Sudah sebulanan Juna melakukan hal yang sama setiap harinya di taman itu. Yang ada dalam pikirannya saat itu adalah gadis keturuna bule yang telah berhasil memikat hatinya. Padahal ia sendiri tidak begitu mengenal sosok gadis cantik tersebut. Meski hari liburpun ia jadi rajin ke kampus hanya untuk menanti kehadiran gadis itu, tapi kenyataannya tidaklah sesuai harapannya. Sosok gadis itu seperti hilang di telan bumi, tidak ada jejak sama sekali di kampus.
Juna bahkan sampai nekad mencari data mahasiswi bernama Alena di administrasi kampus, tapi hasilnya tidak di temukan nama mahasiswi tersebut. Yang ada malahan adalah mantan mahasiswi kampus juga tapi kejadiannya sudah 10 tahun yang lalu dan sosok gadis itu juga tidak menyelesaikan kuliahnya karena mendapat musibah bunuh diri di kampus tersebut. Mendengar hal itu sebenarnya ia tidak begitu percaya, tetap ia berusaha mencari tahu melalui teman temannya dan berselancar di social media.
Lambat laun pikiran Juna semakin kacau karena hanya memikirkan sosok Alena yang tak pernah lagi ia temukan. Semua teman teman yang sangat mengenal Juna jadi prihatin dengan kondisinya, meski ia sebenarnya tidak pernah peduli dengan itu semua. Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk cuti kuliah selama 1 semester guna mencari tahu tentang sosok gadis yang bernama Alena tersebut. Rasa penasaran yang akut dan juga timbul benih benih cinta telah membutakan seorang Juna. Ia nekad mengambil keputusan tersebut hanya untuk seorang Alena.
Setiap hari menjelang magrib kondisi Juna drop, tiba tiba badannya panas tinggi, namun selang beberapa jam turun normal. Dan anehnya lagi kejadian ini terjadi saat malam jumat saja. Selalu saja begitu. Beranjak tengah malam, gangguan itu makin intens mengganggu Juna. Apalagi tidak ada seorang teman yang tahu tentang sakit Juna tersebut, karena mulai hingga sore ia terlihat baik baik saja.
*****
Hingga suatu hari, pukul 1 dini hari, ada yang mengetuk pintu kamar Juna dari luar. Padahal, ia baru saja mulai terlelap setelah seharian berakitvitas yang cukup menguras energi. Rasa enggan yang hinggap di tubuh membuat Juna membuat ia enggan untuk membuka pintu tersebut. Akan tetapi, ketukan pintu itu semakin keras tanpa menyebutkan siapa pengetuknya.
Kembalikan barangku … Kembalikan barangku …
Mendengar suara halus tersebut, otomatis mata Juna langsung melek dan tubuhnya mengambil sikap bersiap sedia. Dalam sekejap, ia sudah siap untuk melawan jika ada yang berniat jahat padanya. Namun setelah di tunggu beberapa saat suara ketukan itu tidak terdengar lagi. Juna lalu berusaha menenangkan hati dan pikiran agar bisa menyatu dengan situasi dan kondisi saat itu.
Tiba tiba pintu kamar terdobrak dengan sendirinya. Juna agak sedikit terkejut mendengar dentuman pintu tersebut. Terlihat di luar kamar sudah banyak sosok aneh yang begitu beringas ingin masuk. Semua berpakaian seperti pasukan tentara asing. Juna semakin bergetar tubuhnya, seluruh badannya tak mampu ia gerakkan sedikitpun. Wajah para tentara itu tampak beringas dengan raut yang sangat menakutkan di tambah lagi kondisi mereka yang sudah tidak utuh lagi.
Juna hanya bisa memasrahkan diri dengan apa yang bakal terjadi saat itu. Jelas ia tak mampu berbuat apapun untuk melawan sosok para tentara yang sudah berada di depan mata dalam jumlah yang banyak dan sangat menyeramkan. Mereka seperti zombie yang sangat lapar dan akan melahap mangsanya. Namun ketika jarak mereka sudah semakin dekat, mendadak keadaan dalam kamar itu menjadi hitam gelap gulita.
Ketika lampu menyala, mendadak Juna langsung terbangun. Ia sangat terkejut, rupanya ia tadi sedang bermimpi sesuatu yang menyeramkan. Tubuhnya masih terasa basah karena keringat yang membasahi tubuhnya. Aura yang hadir di kamar saat itu benar benar membuat tubuh Rey terasa panas dan aroma belerang yang begitu kental menyengat hidung.
Juna lalu membangkitkan setengah badannya dan sedikit terkejut ketika mendapati pintu depan kamarnya terbuka dengan lebar, padahal sebelumnya ia sudah merasa yakin telah menguncinya sejak ingin tidur sebelumnya. Ia lalu beranjak dari tempat tidurnya dan bermaksud menutup pintu, tapi sebelumnya ia ingin memeriksa keadaan di luar kamarnya. Mungkin saja ada penghuni kos yang masih terjaga.
Namun apes kembali mendera penglihatannya saat itu. Di penghujung kamar dekat toilet kos ia tak sengaja melihat sesosok yang menyeramkan. Sialnya lagi sosok itu juga menoleh ke arah dirinya seolah tahu jika ia sedang di perhatikan oleh Juna. Tanpa menunggu lebih lama lagi ia langsung kembali ke kamar dengan segera menutup pintunya dengan begitu keras.
***
Keesokan harinya Juna tersadar dan kesiangan. Rupanya itu efek kelelahan semalam. Ia coba mengingat kembali kejadian semalam yang begitu menegangkan. Tak tahu akhirnya seperti apa, tahu-tahu tubuhnya sudah tak sadarkan diri di alam bawah sadar. Tapi yang ia ingat saat ini adalah sesosok gadis yang telah lama ia lupakan. Dan sebenarnya gadis itu juga tidak pernah ada dalam hatinya selama ini. Karena ia hanya menganggap gadis itu seperti adiknya sendiri. Gadis itu adalah Lingua.
Selama ini ia memang tak pernah lagi berhubungan dengan gadis itu. Apalagi ia sudah menolak berkali kali meski secara halus cara yang ia gunakan. Tapi hari ini saat mata baru terbuka kenapa wajah gadis itu yang terbayang di kepalanya? Bukankah seharusnya Alena gadis keturunan bule itu yang ada di kepalanya, mengapa malah Lingua yang jelas jelas sedari dulu ia tak menaruh hati pada gadis itu.
Juna lalu mencoba melupakan bayangan wajah gadis itu dengan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya dengan keramas dan mandi bersih. Sambil mengguyur badan dengan air dari gayung ia ternyata tak bisa melupakan bayangan sosok Lingua. Wajah manisnya yang sedang tersenyum manis terus saja membayangi dirinya meski saat itu ia berada di kamar mandi. Anehnya lagi saat ingin mengambil air di bak mandi seakan ada wajah Lingua di bak mandi tersebut. Sontak hal itu membuat Juna terkejut bukan kepalang. Segera ia menuntaskan mandinya saat itu. Khawatir dengan pikirannya yang semakin kacau.
Hari ini ia teringat jika ada janji dengan seorang gadis setelah seminggu yang lalu mulai melupakan sosok Alena. Gadis manis yang ia kenal karena labil di selingkuhin pacarnya. Rezeki yang tak terduga saat malam itu melalui temannya yang memang doyan clubbing. Berkenalan saat ia sedang labil dan bisa merasakan cinta semalam adalah anugrah luar biasa buat seorang Juna yang hanya bermodalkan speak yang maut dan sedikit wajah yang tampan.
Saat jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, di depan kos sudah ada sebuah mobil sedan corolla lama tahun 94 yang sedang standby menunggu seseorang. Rupanya itu adalah jemputannya yang sudah membuat janji dengannya semalam. Seorang teman yang lumayan borju bersama dengan kekasihnya beserta seorang gadis lagi yang semalam b******a dengan Juna. Tampak mereka semua sedang hepi hari itu.