Pertemuan Pertama

1331 Kata
"Sayang, sudah siap dandannya?” Teriakan wanita dari luar kamar menggema,sampai ke telinga Alra yang sedang memakai sepatu kets putihnya. Gadis itu membuka pintu setelah selesai dengan urusannya. “Sudah, Bun. Ya, udah. Ayo, berangkat!” Bukannya mengikuti, wanita tadi tetap diam seraya meneliti penampilan putrinya. Kemeja polos berwarna putih dipadukan celana jeans hitam. Melihat itu, Alra kembali memandang dirinya dari atas ke bawah. Tidak ada yang salah sama sekali, menurutnya. “Kenapa, Bun?” Sang bunda tak menjawab, justru menarik Alra menuju kamarnya. Alra menurut saja menerima perlakuan itu. Sesampai di sana, bunda membuka lemari pakaian yang di dalamnya terdapat banyak gaun. Dia mengambil satu gaun selutut berwarna pink, lalu mendekatkannya ke arah Alra. Gadis itu terkejut, spontan menjauh. “Alra enggak mau pakai begituan.” “Kamu harus pakai gaun, Sayang. Ini, kan, pertemuan dengan calon suami kamu. Di sana juga ada calon mertua kamu. Jadi, harus tampil cantik.” Bunda kembali mendekatkan gaun itu ke arahnya yang langsung diambil oleh Alra. Bukannya segera memakai gaun itu, dia justru menaruhnya kembali ke dalam lemari dan membuat Bunda bingung. Saat hendak bertanya, Alra lebih dulu berucap, “Alra pakai yang ini saja.” Alra memegang dress selutut berwarna putih. Tanpa meminta persetujuan dari bundanya, dia segera memakainya. “Bagaimana? Cocok?” Bunda mengangguk. Putri kecilnya memang cantik, bahkan sebelum mengenakan dress itu. “Baiklah. Kita berangkat. Ayahmu pasti sudah menunggu di bawah.” Keduanya keluar menemui sang ayah yang ternyata sudah berada di dalam mobil. Ayah tersenyum, lalu mengisyaratkan keduanya agar lebih cepat. *** Salah satu meja di restoran mewah itu telah diisi oleh enam orang: orangtua Alra, calon suaminya, dan calon mertuanya. Mereka baru saja tiba dan segera menduduki bangku yang kosong. Sekarang, Alra duduk berhadapan dengan pria yang akan jadi suaminya. Ia mengamati pria itu lekat-lekat. Sepertinya, si pria merasa tidak nyaman ditatap demikian. Pria itu menatap Alra tajam, membuatnya tersenyum canggung. “Kenalan dulu, dong,” ucap seorang wanita yang diyakini Alra adalah ibu pria di depannya ini. Alra tersenyum seraya mengangguk, ia segera mengulurkan tangan kanannya ke arah pria di depannya. = Bukannya segera menerima jabat tangan, ia hanya menatap tangan mungil itu dengan dingin. Alra mulai canggung. Saat ia akan menarik tangannya kembali, pria di depannya itu lebih dahulu menyambarnya. “Diyo,” ucapnya datar dan dingin. Tatapannya lurus pada Alra, membuatnya terasa terintimidasi. “Alra,” balas gadis itu tersenyum canggung. Ia segera melepas jabatan tangannya. Dalam hati dia berteriak marah pada bundanya. Dari segi mana pun, pria itu tak mirip dengan Oppa sama sekali . Ia kesal karena sang bunda sudah membohonginya. Saat Alra hendak memprotes, ucapan dari ayah Diyo malah membuatnya hampir tersedak. “Pernikahan akan dilaksanakan secepatnya. Mungkin dua minggu lagi.” “Tapi---” Ucapan Alra terpaksa terhenti karena ayahnya segera menyela, “Baik. Lebih cepat lebih baik.” Alra tentu saja terkejut. Ia masih anak SMA. Itu berarti, setelah dua minggu maka dia bukan lagi berstatus lajang. Ia hendak berkomentar. Namun, genggaman tangan bunda di bawah meja, membuatnya mengurungkan niat. Ia menoleh dan mendapati bundanya menggeleng seraya menatap Alra sendu. Alra mengerti, tu artinya dia harus diam. Selama hampir 2 jam kedua keluarga itu berbicara. Meskipun lebih didominasi oleh kedua pasang orang tua itu. Satu hal yang Alra tahu, bahwa pernikahan ini akan tetap terjadi,sekalipun ia berusaha menolak. Alra merasa demikian ketika mendengar ucapan dari calon papa mertuanya beberapa saat lalu. “Persiapan pernikahan sudah tujuh puluh lima persen, tinggal menyebar undangan dan fiting baju. Untuk sampul undangan, mungkin pengantin harus melakukan foto pra-wedd. Habis itu sudah, semua beres.” Alra menghela napas. Dia kira, ini hanya semacam perjodohan biasa. Hari ini hanya menggelar tunangan dan pernikahannya diadakan beberapa tahun kemudian atau hanya sekadar perjodohan─ dia masih bisa menolak. Entah kenapa, Alra jadi menyesal telah datang ke tempat ini. Bagaimana mungkin dia menikahi pria yang baru ditemuinya? Bahkan tidak tahu berapa usia pria di depannya itu. Dia hanya tahu namanya. Diyo. Tanpa sadar Alra menatap Diyo lekat, membuat yang ditatap merasa risi dan menatap Alra tajam. Namun, bukannya mengalihkan tatapan dari Diyo, Alra justru menatapnya semakin lekat, berusaha menebak usia pria itu. “Apa?” Gertakan itu membuat Alra tersadar. Sekarang semua orang di meja menatap ke arahnya. “Enggak ada apa-apa, kok. Aku hanya ingin tahu umur kamu berapa,” jawab Alra setenang mungkin. Ia berusaha menutupi kegugupannya dengan selalu memasang senyum yang baru disadari oleh tiga pasang mata, bahwa Alra memiliki lesung pipi. “Loh, kamu punya lesung pipi? Jadi, makin cantik. Iya,kan, Yo?” Diyo menatap Alra yang memasang senyum malu-malu menerima pujian itu. Melihat sikap Alra yang begitu kekanakan, Diyo berdecak pelan seraya berucap, “Biasa aja.” Alra berhenti tersenyum, menoleh ke arah Diyo yang menatapnya tanpa ekspresi. Dalam hati ia merutuki pria di depannya. Setelah rasa kesalnya mereda, Alra lantas bertanya hal yang sejak tadi membuatnya penasaran. “Umur kamu berapa?” Diyo menatap Alra dingin, sama sekali tak berniat menjawab pertanyaan itu. Mamanya yang melihat itu mencolek lengan putranya. “Jawab, dong. Calon istri kamu nanya.” Diyo menatap malas gadis di depannya. Dengan tanpa ekspresi ia menjawab, “Dua sembilan.” “Apa?” Alra kaget. Benarkah, ia akan menikah dengan pria berusia 29 tahun? Pria yang usianya 12 tahun kebih tua darinya? Bunda mencolek lengan putrinya. “Kenapa teriak? Lihat, kita jadi pusat perhatian sekarang.” Mendengar ucapan bunda, ia tersadar dari keterkejutan dan. segera menoleh ke sekitar. Benar saja, meja mereka saat ini menjadi pusat perhatian. “Kamu enggak apa-apa, kan?” tanya mama Diyo. Alra tersenyum seraya menggeleng. “Aku hanya kaget, Tan. Enggak nyangka aja kalau Diyo─eh,” Alra menggeleng, seolah-olah ucapannya tadi salah. “Maksud aku Om Diyo. Kalau Omumurnya sudah menginjak dua puluh sembilan.” Mama Diyo tersenyum, begitu pun papanya. “Emang dia kelihatan muda, ya? Kayak umur dua puluh tahun gitu?” ucap mama Diyo bermaksud bercanda. Meja itu dipenuhi tawa kecuali Diyo. Ia benci situasi ini, apalagi saat melihat tawa gadis di depannya yang seolah-olah tanpa beban. Tidak tahukah dia, bahwa Diyo tengah menahan geram sekarang? Setelah tawa itu mulai reda, mama Diyo kembali berucap, “Oh, iya, kamu jangan panggil Tante lagi. Panggil Mama saja, dan Om Beri panggil Papa. Oke?” Dengan senyum yang menghias pipinya Alra mengangguk. “Oke, Ma.” *** Sepulang dari pertemuan keluarga, Alra segera merebahkan diri di kasur kesayangannya. Ia mulai berpikir ke depan. Dua minggu lagi dia bukan lagi seorang Alra Anastasia, putri dari pasangan suami istri Aryan Arasta dan Diah Melenisa, melainkan seorang istri dari Diyo. Sepertinya, ia akan menikah dengan pria yang nama panjangnya saja tidak diketahui. Alra tersenyum miris. Dua minggu lagi dia akan memiliki kehidupan berbeda, entah lebih baik atau lebih buruk. Menjadi istri pria tua tidak pernah terlintas di pikirannya. Akan tetapi, sekarang ia harus menikahi pria tua? Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Dengan segera ia berdiri. Langkah kaki panjang dan cepat dipakai untuk segera menuju kamar orang tuanya. Ia membuka pintu dan ternyata kosong. Alra turun ke lantai satu dan mendapati kedua orang tuanya masih menonton sinetron di salah satu stasiun TV. Melihat putrinya datang, bunda bertanya,”Ada apa, Nak?” “Bunda, Alra enggak mau menikah sama om-om. Udah dingin, cuek, sok cool lagi. Dia enggak mirip Oppa. Pokoknya Alra enggak mau.” Alra menangis tanpa sadar. Segera Bunda beranjak dan menenangkan putrinya itu, sementara ayahnya diam saja menyaksikan. Ia tersenyum miris, merasa gagal menjadi seorang ayah. *** Sementara itu, di tempat Diyo suasana begitu mencekam. “Saya setuju menikah, tapi bukan berarti dengan anak kecil.” Beri menghela napas lelah. “Lalu? Papa pernah nyuruh kamu nikah, tapi enggak mau. Setelah Papa jodohin dengan anak teman Papa, kamu mau menolak. Jadi, mau kamu apa?” Diyo tersenyum sinis. “Dulu waktu saya hendak menikah, Papa sendiri yang melarang.” “Wajar Papa melarang. Dia enggak layak jadi istri kamu.” Mendengar itu, Diyo semakin tersenyum sinis. Tatapannya sendu, bahkan berkaca-kaca. Tanpa bersuara lagi, dia beranjak pergi, meninggalkan papa dan mamanya yang hanya menatap keduanya miris.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN