Pasca Celakanya Didi

1237 Kata
  Pasca kecelakaan di jalan, Didi hanya bisa beristirahat total di rumah. Atas anjuran seorang dokter ia telah di perbolehkan pulang setelah di rawat selama seminggu di rumah sakit. Sempat tidak sadarkan diri selama 3 hari karena kecelakaan yang cukup parah dan nyaris merenggut nyawanya. Beruntung pada saat kejadian ada orang yang melintas di jalan itu dan mengingatkan Didi untuk menahan laju kendaraannya. Jika tidak, ia akan masuk ke jurang bersama motornya saat itu. Terror malam itu benar benar telah membuat Didi trauma. Saat sudah mulai baikan ia coba memberitahu Emaknya, jika kejadian malam itu memang sudah tidak nyaman saat mulai berada di bengkel hingga perjalanan pulang ke rumah. Ada saja gangguan yang ia alami, tapi Emak yang mendengarnya hanya tersenyum, karena sebelumnya ia sudah mengingatkan anaknya tersebut agar jangan pulang larut malam untuk hari itu. Namun karena sudah kebiasaan Didi yang sangat mencintai pekerjaannya, ia jadi mengindahkan warning Emaknya. “Piye keadaan Didi, Mak?” tanya Cecep yang melihat kakaknya terbaring lemah di ranjang kamar. “Alhamdulillah sudah baikan. Tadi pagi mau makan meski sedikit, paling ga ada yang masuk ke perutnya biar bisa minum obat, le.” Didi meski matanya terpejam, masih bisa mendengar obrolan orang orang dekatnya. Apalagi itu adiknya yang terkenal pemalas. “Aku wes sembuh kok Mak.” “Halah, istirahat aja dulu, ga usah pikir kerjaan, aku dah bilang juga dengan bos mu. Mereka mau jenguk kemarin tapi aku larang, karena kau perlu istirahat.” “Iyo le, kamu istirahat dulu, ga usah pikir kerjaan dulu.” “Tapi Mamak kan jualan, tinggal aja mak, Didi dah baik kok.” “Halah koe kok malah pikir bakulan Mamak to le … itu buah dan kue nya di makan lagi, Di. Jadi biar lekas sembuh dan kerja lagi.“ sang Mamak lalu meninggalkan adik kakak tersebut. “Gimana ceritanya Di, kok bisa begitu motormu. Padahal hari hari kau lewat jalan situ kan? Masa ga hapal sih rutenya?” “Nda tau ba, tau tau kejadiannya begitu cepat, eh begitu sadar sudah di sini, beperban begini.” “Kau laju kali bawa motornya?” “Aw biar laju, aku hapal ba jalanan.” “Lha terus kok bisa mau masuk jurang begitu.” “Awalnya kan siang itu Mamak sudah pesani pulang kerja jangan malam, kalau ada lemburan ga usah di ambil dulu, tunda saja sampai besok. Aku tanyalah alasannya kenapa Mak? Kata Mamak semalam dapat mimpi buruk, salah satu keluarga ini bakal ada musibah, tapi ga tau siapa? Nah Mamak itu feelingnya ke aku.” “Masa Mamak bilang begitu?” “Iya Cep, sampai berapa kali, sebelum berangkat kerja juga omongin lagi, Di, ingat pesan Mamak, jangan pulang malam, sebelum magrib sudah di rumah. Aku ya jawab ho oh aja lah. Mana ku percaya hal hal takhayul begitu kan, Cep.” “Tu lah kau, di kasih tau orang tua nda mau nurut. Ketulahan kan. Syukur panjang umur kau.” “Heleh kayak dia nda aja. Eh kau nda kerja kah hari ini?” “Izin tadi sebentar, alasan dengan bos di kantor. Tapi aku masih penasaran aja, kok bisa kau mau masuk jurang itu nah.” “Aku juga bingung. Semalam aku lihat jalan itu seperti biasa ba, nda ada yang aneh. Hujan juga nda, licin jalanan juga nda. Semuanya biasa Cep. Motorku juga ga laju, Cuma lari 30km/jam rasanya, ga bisa kencang lagi. Oya semalan itu aneh juga Cep, motorku itu berat betul, kayak ada orang yang ku bonceng gitu. Mulai dari bengkel sampai ke jalan itu, rasanya berat betul.” “Lha terus tetap kau lanjutkan aja jalanmu?” “Iya lah, kan dah selesai juga kerjaanku itu. Nah sebelumnya memang di bengkel itu kejadian aneh juga. Beberapa alat bengkel tiba tiba hilang, terus ga lama ada lagi di tempat yang ku cari. Pokoknya semacam ada yang kerjain gitu nah, Cep.” Cecep lalu mengernyitkan dahinya dan merasakan hal yang sama seperti kakaknya alami, tapi ia masih enggan menceritakannya. Ia masih ingin mencari tahu kemiripan hal lainnya dari cerita kakaknya tersebut. “Waktu sudah selesai, aku mau pulang, nyalakan motor itu susah betul. Ga biasanya dia rewel begitu, padahal baru servis, semuanya aku cek normal saja, mesin, bensin cukup, busi dan yang lainnya normal. Nah pas di coba kembali, eh nyala lagi.” “Kok bisa?” “Ga tau juga kenapa kok bisa begitu? Begitu nyala langsung cus aku tu jalan menuju pulang, tapi jalur yang ku ambil bukan jalur yang biasa aku lewati, karena waktu merasa masih cukup untuk jalan jalan, jadi keliling dulu di kota, ku pilih jalur yang lebih jauh.” “Oh pantes, terus … “ “Di sepanjang jalan itu juga aneh, di tengkuk leher ku ini terasa panas dan berat juga. Belum lagi motor itu juga terasa lambat dan berat betul meski ku tambahi lajunya, tetap saja ia tidak mau laju seperti biasa. Yang aneh lagi aku mencium bau belerang yang begitu pekat betul di hidung. Sampe pusing kepalaku menciumnya. Asli merinding semua sebadananku.” Cecep hanya bisa tertegun mendengar cerita tersebut. Bau belerang yang ia dengar dari Didi membuat ia teringat kejadian 10 tahun silam saat mereka berada di gunung itu. Lokasi yang menjadi area pembataian manusia di zaman colonial. Cecep seketika ikut merinding setelah mengingat kejadian itu. “Nah begitu sampai di lokasi hutan jalur mau dekat arah ke rumah, di situ yang paling parah. Sepanjang jalan itu aku dengar suara cekikikan dari kanan dan kiri jalan. Biasanya seumur hidup aku ga pernah di ganggu begitu.” “Terus?” “Karena merasa motor makin berat, aku berhenti sebentar cek di belakangku, siapa tau ada penumpang illegal, tapi ternyata ga ada. Aku cek lagi ban motorku mungkin kempet atau bocor, tapi normal saja semuanya. Nah pas berhenti itu  suara lolongan anjing begitu nyaring dan terasa dekat betul. Aroma wangi bunga langsung menggantikan wangi belerang sebelumnya. Aku langsung tancap gas lagi, tapi tetap ga bisa laju, nda tau kenapa begitu? Pelan pelan terpaksa jalannya, sampai berada di jalan yang ku lihat itu lurus perasaanku, tapi tiba tiba dari depan aku seperti menghantam sesuatu, eh ga taunya sudah ada di rumah sakit.” “Terus yang ngantar kau ke rumah sakit siapa?” “Katanya ada seorang bapak yang kebetulan lewat di jalan yang searah dengan aku juga. Bapak itu ada di belakang dan ia sempat berteriak pas aku kelewatan jalannya. Pas di rumah sakit ketemu Mamak katanya si bapak cerita anak ibu itu membonceng pocong tapi di panggil si bapak ga dengar dengar, terus saja melaju kendaraannya sampai akhirnya menabrak pembatas jalan dan nyaris masuk ke jurang, masih untung ada sebuah pohon besar yang menghalangi jalan itu, kalau nda selesai sudah nyawaku Cep.” Cecep mulai terlihat takut dengan kejadian yang menimpa kakaknya. Ia mulai berpikir kejadian ini ada hubungannya dengan kejadian 10 tahun silam saat mereka berada di gunung angker itu. Namun ia masih enggan membahas dengan kakaknya karena ia berpikir pasti kakaknya tidak terlalu mempercayai hal hal yang berbau takhayul tersebut. “Nah lebih aneh lagi bapak itu sampaikan pesan ke bapak, ia seperti mendapat bisikan supaya aku mengembalikan sesuatu, aku di minta untuk kembalikan barang mereka. Aku di tanya Mamak begitu tambah bingunglah, barang apa? Perasaan ga pernah berurusan dengan dunia hantu kok, bagaimana mengambilnya?” Wajah Cecep seketika berubah drastis, sedikit banyak misteri itu mulai terkuak, tapi tetap ia enggan membahas dengan kakaknya. Ia pun segera pamitan kembali ke kerjaan dan mendoakan sang kakak agar cepat sembuh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN