Ibam keluar dari mobilnya lalu mendekati pintu rumahnya. Ia mengetuk pintu pelan dan menunggu beberapa saat hingga pintu itu terbuka. Di baliknya, ia melihat Ivi yang sedang mengucek-ucek matanya. “Maaf. Kamu udah tidur, ya.” Ibam mengecup istrinya pelan lalu mengekori wanita itu masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu. Ivi mengambil remot di atas meja dan menekan tombol power hingga televsi layar datar di depannya mati. “Gimana kabar yang lain?” tanya Ivi. Ia melipat kedua kakinya di atas sofa dan menatap Ibam yang tengah membuka jam tangannya dan meletakkan di dalam laci di samping sofa. “Alhamdulillah baik semua.” jawab pria itu. Ibam memusatkan pandangannya pada istrinya yang wajah ngantuknya tak bisa disembunyikan. Ia tersenyum lalu menyibak rambut istrinya ke belakang te

