Flashback ke masa SMA Juna.
Teng! Teng! Teng!
SMAN 1 Tarakan. Bel sekolah telah berbunyi, tanda bahwa semua siswa harus berkumpul di lapangan. Kebetulan hari itu adalah hari Senin, harinya upacara bendera. Setelah semua siswa membentuk barisan kelasnya masing-masing, maka upacara tersebut pun dimulai. Semua berjalan seperti biasa. Mulai dari laporan komandan kepada pemimpin upacara, pembacaan Pancasila oleh perwakilan guru, pembacaan pembukaan UUD 45.
Ketiba tiba giliran pimpinan upacara untuk pidato, tiba-tiba terjadi hal-hal yang membuat seluruh siswa menjerit histeris. Dimulai dari kelompok kelas 1-9, kelas Juna. Salah satu siswa kelas itu ialah seorang yang lemah bulu atau bahasa lainnya mudah kerasukan. Ia seorang gadis bernama Reni. Dia terkenal sebagai siswa yang paling sering siup atau tak sadarkan diri. Penyebabnya pun tak jelas, hanya pihak keluarganya saja yang tahu kenapa ia sering jatuh tak sadarkan diri.
Kebetulan Reni tengah berdiri berdekatan dengan WC sekolah. Pasti tahu, kan, kondisi WC zaman SMA, terutama toilet khusus cowok, kotor, pesing dan jorok. Sangat lumrah. Jangan harap bisa dapat pemandangan toilet yang bersih dan wangi, kecuali sekolah sultan. Ada infonya dari kakak kelas waktu itu, bahwa WC adalah tempat paling angker di sekolah tersebut.
Reni pingsan dan seketika membuat riuh suasana upacara pagi itu. Untung saja ada siswa lain yang melihat gelagat si Weni saat akan pingsan. Maka, begitu ia mulai tak sadarkan diri, teman yang lain segera memeganginya, sehingga ia tidak sempat terjatuh. Satu siswa berteriak, maka anggota PMR yang bersiaga segera berlari dan sigap memberi pertolongan. Setelah itu, karena sudah kebiasaan setiap ada yang sakit atau siup saat upacara, pasti korban akan dibawa ke UKS. Letaknya pun tak jauh dari kamar mandi sekolah.
Anggota PMR membopong Reni ke UKS. Butuh empat orang untuk membawanya ke UKS, karena badan Reni lumayan besar dan berat. Begitu tiba di UKS, Reni dibaringkan di kasur UKS yang sederhana. Teman Reni yang biasanya duduk sebangku dengannya turut menemani di UKS.
Baru saja seorang anggota PMR hendak memberi minyak angin, tiba tiba Reni terbangun dengan mata melotot agak merah. Ditambah lagi rambutnya yang acak-acakan sewaktu pingsan tadi, membuat ia tampak menakutkan. Siswa yang sedang menemani Reni pun terkejut bukan kepalang melihat gelagat temannya. Begitu juga anggota PMR yang juga ada di situ.
“Kenapa aku dibawa ke sini?” Dengan suara agak serak Reni berteriak. Ia menggeram, mengeluarkan suara-suara yang membuat bulu kuduk teman sekitarnya berdiri.
Siswa lain yang mendengar suara Reni segera berhamburan keluar dari UKS, melarikan diri dan menjerit histeris. Satu-dua anggota PMR bahkan saling bertabrakan karena adu cepat menutup pintu UKS.
Setelah Reni kerasukan, tiba-tiba satu per satu siswa kelas lain termasuk kakak kelas 2 dan 3 juga mulai tumbang berjatuhan. Ada juga beberapa siswa yang teriak histeris tak jelas. Semua korbannya adalah siswa cewek. Keadaan upacara bendera yang biasanya khidmat, mendadak ricuh. Suasana kacau di sana-sini. Jumlah anggota PMR yang menangani anak pingsan kalah banyak dengan siswi yang pingsan. Para guru juga bingung mau berbuat apa. Sementara teriakan-teriakan tidak berhenti. Ketakutan menyelimuti satu sekolah.
Reni masih menggeram, pandangannya kosong tetapi seperti dilimuti amarah besar. Ia kemudian berdiri dan keluar dari UKS, sambil melototi siswa-siswa yang ada di dekatnya. Sesekali ia meracau entah, membuat suara-suara desisan maupun geraman. Ia berjalan asal ke sana kemari. Entah apa yang sedang dicarinya. Siswa-siswa yang dipelototi dengan segera kabur menjauh seraya menjerit histeris. Sebagian anak perempuan bahkan menangis karena terjatuh dalam pelariannya.
Reni melangkah menuju ke WC siswa cowok, dengan tatapan yang semakin menyeramkan—melotot dan merah—serta rambut yang tambah tak keruan, acak-acakan. Sementara gadis itu berjalan ke WC, tampak siswa lain yang mulai berjatuhan di halaman sekolah semakin bertambah banyak.
Pimpinan upacara melihat situasi yang sudah tidak kondusif akhirnya mengambil keputusan untuk membubarkan upacara saat itu juga, walau sebenarnya upacara telah berhenti sejak kejadian pingsannya Reni. Setelah dibubarkan, siswa yang masih baik-baik saja pun kembali ke kelas masing masing. Akan tetapi, meski sudah sampai di kelas, semua siswa terlihat begitu tegang, terutama para siswi. Belum lagi masih terdengar suara jeritan seperti bersahut-sahutan setiap kelas.
Pihak sekolah jadi semakin kebingungan, mereka pikir setelah dibubarkan upacara tadi, situasi bisa dikendalikan, tetapi ternyata malah semakin bertambah spooky. Siswa siswa yang pada siup sebagian dibawa ke mushola sekolah karena UKS tidak mampu menampung banyaknya siswa yang pingsan tadi.
Semua siswa saling membantu teman-teman yang pingsan tadi. Di mushola juga terlihat ada beberapa siswa yang sibuk menyadarkan temannya, ada juga yang membacakan surah-surah Al-Qur’an yang mereka tahu, tampak pula guru agama yang membantu menyadarkan siswa yang kesurupan.
Di dalam satu kelas, untuk menghilangkan ketegangan situasi, seorang siswa cowok mulai berbuat ulah, dia mengobrol dan bercanda, hingga suasana kelas dibuat rusuh olehnya. Tak ada satu pun guru yang muncul untuk mulai kegiatan belajar-mengajar. Mungkin mereka sedang berembuk untuk mengatasi situasi horor yang terjadi. Sebagian lagi membantu menenangkan anak-anak yang kesurupan dan sedang berusaha disembuhkan guru agama.
Ketika siswa pembuat gaduh berhasil membuat situasi di kelas ramai, tiba tiba ada seseorang yang masuk dengan berteriak-teriak, “Siapa tadi yang ngolok-olok?”
Ternyata sosok itu adalah Reni yang belum juga sadar dari kesurupannya. Ia datang dengan sorot mata kemerahan yang melotot tajam dan rambut yang bertambah acak-acakan.
Tak ada satu pun siswa yang berani menjawab pertanyaan menegangkan dari Reni. Siswa yang mucil (nakal) sekalipun tak ada yang berani membusungkan d**a. Semua terdiam ketakutan. Anak cowok menunduk diam dengan tangan gemetaran. Sementara anak cewek sudah hampir menangis, tetapi sebisa mungkin meredam suaranya. Mereka lebih takut lagi saat Reni berjalan ke arah mereka.
Reni mendatangi seorang siswa cewek. Lalu, ia bertanya lagi dengan pertanyaan yang sama, “Siapa tadi yang mengolok-olok aku?”
Anak perempuan yang didatangi Reni hanya menjawab dengan nada gemetar ketakutan, “Bu–bukan aku ....” Hampir saja dia menangis karena saking takutnya.
Setelah tak mendapat jawaban yang diinginkan, sosok Reni yang kesurupan itu berlalu keluar kelas, kembali menuju ke WC cowok tadi. Ia meninggalkan kelegaan tersendiri bagi seisi kelas.
Beberapa menit kemudian, pihak kantor sekolah membunyikan lonceng sekolah berkali-kali. Para guru pun datang ke kelas dan memerintahkan murid-murid untuk segera pulang ke rumah. Rupanya pihak sekolah tidak mau mengambil risiko akan terjadi sesuatu yang lebih gawat lagi. Maka, hari itu siswa dipulangkan lebih cepat dari hari biasanya. Seluruh siswa dipulangkan, kecuali siswa siswa yang masih kesurupan. Mereka harus menunggu pihak keluarga datang menjemput.
Tak berapa lama datanglah seorang ustadz yang dihadirkan pihak sekolah. Mungkin tujuannya untuk menyelesaikan masalah di sekolah saat ini, karena guru agama sudah kewalahan menangani kasus pagi itu.
Sang ustadz yang telah hadir segera menemui si Reni, karena menurut ustadz tersebut, sumbernya dari si Reni. Maka, setelah menemukan keberadaan Reni terdiam dan menggeram di WC cowok, terjadilah sedikit obrolan antara ustadz dengan Reni. Ternyata dedemit yang ada di tubuh Weni merasa terganggu, karena kuburannya yang ada di sekolahan itu sering dibuat kotor oleh siswa-siswa cowok yang nakal.
Sang ustadz pun meminta maaf dan memerintahkan agar si demit pindah dan tidak mengganggu siswa-siswa sekolah. Setelah terjadi perdebatan, akhirnya dengan sedikit keras sang ustadz memaksa si demit untuk pergi seterusnya.
Alhamdulillah dengan kemampuan sang ustadz, si Reni pun tersadar dari kesurupannya. Lalu, ia dibawa ke mushola di mana masih ada beberapa siswa yang belum sadarkan diri. Setelah selesai dengan Reni, sang ustadz mulai menyadarkan satu per satu siswa yang lain, hingga akhirnya seluruh siswa pun pulih dan sadar.
Keesokan harinya, situasi sudah kembali kondusif. Seluruh siswa belajar seperti biasa. Semua siswa di kelas Rey hadir kecuali si Reni, mungkin karena ia kelelahan dengan kejadian kemarin.
Gundukan yang ada dekat WC yang dikatakan si demit berasal sudah dirapikan sekolah. Tak ada lagi kejadian nahas itu. Padahal, siswa cowok terutama yang mucil berharap kalau bisa kejadian begitu bisa tiap hari terjadi, he-he-he ... agar bisa pulang lebih cepat dan tak perlu belajar, karena mereka memang doyan bolos.