Alra Imut

978 Kata
“Aku boleh ngerawat anjing ini, ya, Om?" "Enggak." Alra memberengut kesal. Sudah lima menit ia berusaha membujuk Diyo yang sekarang sedang memasak. Ia mengikuti ke mana Diyo bergerak, seraya menggendong anak anjing itu. "Tapi kenapa enggak bisa sih, Om?" Alra masih berusaha untuk membujuk, sambil tangannya mengelus anak anjing itu. Diyo menunduk menatap Alra. Ia menghela napas sebelum akhirnya berucap dengan pelan. "Saya benci anjing." Alra membelalakkan matanya. Bagaimana mungkin ada orang yang benci dengan hewan seimut ini? Alra tak habis pikir. "Anjing kan imut. Gimana Om bisa benci?" "Saya enggak suka yang imut-imut," jawab Diyo ketus. Memangnya ia anak gadis baru puber, yang suka mengoleksi benda imut? Membayangkannya saja membuatnya bergidik ngeri. Sementara Alra yang mendengar itu, lantas refleks memegang lengan kekar Diyo. "Pantasan," ucapnya lirih, tapimasih dapat didengar Diyo. "Apa?" "Pantas Om benci sama aku, dingin sama aku. Ternyata Om enggak suka sama yang imut-imut. Soalnya aku kan imut," ucap Alra dengan nada polos. Ia mengerjab-ngerjabkan matanya seimut mungkin. Tak lupa bibirnya tersenyum aneh. Hal itu membuat Diyo segera melepas tangan Alra dari lengannya. "Jauh-jauh dari saya." Alra mengerucutkan bibirnya. Kesal dengan pria yang sekarang fokus memasak makan malam itu. Alra menarik napas, mengumpulkan tenaga. "Enggak peduli. Pokoknya aku bakal rawat Coco!" *** "Coco ngantuk?" Anjing  bernama Coco itu mulai menutup mata. Sepertinya merasa nyaman dibelai oleh tuannya. Sedangkan Diyo diam saja, membiarkan gadis itu melakukan apa yang ia mau. Alra menghela napas. Coco benar-benar tertidur pulas di pangkuannya. Ia menggendong Coco dan hendak membawanya ke kamar. Diyo yang melihat itu membelalakkan matanya. "Mau ke mana?" "Kamar, Om. Mau tidur." "Anjing itu dibawa juga?" "Iya." Diyo memijit pelipisnya. Serius? Bagaimana mungkin ia tidur seranjang dengan anjing? "Tidak boleh." Alra yang mendengar itu kesal. "Kenapa enggak boleh?" "Pokoknya tidak bisa. Harusnya kamu senang, saya tidak lagi mempermasalahkan kamu merawat anjing itu." "Tapi, Om--- " "Tak ada tapi-tapian." Setelah mengucapkan itu, Diyo langsung beranjak dari hadapannya. Alra merasa sangat dongkol karena hal itu. Pada akhirnya meletakkan Coco di sofa. Di sana juga nyaman, pikirnya. Alra beranjak menuju kamar, seraya memasang muka ngambek andalannya. Tidak tahu bahwa seorang Diyo tak pernah peduli tentangnya. Dengan kasar Alra langsung mengempaskan tubuhnya di kasur, berusaha mengusik Diyo. Namun, Diyo sama sekali tak peduli. Ia tetap tenang mengabaikan sifat kekanakan gadis belia di sampingnya itu. Hal itu semakin membuat Alra kesal. Ia akan langsung tidur kalau saja ponselnya yang diletakkan di atas nakas tidak bergetar.  Dengan malas, Alra mengambil ponselnya. Akan tetapi, saat membaca nama yang tertera sebagai pemanggil, ia senang bukan main. Wajah kesalnya tergantikan binar bahagia. "Halo," sapanya halus. "Ini udah mau tidur kok." "...." "Hmm kayaknya jangan, deh. Aku biasanya ada yang jemput. Lain kali aja, ya?" "...." "Nice dream too, Oppa." Alra mematikan telepon. Ia tersenyum senang. Bahkan tanpa sadar bergoyang-goyang di atas kasur mengekspresikan kebahagiaanya, dan semua itu tak luput dari penglihatan Diyo. Apa itu pacarnya? "Diam!" sentak Diyo akhirnya. Alra yang mendengar langsung berhenti bergerak. Ia mengambil bantal yang menghalangi pandangannya. Saat itulah matanya dan mata Diyo bertemu,membuat keduanya salah tingkah. Namun, Alra langsung membuka pembicaraan. "Kalau aku pacaran, Om ngizinin enggak?" tanyanya hati-hati. Mendengar itu Diyo, merasa kesal. Ia menatap Alra dingin, membuat jantungnya berdetak semakin cepat dari yang seharusnya. "Kamu anggap saya apa?" *** "Lo gila apa gimana?" Alra menutup telinganya refleks saat Elis berteriak di depannya. "Santai dong." "Gimana mau santai sih, Al. Mana ada coba istri yang minta izin ke suaminya buat pacaran? Cuma lo," ucap Elis berapi-api. Alra sudah menceritakan kejadian malam itu kepada kedua sahabatnya. Bahkan sebelum cerita usai, Elis langsung memotong cerita Alra dan berteriak di depannya. "Terus gimana? Gue enggak mau dicap 'istri tukang selingkuh'. Makanya gue izin dulu sama Om Diyo." Elis dan Marta menghela napas kesal. Ingin rasanya memukul kepala sahabatnya ini, tapi takut dosa. "Gini ya, Al. Kalau lo enggak mau dicap selingkuh, mending enggak usah pacaran sama siapa pun. Emang suami lo ngizinin lo buat pacaran?"  tanya Marta berusaha sabar. Di antara ketiganya, ia yang paling dewasa dan berpikir rasional. Mendengar itu Alra terdiam. Ia menghela napas berat. Jujur, ia bingung bagaimana menafsirkan perkataan Diyo malam itu. Bahkan, paginya saat sarapan dan di dalam mobil, sikap Diyo lebih dingin dari biasanya. Hal itu tentu membuat Alra bingung sendiri. "Diizinin enggak?" tanya Marta gemas karena Alra terdiam. "Enggak tahu. Waktu gue tanya dia bilang gini, 'Kamu anggap saya apa?'," ucap Alra dengan menirukan suara Diyo, meskipun tidak mirip sama sekali. Mendengar itu, Elis dan Marta saling pandang dan tersenyum penuh arti. "Wah gila. Lo beneran enggak tahu maksud suami lo itu apa?"  tanya Elis. Alra menggeleng polos, membuat kedua temannya gemas. "Itu artinya dia enggak pengin lo pacaran. Kayaknya dia udah suka sama lo," terang Elis semangat. Alra terdiam mendengar itu, berusaha meresapi. Sebelum akhirnya ia tertawa terbahak-bahak, membuat kedua temannya bingung. "Hahaha. Ya enggak mungkinlah. Dia udah jelas-jelas bilang kalo dia enggak doyan sama gue." *** Diyo menghela napas kasar. Bagaimana mungkin ia mengatakan hal itu? Seolah-olah tengah melarang gadis itu berpacaran. Padahal, tak pernah peduli pada apa pun yang dilakukan gadis itu. Akan tetapi, kenapa pertanyaan bernada polos itu membuatnya kesal? "s**t," umpat Diyo pada dirinya sendiri. Diyo merasa butuh mendinginkan pikirannya. Ia hendak beranjak dari ruangannya, kalau saja ponselnya tidak bergetar. Ternyata ibunya menelepon. Dengan cepat Diyo mengangkatnya. "Kamu di kantor?" "Iya." "Nanti malam kamu ke rumah. Ajak istri kamu juga." "Buat apa?" tanya Diyo bingung. "Ada yang mau diomongin. Ini pertemuan keluarga. Bukan cuma, kita tapi sepupu-sepupu kamu juga. Lagipula, lusa Mama, Papa, dan mertua kamu akan berangkat. Jadi, malam ini kita bisa habiskan waktu bersama. Sudah, ya. Kamu harus datang. Suruh juga Alra berdandan." "Iya, Ma." Diyo menjawab lesu. Ia paling benci menghadiri acara keluarga seperti ini. Biasanya, dua hari sebelum acara, ibunya akan mengabari. Di situlah Diyo akan mencari alasan, bahwa ia harus bekerja lembur. Akan tetapi,dia tidak bisa membuat alasan mendadak untuk sekarang.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN