CHAPTER TIGA PULUH ENAM

2184 Kata

Sepulang dari kediaman orangtua Ibam, keduanya melanjutkan pergi ke rumah kedua orangtua Ivi. Sultan yang sudah lama tak melihat menantunya tampak bersemangat untuk mengajak Ibam bermain catur.            “Kamu, tuh, dari pacaran sama Ivi sampai udah bertahun-tahun nikah, masa kalah mulu, sih.” kata Sultan. Permainan kedunya memang sengit, namun ia selalu berakhir menang.            “Ibam memang nggak ditadirkan untuk main catur, Pa. Coba, deh, kita ganti main monopoli atau main ular tangga, mungkin Ibam bisa menang.” ujar Ibam sambil terkekeh pelan saat kembali menata pion-pion catur warna hitam di papannya.            “Jangan-jangan kamu sengaja lagi ngalah dari papa.” Sultan menatap menantunya dengan tatapan menyelidik.            Belum sempat Ibam membuka mulutnya, suara Ivi su

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN