Foto Pra-Wedding

1840 Kata
"Alra bangun! Nanti kamu telat sekolah,” ujar Diah seraya menggoyang tubuh putrinya pelan. Bukannya bangun, Alra hanya menggumam tak jelas, lalu kembali bergelung dengan selimut nyamannya. Diah yang melihat itu berdecak kesal. Padahal ini bukan pertama kalinya. Dengan senyum jail yang tercetak di wajahnya yang mulai keriput, Diah mengambil gelas berisi air yang ada di atas nakas. Ia langsung menyiramkan setengah dari isi gelas itu ke wajah Alra. “Banjir!” teriak Alra terkejut. Alra seketika terduduk, lalu mengusap wajahnya yang sudah basah. Diah terkekeh-kekeh melihat tingkah putrinya. Tak peduli wajah Alra yang sudah memasang tampang kesal. “Enggak bisa, ya, banguninnya dengan cara lembut?” tanyanya pada Diah yang masih tersenyum. “Sudah, nanti aja ngomongnya. Sekarang kamu mandi. Sudah jam tengah tujuh.” “Apa? Kenapa baru dibangunin, sih,Bun?” Alra langsung berlari menuju kamar mandi. Diah menatap pintu kamar mandi yang baru saja dimasuki putrinya itu seraya tersenyum miris. Hanya butuh waktu lima belas menit bagi Alra untuk bersiap ke sekolah. Ia menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Pasalnya, ini adalah hari Senin, yang berarti ia harus berangkat lebih cepat dari biasanya. Diah yang melihat itu menegur putrinya untuk berhati-hati, yang hanya dibalas Alra dengan cengiran. “Sarapan dulu sini,” ajak Arya. Alra menggeleng. “Enggak sempat, Yah. Alra mau langsung berangkat aja,” Ia mengambil roti yang memang sudah bundanya siapkan. “Dah!” tambahnya sambil mencium pipi ayah dan bundanya, *** “Tumben lo telat tadi. Bahkan gue kira lo enggak sekolah,” ujar Elis kepada Alra yang duduk di sampingnya. “Ya, begitulah. Bunda gue banguninnya lama,” jawab Alra santai. Elis dan Marta, kedua sahabatnya, langsung tertawa terbahak-bahak. Hal itu membuat Alra langsung menyadari bahwa ia sudah melakukan kesalahan dengan mengungkap aib sendiri. “Maksudnya itu, tadi─hm” Alra bingung menjelaskan. Ia menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali. “Ish, udah, dong,” rajuknya kesal melihat sahabatnya masih saja menertawakannya. Elis dan Marta mulai meredakan tawanya. “Ya, ampun. Jadi selama ini, lo dibangunin sama nyokap? Di umur lo yang udah tujuh belas tahun? Serius lo?” ujar Marta, setelah tawanya benar-benar reda. Elis hampir saja kembali tertawa, sebelum ia melihat Alra menatapnya tajam. Alra diam saja. Ia tak lagi berniat menjawab pertanyaan Marta tadi. Elis dan Marta yang melihat Alra diam menjadi merasa bersalah. “Maaf, Ra. Kita enggak bermaksud nyinggung lo. Kita cuman becanda, kok,” ujar Elis, Marta mengangguk dan menatap cemas. Alra menggeleng. “Bukan karena itu, kok. Gue cuma lagi ada masalah. Tapi, enggak bisa gue kasih tahu sama kalian sekarang.” Elis dan Marta mengangguk mengerti. “Kita emang temenan, tapi privasi itu juga harus ada.” *** Diyo baru saja tiba di kantornya. Sepanjang perjalanan menuju ruangannya di lantai 19, seluruh karyawan menyapanya ramah. Bahkan beberapa karyawan wanita berteriak, melihat bos mereka yang terlihat semakin tampan setiap harinya. Saat akan memasuki ruangannya, sekretarisnya segera mendekat. Meskipun sekretaris itu memiliki wajah manis ditambah tubuh tinggi dan berisi, Diyo sama sekali tidak menaruh minat terhadapnya. “Pagi, Pak.” “Pagi.” “Nanti jam tiga sore Bapak ada rapat dengan klien,” jelas sekretaris itu tanpa sedetik pun mengalihkan tatapannya dari Diyo. Diyo mengangguk singkat. “Oh, iya, tadi Ibu Anda menelepon saya. Katanya, Bapak punya janji pribadi dengan Alra Anastasia.” Mendengar nama itu, Diyo langsung menatap sekretarisnya. “Jam sepuluh,” tambah sekretaris. Diyo kembali mengangguk. Mungkin, ia harus segera menghubungi mamanya nanti. Saat akan memasuki ruangan, sekretaris itu menahannya lagi. “Pak.” “Hm, apa lagi?” “Alra itu siapa?” tanya sekretarisnya hati-hati. “Bukan urusan kamu,” jawab Diyo dingin. *** Tepat jam sepuluh, Diyo segera beranjak untuk menjemput Alra di sekolahnya. Sebelumnya, mama Airin sudah memberitahu soal pertemuan pribadi yang dimaksud tadi. Airin juga langsung mengirimkan alamat sekolah Alra. Diyo menghela napas lelah. Di depannya, ia melihat gerbang sekolah yang memang ditutup, supaya tidak ada siswa yang kabur. Ia membunyikan klakson yang langsung membuat satpam menghampirinya. Setelah mengatakan maksud dan tujuan kedatangannya, pak satpam dengan name tag Bujo itu langsung membukakan gerbang. Diyo memarkirkan mobilnya terlebih dahulu. Ia menuruni mobil, tapi s**l, saat akan menginjakkan kaki di lantai sekolah, bel tanda istirahat berbunyi. Diyo berdecak kesal. Ia paling benci keramaian. Sepanjang perjalanan menuju ruang piket, seluruh siswa terutama siswa perempuan menatapnya bingung dan kagum. Memangnya, siapa yang bisa menolak pesona seorang Diyo Geovano? *** “Alra Anastasia? Maksud Bapak siswi kelas sebelas IPA tiga?” tanya guru piket yang tengah bertugas berusaha memperjelas siapa murid yang dimaksud. Diyo bingung harus menjawab apa. Pasalnya, ia tidak tahu calon istrinya ini berada di kelas mana. Namun, mengingat usianya yang sudah menginjak 17 tahun, pasti berada di kelas 11. “Iya,” jawab Diyo sedikit ragu. Guru piket itu mengangguk lalu mengambil surat izin meninggalkan sekolah. Ia mengisinya, lalu memberikannya pada Diyo. “Anda bisa menunggu sebentar di sini. Saya akan memanggilnya dulu.” Diyo mengangguk dan duduk di kursi yang tersedia di sana. “Panggilan kepada Alra Anastasia kelas sebelas IPA tiga untuk segera menuju meja piket”. Suara itu bergema di seluruh sekolah. Alra dan kedua temannya pun mendengarnya. Ketiganya bingung, terutama Alra. Saat ini mereka baru saja tiba di kantin. “Ra, ada apaan lo dipanggil?” tanya Marta. Alra menggeleng bingung. Ia pun tidak tahu alasan namanya dipanggil. “Mending, lo langsung ke sana, deh. Siapa tahu ada yang penting?” timpal Elis memberi solusi. “Temenin gue, ya?” ajak Alra seraya menarik kedua tangan temannya. Marta dan Elis sedikit kesal, padahal keduanya sudah sangat lapar karena berkutat dengan rumus selama belajar. Pada akhirnya mereka pergi menuju meja piket. Sesampainya di sana, Alra mematung tak percaya, melihat pria yang baru semalam dia temui. Mata mereka bertemu, tapi, hanya sesaat, karena Alra langsung mengalihkan tatapannya. “Alra kenapa dipanggil, Pak?” Bukan Alra yang bertanya, melainkan Elis yang memang memiliki tingkat keingintahuan yang tinggi. “Ada yang mencarinya. Nah, kamu bisa langsung ambil tas kamu di kelas. Surat izin sudah ada,” ucap guru piket itu menatap Alra yang sedari tadi diam. Mendengar penuturan guru itu, membuat Alra bingung. Ia beralih menatap Diyo. “Ada apa, Om?” “Kita ada urusan sebentar,” jawab Diyo seadanya. “Om? Ra, sejak kapan lo punya Om ganteng kayak dia?” tanya Elis yang diangguki juga oleh Marta. Alra gelagapan, tak tahu harus menjawab apa. “Emm, itu, dia─” “Siapa?” desak Elis. “Cepat! Kita tidak punya banyak waktu.” Ucapan Diyo itu membuat Alra segera pergi. Syukurlah bisa lepas dari pertanyaan Elis. *** “Om, kita ngapain ke sini?” tanya Alra setibanya mereka di sebuah tempat pemotretan. Diyo tak menjawab. Pria itu keluar dari mobil dan masuk ke tempat itu. Alra yang merasa diabaikan hanya bisa memberengut kesal. Ia juga ikut masuk ke tempat tersebut. Betapa kagetnya dia saat matanya melihat sang bunda di sana tengah tersenyum ke arahnya. Diah melambaikan tangan, menyuruh Alra mendekat. “Oke. Kalau gitu, kita bisa mulai pemotretannya. Tapi kamu ganti baju dulu, ya, di ruang ganti,” ucap Diah saat putrinya sudah berdiri di depannya. Alra menurut saja. Meskipun ingin bertanya, tapi terpaksa ia urungkan. Di sini juga ada calon ibu mertuanya yang entah kenapa membuatnya merasa canggung dan malu. “Kamu juga Diyo. Ganti baju sana!” Diyo dan Alra berjalan menuju ruang ganti. Saat Alra tiba di dalam ruangan itu, ia merasa tidak nyaman. Di sana ada banyak deretan gaun dari yang polos sampai yang begitu glamour. Salah satu petugas di sana menghampirinya. “Kamu akan pakai gaun yang ini. Bunda kamu bilang, kamu suka warna biru. Jadi, ini akan cocok, kok.” Alra mengangguk. Gaun itu memang indah. Dua puluh menit waktu yang dibutuhkan Alra untuk berdandan, lebih tepatnya didandani. Saat ia melangkahkan kakinya keluar, semua orang di sana terpaku. Tak terkecuali Diyo. Alra mengenakan gaun yang ujungnya bahkan menyentuh lantai seperti diseret. Gaun berwarna biru muda itu begitu pas di tubuh mungilnya. Gaun itu sederhana, hanya dihiasi aksen bunga mawar yang juga berwarna biru, tapilebih gelap. Rambutnya digerai, bagian ujungnya dikeriwil, menambah kesan bak putri raja. Alra tersenyum pada semua orang. Tentu saja dibalas dengan senyuman juga oleh semuanya, kecuali Diyo yang hanya menatapnya tanpa ekspresi. “Wah, Kamu cantik banget,” puji Airin, calon mertuanya. Alra tersenyum menanggapi. Tak ayal, hampir semua orang di sana memujinya. Ya, hampir, karena Diyo tampak tidak tertarik. “Oke. Karena calon pengantin sudah siap, kita akan mulai sesi pemotretannya,” ujar seorang fotografer yang mulai mengatur kamera. Alra dan Diyo melangkah ke tempat pemotretan. Keduanya berdiri kaku. Bahkan jarak keduanya hampir satu meter. Hal itu membuat sang kameramen mengernyit aneh. Baru kali ini ada pasangan yang akan melakukan sesi foto dengan jarak sejauh itu. “Bisa lebih dekat lagi?” tanyanya seraya menggerakkan tangannya ke kanan-ke kiri sebagai isyarat. Diyo melangkah kecil, begitupun dengan Alra. Jaraknya masih jauh. Fotografer itu kembali menggerakkan tangannya, tanda agar mereka berdekatan. Namun, masih langkah kecil yang dibuat keduanya. Karena merasa kesal, fotografer itu pun menghampiri mereka. Dengan selembut mungkin, ia mendorong Alra sampai bertabrakan dengan Diyo. Diyo yang memiliki refleks yang bagus, langsung merangkul pinggang Alra yang tampaknya tidak mampu menjaga keseimbangan karena dorongan kecil. Alra juga refleks mengalungkan tangannya ke leher Diyo. Sejenak tatapan keduanya bertemu. Namun, Alra lebih dulu memutuskan kontak mata itu. Ia kembali berdiri tegak dan lagi-lagi fotografer itu mendorongnya. Saat akan melontarkan protesnya, fotografer itu lebih dulu menyela, “Jangan ada protes. Kalian akan melakukan sesi foto pra-wedd, bukan pas foto untuk akta nikah. Jadi, lakukan seperti tadi. Pria merangkul pinggang wanita,” ucapnya seraya menuntun tangan Diyo ke arah pinggang Alra. Diyo menurut saja, walau sebenarnya enggan melakukan. “Dan wanita memeluk leher pria.” Dengan sedikit ragu Alra memeluk leher Diyo. Dikarenakan tubuhnya yang mungil, dia cukup kesulitan. Jarak di antara mereka pun masih ada sekitar beberapa sentimeter . Hal itu membuat fotografer cukup geram. Namun, tak bisa berbuat apa-apa. Ia akhirnya kembali ke posisi semula. Berkutat dengan kameranya dan siap memotret pasangan di depan sana. “Kalian berdua harusnya tersenyum,” ucap sang fotografer geram. Alra yang mendengar itu memasang senyum paksa. Keadaanya yang harus menjinjit membuatnya tidak nyaman, bahkan matanya tak pernah menatap ke satu arah. Sementara itu, Diyo tetap memasang wajah datarnya, ia sadar bahwa gadis di depannya kesulitan. Entah bagaimana bisa itu terjadi, ia menarik Alra lebih dekat dengannya, bahkan sampai mengikis jarak di antara keduanya. Alra yang kaget, hanya mampu terdiam saat merasakan rangkulan di pinggangnya semakin erat. Bahkan ia tahu, kalau saja rangkulan itu dilepas tiba-tiba, ia pasti terjatuh. “Ah, bagus! Seperti itu.” Foto telah diambil. Fotografer itu puas dengan hasilnya. Diyo menatap Alra datar. Namun, Alra memasang senyum sampai lesung pipitnya terlihat, keduanya saling menatap. Mungkin foto ini akan diberi judul Ice Prince With Little Princess. Mereka kembali melakukan sesi pemotretan dengan beberapa gaya. Seperti Diyo merangkul Alra, berpegangan tangan, bahkan dengan konyolnya Alra meminta foto saat berada di gendongan Diyo. Bukan ala brydal style. Namun, menggendong di punggung. Konyol, tapi foto itu terlihat indah. Meskipun Diyo dengan tampang datar andalannya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN