“Nggak… nggak gitu.” kata Ibam. Ia menunjuk satu baris dalam dokumen yang ada di depannya dengan pensil. Vanya memperhatikan pria itu dengan seksama. “poin-poin ini yang harus kamu perhatikan.” jelas Ibam. Vanya mengangguk mengerti. Ia menggeser tubuhnya lebih dekat dengan Ibam lalu menujuk poin-poin lainnya yang masih sedikit membuatnya bingung. “Gini…” Ibam menjawab pertanyaan Vanya dengan jelas. Sesekali ujung bahu keduanya bersentuhan karena posisi duduk keduanya yang terlalu dekat. “Oh… gtu…” Vanya menulis sesuatu yang penting dalam buku catatannya lalu berpikir sebentar hingga akhirnya merasa bahwa semua pertanyaannya sudah terjawab. “Oke, deh, Mas. Vanya udah ngerti.” kata gadis itu. Vanya baru hendak beranjak saat sebelah tangannya

