Semua Karena ayam

2045 Kata
Alra turun dari mobil dengan perasaan tak keruan. Tanpa mengatakan apa pun pada Diyo, ia lantas berlari menuju sekolah. Diyo hanya menghela napas melihat tingkah istrinya itu. Alra masih berlari sampai akhirnya tak sengaja melihat Daniel yang berjalan dengan santai ke arahnya. Ia pun memperlambat larinya. Dengan napas hampir habis, Alra berusaha tersenyum pada Daniel. "Kok lari? Padahal belum telat," tanya Daniel. Alra hanya menggeleng. "Aku duluan," jawabnya sambil melenggang pergi. Namun, saat akan melanjutkan langkah, Daniel mencekal tangannya, membuat Alra gelagapan. Jantungnya lagi-lagi tak terkontrol. "Apa?" tanya Alra lemah. "Lo ada masalah?" "Enggak ada." Daniel menatap Alra lembut. Namun terasa mengintimidasi. Hal itu membuat Alra tidak tahan untuk menatap mata cokelat terang milik Daniel lebih lama lagi. "Tuh kan bohong,"  ucap Daniel lagi. "Serius enggak papa. Aku pengin ke kelas," ujar Alra lemah. Daniel yang melihat itu lantas melepaskan cekalannya. Alra hanya melempar senyum sekilas, lalu kembali melanjutkan langkah. Hari ini, ia benar-benar malas melakukan apa pun. *** "Makan-makan!" suruh Marta pada dua sahabatnya. Saat ini mereka tengah duduk di kantin. dan sudah memesan makananan masing-masing. Marta dan Elis begitu lahap menyantap makanan di depan mereka. Berbanding terbalik dengan Alra yang hanya menatapnya tanpa minat. Hal itu justru membuat kedua sahabatnya heran. "Lo kenapa lagi? Enggak dikasih uang jajan sama suami?" tanya Elis bercanda. Alra menatap Elis kesal. "Bukan itu. Lo lagi menghina gue karena gue udah nikah? Karena gue udah jadi istri orang?" ucap Alra dengan nada marah. Suaranya tertahan agar tidak memancing telinga para tukang gosip. Marta yang melihat itu pun angkat bicara. "Kenapa jadi pada berantem?" "Tahu tuh," ucap Elis cuek, seolah tak peduli pada wajah Alra yang menatapnya garang. "Orangtua gue mau ninggalin gue. Lama banget. Lo pikir gue enggak sedih?" ucap Alra lemah. "Berapa lama?" tanya Marta. "Sekitar dua atau tiga tahun gitu," jawabnya kemudian. Marta manggut-manggut tanda mengerti. Ia jelas paham bagaimana perasaan Alra sekarang. Apalagi Alra termasuk dalam kategori manja. "Mereka pergi juga buat kerja. Lo enggak harus mewek gini. Kita udah gede, Ra. Bukan anak kecil yang kalau ditinggal nangis-nangis alay," tutur Elis. Alra menghela napas. Benar, ia udah besar, tidak harus bergantung pada orangtuanya. Alra sudah 17 tahun. *** "Kita berangkat, ya. Jagain Alra. Ajak ngomong juga. Dia emang cerewet," ujar Diah seraya menatap Diyo lembut. "Bunda percaya sama kamu." "Jangan 'itu' dulu, ya" ucap Beri mengingatkan seraya menekankan kata 'itu'. Diyo hanya mendengus. Bagus, sekarang ia harus mendengar ocehan para orangtua di depannya untuk tidak melakukan hubungan suami-istri dengan Alra. Lagipula, siapa yang akan melakukan hal semacam itu dengan gadis belia? Apakah mereka berpikir bahwa Diyo adalah p*****l? Menyebalkan. "Oke. Saya juga mengerti itu. Kalian lebih baik segera pergi," kata Diyo. Kedua pasutri itu tersenyum sebelum akhirnya melangkah menjauh. Akan tetapi, Rian tak kunjung melangkah. Dia menatap Diyo penuh harap. "Jaga dia. Pernikahan kalian bukan semata-mata karena bisnis." Setelah mengucapkan kalimat yang sedikit membingungkan , Rian lantas berjalan pergi. Diyo tidak mengerti. Pernikahan ini terjadi hanya karena kedua pihak saling diuntungkan. Bukankah itu sama saja dengan bisnis? Sudahlah,. Diyo tak ingin terlalu memikirkan itu. Lebih baik segera pergi ke kantor dan melakukan pekerjaannya. *** Alra berjalan gontai. Mengingat akan ditinggal oleh orangtuanya membuatnya sedih. Padahal sudah berusaha untuk tegar. Namun, tetap saja sulit. Kehidupannya yang selalu dipenuhi oleh ayah-bunda, membuatnya begitu dekat dengan mereka. Bukan hanya sebagai orangtua tapi juga sebagai sahabat. Tanpa sadar air mata Alra menetes. Ia kesal pada dirinya sendiri yang terlalu mudah untuk menangis. "Kenapa cengeng banget sih," ucap Alra di sela tangisnya seraya menghapus air matanya kasar. Saat membuka mata, Alra melihat sebuah sapu tangan disodorkan padanya. Alra mendongak dan cukup terkejut melihat Diyo tengah berdiri di depannya dengan tatapan meremehkan. "Dasar cengeng," ejek Diyo. Seketika wajah Alra berubah. "Om itu niat enggak sih ngasih sapu tangannya? Kalau enggak, ya enggak usah!" Diyo akhirnya kembali memasukkan sapu tangan itu ke sakunya, membuat kadar kekesalan Alra semakin tinggi. "Dasar es!" Diyo mendengar itu menatap Alra datar. Es, katanya? Padahal Alra sendiri yang menolak pemberiannya, tapi sekarang ia kesal sendiri. Bukankah itu aneh? Diyo sudah cukup terbiasa dengan keanehan istrinya. Salah satunya sekarang. Kenapa seorang gadis remaja harus menangis di tempat ramai seperti ini? Seperti anak kecil saja. "Kamu kenapa di sini?" tanya Diyo pada akhirnya. Alra yang masih kesal, menatap Diyo jengkel. "Ngapain nanya-nanya?"  Sekarang kesabaran Diyo harus diuji kembali oleh Alra. "Kita pulang sekarang. Saya bahkan ninggalin mobil di sekolah karena kamu," ucap Diyo geram. Alra tampaknya tidak peduli. Ia langsung berjalan menjauhi Diyo tanpa berucap apa pun. Lagi-lagiDiyo harus sabar. Mengejar Alra bukanlah perkara besar, karena langkah gadis itu tak sebanding dengan langkah lebar Diyo. Saat Diyo tepat di samping Alra, ia langsung memegangnya dan berhasil di tepis Alra . "Om apaan, sih? Kalau Om mau pulang, pulang aja. Aku bisa sendiri. Lagian, Om enggak usah sok peduli,"  ucap Alra keras. Hal itu membuat beberapa orang menatap mereka heran. "Kita pulang sekarang Jangan membantah sama suami!" ucap Diyo tegas dipadukan wajah datarnya yang berhasil membuat Alra bungkam. Alra ingin melawan, tapi rasa takut lebih menguasai dirinya. Alhasil, ia memutar arah dan berjalan dengan langkah cepat. "Dasar ngeselin. Enggak tahu apa orang lagi sedih." Diyo tanpa sadar tersenyum kecil. Ternyata cukup mudah membuat gadis itu menurut. Akan tetapi, entah kenapa Diyo merasa tidak enak membuat gadis yang tengah bersedih itu semakin sedih. Diyo kesal. Ada apa dengan dirinya? Ia bahkan tak bisa menahan langkahnyatatkala melihat punggung gadis itu bergetar. Sial Alra merasa tidak punya siapa-siapa. Orangtuanya pergi, dan Diyo bukanlah seseorang yang bisa diajak berbicara. Manusia dingin dan menyebalkan seperti Diyo benar-benar tidak menyenangkan bagi Alra yang sangat ingin berbicara  banyak. Padahal ia hanya berharap didengarkan, tapi Diyo bahkan seolah tak tahan dengan suara Alra. Alra tanpa sadar menangis lagi walaupun tak sekeras tadi. Namun, tetap saja ia membuat bahunya bergetar. Alra terkejut, ketika sebuah tangan besar mencekal lengannya lembut. Ia berbalik dan lebih kaget lagi ketika matanya bertemu pandang dengan Diyo. Tatapannya berbeda dari biasanya, lebih lembut dan menenangkan. Alra tentu saja cukup tertegun. Dan lebih tertegun lagi kala kalimat yang tidak pernah diduga akan ia dengar dari seorang Diyo. "Mau makan es krim dulu? Saya traktir." *** Alra begitu lahap memakan es krimnya. Tak lagi peduli dengan orang di sekitar yang menatapnya aneh. Saat ini, mereka tengah duduk di sebuah kedai es krim. Diyo memasang wajah tenang. Ia menatap Alra yang sejak tadi asik dengan es krimnya . Untuk alasan yang tidak Diyo pahami, ia merasa senang melihat gadis itu terlihat lebih baik. Diyo melihat di sekitar mulut gadis itu belepotan krim, nembuatnya tanpa sadar terkekeh kecil. Tentu saja Alra mendengar kekehan itu walau samar-samar, dan menatap Diyo dengan tampang aneh. Menyadari hal itu, lelaki Diyo berusaha mengendalikan ekspresinya. Ia kembali pada mode datarnya dan menatap Alra tajam. "Gila, ya, Om. Om ternyata bisa ketawa juga? Aku pikir Om itu ...." Ucapan Alra terhenti saat Diyo beranjak dari duduknya. Alra kaget. Ia tak ingin ditinggal, tapi juga tidak tega meninggalkan es krimnya. Dengan terpaksa, ia beranjak menyusul Diyo. *** "Kirain Om itu beneran enggap punya ekspresi," ucap Alra di sela jalannya yang cepat demi menyamai langkah Diyo. Untuk sesaat, ia bisa melupakan masalah orangtuanya. Alra mengentakkan kakinya kuat-kuat. Ia lelah jika harus berjalan seperti itu. Dengan berlari kecil, akhirnya berhasil mengapai Diyo. Entah keberanian dari mana, Alra memegang lengan kekar suaminya. Diyo menatap tangan Alra di lengannya dan wajah gadis itu bergantian. Alra yang sadar akan maksudnya, dengan cepat melepas cekalannya. "Mian," ucapnya dengan bahasa yang tidak Diyo pahami. Namun, Diyo berusaha tidak peduli. Saat akan kembali melangkah, jari mungil Alra kembali memegang lengannya. Diyo jengah dan bertanya, "Apa?"   "Om kalau jalan bisa dipelanin dikit? Aku cape harus nyamain langkah. Om itu kakinya panjang. Aku pendek. Harusnya--- " "Makanya jangan pendek," potong Diyo singkat. Alra yang mendengar itu kesal sendiri. Hal yang paling ia benci adalah ketika orang mempermasalahkan tinggi badannya. Memangnya punya tinggi 150 cm adalah keinginannya? Dia juga ingin tinggi, hanya saja takdir berkata lain. "Emangnya tinggi Om berapa sampai berani hina aku?" tanya Alra polos. Tidak tahukah ia, bahwa tingginya tidak sampai sebahu Diyo? Hal itu membuat Diyo menatap remeh Alra. Tatapan yang paling membuat Alra jengkel. "Mau tahu?" tanya Diyo. Bukannya memberitahu tinggi badannya, Diyo malah menarik lengan Alra dan mendekatkan tubuh Alra padanya. Alra yang kaget hanya bisa membelalakkan mata, membuat jantungnya berdebar cepat saat mencium parfum dari tubuh Diyo. "Lihat, kamu itu bukan apa-apa buat saya," ujar Diyo mengukur tingginya dengan Alra. Ia menyentuh kepala Alra untuk membandingkannya dengan bahunya. Ternyata memang tidak sampai. Alra tak lagi mendengar apa pun yang Diyo ucapkan. Ia masih memikirkan jantungnya yang masih berdetak tak keruan. Perlahan Alra mendongak, menatap Diyo dari samping. Dari jarak sedekat itu, ia berusaha keras untuk bisa menatapsuaminya. Ternyata Diyo memang sangat tinggi. Alra membelalakkan matanya saat Diyo balas menatapnya. Dengan cepat mengalihkan tatapannya dan bergeser menjauh dari Diyo. Alra berjalan cepat meninggalkannya. *** Setelah cukup lama menatap ponsel di tangannya, Alra menghela napas pelan. Ia benar-benar ingin berbicara dengan bundanya. Kalau menghubungi lebih dulu, rasanya aneh. Jadi, gadis itu memilih untuk menunggu saja. Getaran ponsel di tangannya membuat Alra senang. Di sana terpampang jelas nama bundanya. "Halo, Bunda," sapa Alra kelewat heboh. Diah di seberang sana terkekeh pelan mendengar reaksi putrinya yang selalu berlebihan itu. "Halo, Sayang. Gimana, tadi nangis enggak?" tanya Diah sedikit menggoda. Alra memberengut kesal. Kenapa dari sejuta pertanyaan, harus itu yang bundanya tanyakan? "Sedikit," ujar Alra dengan nada malu. "Yang bener?" goda Diah lagi. Di sana wanita itu terkekeh kecil membayangkan reaksi putrinya. "Iya bener. Cuma nangis bentar doang." Diyo yang mendengar itu menatap remeh Alra. Sedikit apanya? Diyo menggeleng tak peduli.Ia memilih beranjak dan keluar dari kamar. "Bagus, deh. Kamu baik, ya di sana. Jangan nakal. Jangan cengeng. Mending kamu masak sekarang, belajar jadi istri yang baik. Bunda harus nutup telepon dulu. Bye, Sayang. Love you." "Love you too." Meski sedikit tidak rela, Alra terpaksa memutus sambungan. Ia tak ingin dicap manja. Mengingat pesan Diah membuat Alra gelagapan. Memasak? Apa yang bisa ia lakukan? Namun, ia teringat soal hari itu. Hari di mana Diyo berjanji akan mengajarinya memasak. Dengan langkah cepat, Alra pergi menuju dapur, Ternyata Diyo sudah ada di sana dan Alra mendekat untuk menagih janji itu. Akan tetapi dia jadi canggung dan tidak tahu harus mengatakan apa. "Om lagi masak?" tanya Alra retorik. Basa-basi yang tidak perlu. "Punya mata, kan?" jawab Diyo. Alra seketika jadi kesal. Mood-nya yang baik dirusak oleh pria esitu. "Aku tanya baik-baik juga. Harus banget, ya jawabnya gitu?" Diyo menatap Alra jengah. Lagi-lagi gadis itu mempermasalahkan sesuatu yang tidak perlu. "Kalau mau diajarin, langsung tanya. Saya enggak butuh basa-basi kamu." "Iya, deh iya." Alra mendekat. Melihat Diyo yang cekatan mengiris sayuran, membuat Alra terpana. Oke. Siapa pun pasti merasakannya. Ada pria tampan, memasak dengan lihai pula. Tipe pria idaman. Karena itu, Alra tanpa sadar menatapnya lebih lama dari yang ia dugaan. Diyo yang menyadari itu tersenyum sinis. "Kagum?" tanyanya pelan. Alra tersadar, dan segera mengalihkan tatapannya. "Emm. Sa---Eh,aku harus apa?" tanya Alra gugup. "Goreng ayam, bisa, kan?" "Bisa," jawab Alra pasti. Diyo mengangguk sekali, kemudian melanjutkan pekerjaannya. Alra lebih dulu memanaskan minyak. Saat akan memasukkan ayam, ia kewalahan. Takut kena ciprat minyak seperti dulu. Akan tetapi, dia tetap harus melakukannya. Diyo pasti akan mengejeknya kalau  menggoreng ayam sajatidak bisa.   Dengan perlahan, Alra memasukkan ayam itu satu per satu. Ia bernapas lega saat ayam itu sudah masuk semuanya. Namun, itu tak berselang lama. "Ah," teriak Alra saat kulitnya tak sengaja kena ciprat minyak. Diyo yang mendengar itu, refleks berbalik. Ia menyambar tangan Alra dan membawa gadis itu menuju wastafel. Mengalirinya dengan air dingin, untukmenghilangkan sedikit panas pada luka bakarnya. Diyo tanpa sadar mengusap kulit Alra yang sedikit melepuh. "Makanya hati-hati,"  ujarnya khawatir. Lagi-lagi Alra  tertegun akan sifat Diyo. Sampai tidak sadar saat Diyo menariknya entah ke mana. Namun, yang jelas, sekarang ia tengah duduk di sofa bersama Diyo di sampingnya sibuk mengolesi kulitnya dengan salep. Alra tersenyum kecil. Bagaimana Diyo memperlakukannya seperti itu? Membuat jantungnya berdebar hebat.. Alra tidak sedang jatuh cinta, kan? Setelah selesai, Diyo mengalihkan tatapannya pada Alra. Memperhatikan wajah gadis itu tersenyum kecil ke arahnya. Diyo diam saja, terpaku. Mata mereka bertemu, menyalurkan sesuatu yang keduanya tidak pahami. Saling memberi dan menerima hal yang tidak mereka mengerti. Namun, hal itu berakhir kala bau sesuatu menyeruak hidung keduanya. "Om ayamnya gosong!"  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN