Ibam membereskan dokumen-dokumen di atas mejanya saat jam sudah menunjukkan waktu pulang. Ia mematikan komputernya dan membereskan barang-barang pribadinya dan memasukkan ke dalam tas yang baru saja ia ambil dari dalam lemari. Ketiga orang yang ada di ruangan itu menatapnya bingung karena melihat pria itu tampak tergesa-gesa. “Lo mau balik, Bam? tumben.” kata Fery. Mewakili rasa penasaran Ari dan Vanya yang jelas tak berani bertanya. “Iya. Gue duluan, ya.” kata Ibam. Ia menyantelkan tali ransel di sebelah punggungnya lalu berpamitan pada teman-temannya yang masih duduk di meja masing-masing, lalu keluar dari ruangan. Ia langsung mendekati lift. Masku ke dalamnya saat pintunya terbuka dan pergi menuju lantai dasar. Ia menjadi karyawan pertama yang menjejalkan jarinya di mesin absen sa

