Dua Anak Cukup

2306 Kata
"Beneran enggak mau dianterin?"  tanya Daniel memastikan sekali lagi. Alra mengangguk singkat sebagai jawaban dari pertanyaan Daniel yang entah untuk keberapa kalinya. Gadis itu menoleh ke samping saat mendengar Daniel menghela napas. Tentu saja hal itu membuatnyabingung. Namun, ia tak berniat bertanya. "Oke, deh. Gue temenin sampe jemputan lo datang," ucap Daniel memecah keheningan yang sempat ada. "Iya," balas Alra dengan senyum pelan. Bahkan, jantungnya sudah berdetak tidak keruan. Tak lama kemudian, Diyo datang dengan mobilnya. Ia lalu membuka kaca dan mengisyaratkan Alra untuk masuk. Alra yang melihat itu, bukannya segera masuk, justru menatap Daniel yang berdiri di sampingnya. "Duluan ya,"  ucapnya pelan. Daniel mengangguk singkat. Ia menatap Diyo sejenak, dan pria itu ternyata menatap Daniel dengan pandangan yang sulit dibaca. Tentu saja, Daniel tak ambil pusing soal itu. Setelah melihat mobil itu memelesat, ia juga menaiki motornya dan segera beranjak pergi. Di dalam mobil, Alra tak bisa berhenti tersenyum. Entah kenapa, berbicara dengan Daniel terasa begitu membahagiakan. Diyo yang melihat itu mendengus. Dasar gadis puber! Tiba-tiba terlintas pembicaraan Airin dengannya tadi. Ia melirik Alra yang masih setia dengan senyumnya. "Hari ini kita ke rumah orangtua saya," ucap Diyo tanpa menatap Alra karena fokus menyetir. "Ngapain, Om?" tanya Alra bingung. "Acara keluarga." Alra mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Setelah itu tak ada lagi pembicaraan di antara mereka. *** Alra menatap isi lemarinya dengan nanar. Tak ada pakaian yang cukup layak untuk dikenakan saat acara keluarga. Apalagi saat Diyo menyuruhnya berdandan dan mengenakan dress. Lagi-lagi, Alra menghela napas berat. Apa yang akan ia pakai? Haruskah memakai celana saja? Pintu terbuka, menampilkan sosok pria dengan kemeja putih dan celana warna hitam. Kemeja itu digulung sampai siku. Untuk beberapa saat Alra terpaku dengan penampilan Diyo yang tak seformal biasanya. Ganteng. "Udah?" tanya Diyo datar seperti biasanya.   Alra memberengut kesal. Apa pria yang baru saja ia puji dalam hati itu tidak punya mata? Sudah jelas Alra belum siap. Ia masih memakai handuk yang melilit tubuh mungilnya. Tunggu! Handuk? Alra terkesiap. Ia langsung menyilangkan tangannya di d**a, menatap Diyo dengan tatapan 'jangan mendekat!'. Diyo mendengus. Sudah 30 menit gadis itu selesai mandi, tapi masih belum selesai berdandan. "Pakai seadanya saja. Saya tunggu di bawah," ucapnya tak mengindahkan pergerakan Alra. Setelah melihatnya mengangguk, Diyo langsung keluar dari kamar. "Seadanya?Oke. Aku pakai ini aja," seru Alra bersemangat. Sekarang ia tengah memegang kemeja berwarna putih dan rok payung berwarna biru muda dengan motif kotak. Gadis penyuka Korea itu, memang suka memakai rok seperti itu. Alra pun mengenakannya. Rok yang panjangnya 5 cm di atas lutut itu, terasa pas ditubuhnya. Alra tersenyum senang. Ia hanya mengoleskan bedak bayi ke wajahnya, tak lupa memakai lipgloss di bibir kecilnya. "Wow. Cantik," pujinya bangga. Alra mengambil sling bag berwarna senada dengan roknya, lalu turun dari kamarnya dengan bangga. Di sana ia melihat Diyo yang asik dengan ponselnya. "Om! Gimana?" teriaknya heboh. Diyo terkesiap. Ia sangat terkejut mendengar suara lengkingan gadis itu. Diyo menoleh, dan mendapati Alra tengah tersenyum ke arahnya. Ia meneliti penampilan gadis itu. Kekanakan! Diyo berdiri, menghampiri Alra yang masih tersenyum. "Kamu enggak punya baju lain? Penampilan kamu itu terlalu kekanakan." Alra berhenti tersenyum. "Kekanakan apanya? Biasanya juga aku pakai ini kalau mau jalan sama temen,"  jawab Alra marah. Diyo menghela napas, kemudian berlalu dari hadapan gadis itu. Berdebat bukanlah hal yang patut dilakukan dengan anak kecil. Melihat itu, Alra kesal bukan main. Ia mengentakkan kakinya kesal. Dengan langkah cepat mengambil platshoes-nya  dan hendak menghampiri Diyo. Namun, suara Coco mengalihkan perhatiannya. Alra memberi makan Coco terlebih dahulu. Tak lupa megelusnya sebentar. Lalu, Alra melanjutkan langkahnya menghampiri Diyo. Langsung saja ia duduk di mobil yang memang sudah disiapkan Diyo tadi. Tak ada perbincangan di antara mereka, Alra masih kesal karena Diyo mengatainya kekanakan. Padahal Diyo yang terlalu tua untuknya .   Keduanya tiba di rumah keluarga Diyo. Di sana, sudah terparkir beberapa mobil dan juga motor. Sepertinya, ini pertemuan keluarga besar. Entah kenapa, Alra benar-benar gugup. Setelah memarkirkan mobil, Diyo turun tanpa menoleh kepada Alra, membuat Alra mendengus pelan. Dasar dingin! Ia pun keluar dari mobil dan memasuki rumah di hadapannya. Kali ini ia tidak berdampingan dengan Diyo. Di sana, tepat di ruang keluarga sudah banyak orang berkumpul, membuat kegugupan Alra semakin bertambah. Ia menggenggam roknya kuat-kuat, berusaha meredakan rasa gugupnya. Alra memasuki ruang keluarga dan ...semua orang menatap ke arahnya dengan tatapan berbeda-beda. Seketika, Alra merasa semakin gugup tak tertolong. *** "Jadi ini istrinya Diyo? Kelihatan masih muda, ya? Umurmu berapa?" tanya seorang wanita berusia empat puluhan. Alra tidak mengenali wanita itu, dan tak merasa pernah bertemu dengannya. Mungkin, wanita itu tidak hadir di pernikahannya. "Tujuh belas tahun. Masih SMA," jawab seseorang yang tampak seumuran dengan Diyo. Alra pernah melihat orang itu di acara pernikahan. "Apa?" teriak semuaorang yang memang baru tahu soal itu. "Diyo, sejak kapan kamu cinta anak kecil begini?" tanya wanita tadi tampak tak terima. Mendengar itu, Alra tertunduk malu. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Sementara Diyo diam saja. Akan tetapi, wanita itu terus mendesaknya, membuat Diyo mau tidak mau harus berbicara. "Saya dijodohkan dengannya . Kalau bukan karena itu, saya mana sudi menikahi anak kecil seperti dia." Alra yang mendengar itu menatap Diyo nyalang. Apakah ia seperti gadis penyuka om-om? "Terus Om pikir aku mau nikah sama Om?"  balas Alra. "Om? Kamu enggak punya sopan santun, ya. Masa suami dipanggil Om?" tanya yang lain. Alra diam saja. Ia kesal dan muak berada di sini. Untung saja Airin dan Beri masuk bersama seorang wanita tua. Alra yakin itu pasti nenek Diyo. Karena, semua orang seketika terdiam. Nenek itu mendekati Alra dan tersenyum, membuat kegugupan Alra berkurang. "Gimana rasanya menikah dengan Diyo? Pasti bosan, kan? Habisnya Diyo terlalu dingin," ucap nenek itu sedikit bercanda. "Enggak, kok, Nek. Om Diyo baik," balas Alra canggung. Nenek bernama Sara itu terkekeh geli. "Om?"  tanyanya. Seketika Alra gelagapan. Bahkan semua orang menatapnya dengan tatapan aneh. "Ma-maksud saya D-diyo," balasnya kikuk.   Sarah mengangguk saja. Ia pun memerintahkan semua orang untuk berkumpul di ruang makan. Di sana, seluruh keluarga besar ditambah dengan Alra, tengah makan malam diselingi canda dan tawa. "Jadi kapan kamu ngasih nenek cicit?" Pertanyaan itu membuat Alra dan Diyo tersedak. Alra melebarkan matanya terkejut. Ia melirik Diyo yang ternyata juga menatapnya. "Dia masih sekolah,"  ucap Diyo singkat. "Tapi Nenek pengin nimang cicit sebelum pergi. Kamu tahu kan umur Nenek udah enggak lama. Entah kapan penyakit Nenek ini merenggut---" ucap Sarah tak selesai karena Diyo menginterupsi. "Oke. Diyo usahain. Jangan bahas itu lagi," potong Diyo segera. Alra mendengar itu hanya mendengus. Ia mencolek Diyo, tapi tak diacuhkanolehnya. "Kalau boleh, anaknya lebih dari satu, ya. Udah enggak sabar ada penghuni baru di keluarga ini." "Dua aja. Program KB." "Dua mana cukup. Bikin yang banyak aja." "Indonesia udah terlalu padat. Mau bikin Jakarta makin macet?" Alra benar-benar ingin menenggelamkan diri sesegera mungkin. Percakapan soal anak benar-benar terasa aneh untuk gadis berusia 17 tahun. Sepulang dari acara keluarga yang menguras hati itu, Alra langsung menatap Diyo nyalang, mempermasalahkan ucapannya tadi. Diusahakan? Mengusahakan apa? Alra benar-benar kesal sekarang. "Om?" panggilnya tak. Diyo menoleh dengan malas. Hanya menatap gadis itu dengan tatapan bertanya, Alra sudah mengerti. "Maksud Om apa bilang kayak gitu tadi? Om kan tahu aku masih SMA. Aku masih harus mengejar mimpi. Mengejar cita-cita. Dan punya anak cepet enggak termasuk di dalamnya. Harusnya kalau pengin punya anak, Om itu enggak nikah sama anak SMA kayak aku. Harusnya Om itu nikah sama yang seumuran." Alra menghentikan ocehannya untuk menatap Diyo sejenak. Diyo menatapnya malas dan bosan. "Udah?" tanya Diyo malas melihat gadis itu. Alra gelagapan. Ia mengangguk polos. "Kalau gitu saya mau tidur," ucap Diyo, lalu meninggalkan Alra yang masih terpaku. Suaminya itu ternyata tidak mendengarkannya sejak tadi.   Apa Diyo pikir berbicara panjang lebar itu tidak capai? Dengan wajah kesal, Alra berlari ke kamar, sialnya, Diyo sudah terlelap. Bagaimanapun juga, Alra masih memiliki sisi sopan dalam dirinya untuk tidak mengganggu tidur orang yang lebih tua. Meski masih kesal, Alra memilih tidur di samping Diyo. Akan tetapi, pikirannya melayang pada ucapan Diyo tadi. Bukan soal anak, melainkan tentang Diyo yang bilang bahwa dia tidak sudi menikahinya. Alra merasa terhina. Seolah ia adalah sampah masyarakat. Apakah selama ini Diyo menganggap Alra sehina itu? Kata tidak sudi benar-benar menyakitkan. Namun, Alra memilih tak peduli. Ia turun dari ranjang dan pergi ke lantai bawah. Di sana, Alra melihat Coco yang meringkuk di atas sofa. Ia mengelusnya sebentar, lalu menggendongnya menuju kamar. Dibaringkannya Coco di sebelahnya, dan memeluknya erat seperti memeluk guling. Good night, Om. Good night, Coco. *** Alra tidak menyangka bahwa ayah dan bundanya akan datang mengunjunginya. Tentu saja sangat senang. "Ayah! Bunda!"  teriaknya seraya berlari menghampiri keduanya . Diah dan Arya terkekeh pelan melihat putri kecilnya itu. Mereka balas memeluk. "Tumben Bunda datang sama Ayah. Mau ngapain?" tanya Alra. Saat ini, ketiganya sedang duduk santai di ruang tamu. Sementara Diyo masih di kantor. "Mau ngajak kamu belanja. Mau enggak?" tanya Diah seraya tersenyum. Alra mengangguk senang. "Mau, Bun. Bentar, aku ganti baju dulu." Tak butuh waktu lama, Alra sudah siap dengan kaos putih agak kebesaran, dipadukan celana jeans semata kaki. Penampilannya sederhana, tapi tak membuat kadar keimutan Alra berkurang. Setidaknya begitulah pikirnya. "Udah siap?" tanya Arya seraya merangkul putrinya. Alra mengangguk semangat. Tidak sabar rasanya pergi jalan-jalan dengan orangtuanya. "Tapi kita masih kurang satu orang lagi," ucap Diah, menghentikan langkah anak dan suaminya yang kini tampak bingung.. "Siapa lagi, Bun?" "Suami kamu, Sayang. Dia lagi jalan ke sini." Mendengar itu membuat Alra lesu. Ia tak ingin ada orang lain di antara mereka. Selain itu, Alra sedang kesal pada Diyo. Itu akan membuatnya tak nyaman. "Harus banget, ya Om Diyo ikut?"  tanya Alra kesal. Diah tersenyum menanggapi. Lalu mengajak keduanya ke luar. Lebih baik menunggu di luar saja. Tak berapa lama, mobil Diyo sudah berhenti di depan rumah. Ia melihat keluarga kecil itu tengah menatapnya. Lalu Diyo memberi isyarat untuk menunggunya sebentar karena ia akan menyimpan mobil ke garasi terlebih dulu. Setelah selesai, Diyo menghampiri mereka. "Ayo!" ajaknya. Ketiganya mengangguk, lalu masuk ke mobil Arya. Di samping Arya yang tengah menyetir,  ada istrinya, dan di belakang ada Alra serta Diyo yang tidak saling menatap. Arya ternyata membawa mereka ke sebuah supermarket. Setelah parkir, keempatnya keluar. Alra tersenyum, lalu menggandeng tangan bundanya untuk segera masuk. Sementara Arya memilih berjalan di sebelah Diyo yang sedikit lebih tinggi darinya. Keduanya menatap Diah dan Alra yang sekarang tengah sibuk memilih bahan-bahan masakan. "Saya tahu kamu tidak senang dengan pernikahan ini," ucap Arya membuka suara. Diyo tak tahu harus merespons bagaimana. Alhasil, ia memilih diam dan mendengar kelanjutan ucapan Arya. "Saya sebenarnya juga berat harus menikahkan putri saya," lanjut pria beranak satu itu. Ia melirik Diyo yang ekspresinya tidak berubah sama sekali. "Saya percaya kamu bisa menjaganya selama saya dan istri saya tidak di sini." "Kalau Anda keberatan dengan pernikahan ini, kenapa melakukannya? Hanya karena perusahaan?" tanya Diyo datar. Ia benar-benar tidak paham dengan jalan pikir pria di sebelahnya. Diyo bisa mendengar helaan  napas Arya, seolah memiliki beban  yang sangat berat. "Begitulah. Sebenarnya ini bukan tentang perusahaan saja, tapi---" Ucapan pria itu terpotong tatkala tiba-tiba Alra memeluknya. "Ayah, ayo ke sana!" ajak Alra seraya menarik tangan Arya. Diyo hanya terpaku di tempatnya. Di sini, ia seperti orang asing. *** "Bunda mau ngomong sesuatu sama kamu," ujar Diah membuka pembicaraan. Sekarang kedua pasutri itu tengah makan di salah satu restoran. "Apa, Bun?" tanya Alra tetap memfokuskan diri pada makanan di depannya. Diah menghela napas pelan. Ia bingung harus menjelaskannya mulai dari mana. Arya yang melihat itu mengelus tangan istrinya, memberi kekuatan. "Bunda sama Ayah," ucap Bunda, lalu menatap putrinya yang sekarang masih sibuk makan. Sepertinya gadis itu sangat kelaparan. "Besok kami pergi ke Singapura---" Belum selesai Diah menyelesaikan ucapannya, suara batuk putrinya langsung mengalihkan semua perhatian. Diyo yang memang duduk di samping Alra, langsung menyodorkan air. "Kok tiba-tiba sih, Bun?!" tanya Alra kesal.   Arya berdeham sebentar. Ia sudah tahu reaksi putrinya akan seperti itu. "Sayang, sebenarnya ini enggak tiba-tiba. Cuma, ya … Ayah sama Bunda menunggu waktu yang tepat buat bilang ke kamu. Lagipula, ini bukan pertama kalinya Ayah sama Bunda ninggalin kamu, kan?" ucapnya lembut. Alra menghela napas. Benar juga yang dikatakan ayahnya. Ini bukan pertama kali. "Cuma dua minggu, kan? Kayak biasanya?"  tanya Alra lagi. Mendengar pertanyaan itu membuat Diah dan Arya terdiam bingung. Tidak tahu harus menjawab apa. Diyo yang sejak tadi menjadi pendengar setia akhirnya membuka suara. "Kamu pikir, membangun sebuah perusahaan dari nol hanya butuh waktu dua minggu? Minimal dua atau tiga tahun." Alra membelalak kaget. "Serius?" teriaknya heboh. Meja makan mereka menjadi pusat perhatian semua orang. Diah dan Arya mengangguk mengiakan. Hal itu membuat Alra terdiam sejenak. "Harus pergi?"  tanyanya lemah. "Kan sudah ada Diyo, Sayang. Dia pasti jaga kamu," ujar Diah menenangkan. "Om Diyo aja enggak mau ngomong sama aku, Bun. Gimana mau jagain?" ucap Alra dengan suara pelan, menahan tangis. Dia memang semanja itu. Akan tetapi, ditinggalkan selama 2-3 tahun oleh orang tersayang memang menyakitkan. Mendengar penuturan putrinya, Arya dan Diah lantas menatap Diyo yang melongo. Kali ini ia tidak berhasil mengontrol ekspresinya. "Dengar, saya bukannya tidak mau berbicara. Hanya saja, apa yang Alra ucapkan tidak pernah penting," ucap Diyo. "Enggak penting gimana? Om pikir aku gila ngomongin yang enggak penting?" balas Alra kesal seraya menatap Diyo dengan tatapan judes. Diyo hanya mendengus, lalu melanjutkan makannya dengan santai. Alra melihat itu semakin kesal. Dia beralih ke orangtuanya yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan bingung. "Tuh kan. Lihat Bun, Om Diyo enggak mau ngomong. Di rumah juga selalu kayak gitu. Alra jadi berasa tinggal sama manekin," ucapnya mengadu. "Manekin?" tanya Diyo dengan nada rendah. Namun menyeramkan. "Iya manekin. Cuek, dingin, ngomongnya aja dua kata mulu" "Sudahlah. Berbicara juga tak ada gunanya," kata Diyo pada akhirnya. " Kalian sudah selesai?" tanya Arya setelah cukup lama terjadi keheningan.   "Pokoknya Bunda sama Ayah besok berangkat. Kamu enggak perlu antar, takutnya nanti kamu nangis-nangis di bandara kayak waktu itu," ucap Diah. Nadanya tegas, tidak lagi lembut seperti biasanya. Alra sadar, membantah bukanlah hal yang harus dilakukannya sekarang.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN