi kebalikannya?
Dengan langkah panjang, Alra berjalan menaiki tangga, menuju kamar mereka yang dipakai Diyo untuk berganti pakaian. Alra sangat tidak sabar. Ia saja hanya butuh waktu 15 menit untuk bersiap, lalu kenapa Diyo harus selama itu?
Tanpa mengetuk lebih dulu, Alra langsung masuk begitu saja. Keduanya terbelalak saat mendapati Diyo berdiri dengan kondisi tanpa busana, hanya memakai handuk di pinggangnya.
"Ah! Dasar Om m***m! Kenapa enggak bilang kalau Om belum pakai apa-apa?”
Diyo juga terkejut dengan hal itu. api tidak sampai selebay gadis itu. Dengan cepat Diyo mengambil baju kaus seadanya, dan celana jeans hitam. . Setidaknya itu lebih baik daripada harus mengenakan kemeja, bukan?
Setelah selesai, Diyo lantas berjalan menuju Alra yang masih dalam posisi sama seperti sebelumnya. Diyo mempertipis jarak di antara mereka, membuat Alra semakin merapatkan kedua matanya.
"U-udah?" tanyanya terbata.
Diyo tak menjawab. Melihat tingkah gadis itu, entah kenapa membuatnya ingin bertingkah lebih.
Diyo berjalan maju, membuat Alra refleks mundur. "Ke-napa?"
Sadar atau tidak, Diyo terkekeh pelan melihat gadis di depannya tampak ketakutan. Dengan sengaja Diyo semakin mendekatkan tubuhnya dengan Alra yang sekarang sudah mepet pada pintu kamar.
"Ke-napa, Om?"
Diyo menyejajarkan tingginya dengan Alra. Dengan suara pelan, ia berbisik, "Kamu bisa minggir? Saya mau lewat."
Alra yang mendengar itu segera membuka mata. Ia terkejut bukan main, saat wajahnya berada sangat dekat dengan Diyo.
"Minggir," ucap Diyo lagi.
Tanpa berkata apa pun, Alra bergeser ke samping, membiarkan Diyo keluar, meninggalkannya sendirian. Sepertinya, kesadaran Alra menguap. Kenapa ia harus gugup di hadapan Diyo?
***
Hening. Mobil yang ditempati Diyo dan Alra itu seperti kuburan. Seolah tidak ada kehidupan. Baik Diyo maupun Alra tak ingin memulai obrolan.
Keheningan itu akhirnya pecah saat ponsel di dalam tas Alra bergetar. Dengan cepat ia mengangkat telepon yang ternyata dari Daniel.
"Kenapa?"
Diyo melirik Alra sebentar, melihat gadis itu serius menatap ke depan.
"Gitu? Sayang banget. Padahal udah di jalan."
Sekali lagi Diyo melirik Alra, tapi wajah gadis itu berubah suram. Dalam hati Diyo bertanya, apa yang sedang terjadi, tapi terlalu gengsi untuk bertanya.
"Iya. Enggak papa, kok. Lain kali juga bisa."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Alra menutup telepon dan menoleh ke arah Diyo. Tatapan mereka tak sengaja bertubrukan, tapi dengan cepat Diyo mengalihkannya. Suasana entah kenapa berubah canggung.
"Emm …Om, temenku tiba-tiba ada urusan," ujar Alra.
"Oh."
"Kayaknya kita enggak jadi jalan, deh. Kalau gitu putar balik aja," ucap Alra pelan. Sejujurnya ia kecewa, Karena malam Minggu pertamanya bersama cowok harus tertunda.
"Ngapain pulang?"
Ucapan Diyo membuat Alra refleks menoleh ke arahnya .
"Emang kita mau ngapain?"
"Kamu maunya ke mana?"
Pertanyaan tiba-tiba itu membuat Alra menatap Diyo aneh. Normalnya, Diyo pasti segera putar balik lalu pulang, tapi yang terjadi sekarang justru kebalikannya.
"Hm?"
Alra tersadar dari pikirannya sendiri. Ia menoleh ke arah Diyo sejenak. Sudahlah, terlanjut keluar rumah juga, tanggung jika harus kembali.
"Terserah Om aja deh."
Diyo mendengus pelan. "Anak remaja seperti kamu, pemikirannya emang seperti itu? Kalau ditanya, jawabannya selalu terserah?"
Alra mendengar itu cukup kesal. Dasar Tua. Tidak bisakah satu hari saja, Diyo itu tidak membahas soal usianya?
"Aku bilang terserah karena emang enggak tahu. Makanya aku serahin sama Om aja yang umurnya udah lebih tua dan tahu," jawab Alra seraya menekan setiap kata dalam kalimatnya.
Diyo hanya mendengus pelan. Pada akhirnya ia hanya bisa diam dan membawa kendaraan roda empat itu melaju ke sebuah tempat yang pernah ditujunya dulu. Ya, satu-satunya tempat yang pernah ia datangi bersama seorang gadis.
***
"Wah keren!" ujar Alra kagum.
Saat ini keduanya tengah berada di rooftop sebuah kafe. Alra masih berdiri menatap keadaan sekelilingnya. Gemerlap lampu ibukota, benar-benar mampu memanjakan matanya. Sedangkan Diyo memilih duduk, dan memesan makanan dan minuman untuk keduanya.
Alra tersenyum senang. Kenapa tidak dari kemarin saja ia ke sini? Tempat ini kan terlalu sayang untuk dilewatkan. Alra sibuk mengambil gambar dirinya. Namun, hasilnya tak sebagus yang diharapkan. Alhasil, ia melirik Diyo yang sibuk dengan ponselnya. Gadis itu mendengus malas. Diyo masih sibuk sendiri, bahkan di tempat seperti ini?
"Om fotoin dong," pinta Alra memelas, tepat saat sudah berdiri di samping Diyo.
"Sendiri kan bisa?"
"Hasilnya enggak bagus. Ayo dong, Om. Kan jarang bisa ke sini."
"Saya sibuk."
Alra mencebikkan bibirnya kesal. Anggap saja ia tidak sopan, karena dengan lancang merebut ponsel Diyo dan menyembunyikannya di belakang punggung.
"Sekarang bukan waktunya kerja, Om. Otak manusia juga butuh refreshing. Dan sekarang adalah waktu yang tepat," oceh Alra.
Diyo yang mendengar itu, hanya menatap Alra datar. "Kembalikan!" perintahnya penuh penekanan.
Alra tidak takut lagi. Ya, ia sudah terbiasa dengan tatapan seperti itu. Alra menggeleng seraya mempererat genggamannya.
Diyo yang melihat reaksi gadis itu menjadi kesal. Ia berdiri di hadapan Alra, membuat Alra harus mendongak menatap Diyo.
Diyo menatap Alra datar. Ia mengulurkan tangannya ke belakang Alra dan memegang tangannya lembut. Sekilas, jika dilihat dari belakang, keduanya seperti tengah berpelukan.
Kedua mata mereka bertemu. Diyo dengan tatapan datar, dan Alra dengan tatapan resah saat ponsel di tangannya sudah akan berpindahtangan.
Sial. Benar saja, Diyo dengan mudah mengambil ponsel itu dari tangannya . Namun, bukannya kembali duduk, Diyo justru menatap mata Alra lekatsampai membuat Alra seperti terhipnotis. Jantungnya berdetak tidak keruan, tubuhnya kaku, dan suaranya tertahan. Apa ini? Keadaan macam apa yang tengah terjadi sekarang?
Diyo terlarut dalam tatapan gadis belia di depannya. Jarak wajah keduanya pun cukup dekat. Seharusnya, ia segera duduk, tapi tubuhnya terasa sulit bergerak. Nalurinya sebagai seorang pria, menyuruhnya untuk semakin mendekat.
Tanpa sadar Diyo semakin mendekatkan wajahnya kepada Alra, membuat gadis itu semakin tak berkutik. Harusnya Alra menjauh, menghindari Diyo yang semakin dekat. Kenapa masih diam saja? Alra merutuki dirinya sendiri dalam hati.
Wajah Diyo semakin dekat. Geraknya semakin lambat, tapi cukup ampuh memangkas jarak di keduanya.
Semakin dekat ….Semakin dekat ….
Sampai sesuatu pun terjadi.
Alra membelalakkan matanya saat sesuatu mendarat di bibirnya dengan lembut. Masih dalam posisi sama, Alra berusaha mencerna apa yang sedang terjadi. Ciuman? Benarkah? Dengan Om Tua itu?
Seolah kesadarannya kembali, Alra mendorong d**a bidang Diyo seraya berkata,
"Argh. Om harus tanggung jawab! Itu kan ciuman pertamaku," teriak Alra. Beruntung rooftop kafe itu hanya ada mereka berdua sehingga keduanya tidak harus menanggung malu.
Diyomasih berdiri terpaku, tak memercayai apa yang sudah terjadi. Ia sendiri pun tidak tahu apa yang dilakukannya. Tubuhnya yang kaku seolah bergerak dengan sendirinya. Tidak pernah terlintas di pikirannya untuk mencium gadis SMA di hadapannya ini. Tidak pernah.
Lalu, tepat malam ini, di atas rooftop kafe, ia melakukannya. Bintang dan semilir angin menjadi saksi bisu ciuman singkat di malam indah itu.