Sepulang dari acara di villa, Juna tampak berubah. Seharusnya hari ini ia sangat senang dengan dapat gebetan baru meski itu hanya keberuntungan karena sang gadis adalah orang yang sedang labil akibat di selingkuhi pacarnya. Tapi justru kekacauan yang ia rasakan saat berada di villa itu. Bersama temannya yang juga memiliki pasangan, ia sudah bersiap untuk melakukan hubungan itu lagi, tapi keadaan justru sebaliknya. Di dalam kamar, Juna malah tampak ketakutan setelah melihat gadis yang akan ia jamah. Wajahnya seketika berubah menjadi Lingua yang sejak dulu memang ia tidak sukai.
Lingua adalah teman semasa kecilnya, usianya terpaut dua tahun, kurang lebih seumuran dengan adiknya Juna yang cewek. Gadis keturunan Cina Jawa yang memiliki body padat berisi sejak mulai duduk SMA, membuat beberapa lelaki di kampungnya tergila gila pada sosok Lingua. Sayang tidak ada satupun yang membuat ia menyukai perhatian dari lelaki itu. Hanya satu sosok yang ia sukai yaitu Juna. Meski rumahnya sangat berdekatan tak membuat Lingua merasa itu teman atau tetangga biasa.
Hubungan mereka dahulunya hanya teman biasa, tapi secara tak langsung rasa cinta yang timbul kala itu tak mampu membuat Lingua menghindar dari sosok Juna. Padahal ia sudah bersusah payah untuk melupakan itu semua, tapi hatinya tak mampu menghindari itu semua. Dewi cinta telah menembakkan panah asmaranya pada sosok Lingua tapi tidak pada Juna.
Sedari kecil Lingua sudah menaruh hati pada Juna. Tapi ia tak berani terus terang karena cowok itu terkadang cuek dengan perhatian yang ia berikan. Malah teman teman yang lain yang menaksir Lingua, yaitu si Peyok. Sayang ia tidak begitu menyukainya, meski mereka dari suku dan agama yang sama. Setiap kumpul bareng selalu Juna yang ia dekati, meski Juna sendiri kadang merasa risih dan ga betah jika ada Lingua berada di dekat mereka.
Semua teman teman Juna juga tahu, Alex, Yuyung, Didi, Cecep dan Peyok sudah hapal jika Lingua memang ada hati dengan Juna, tapi tak pernah mendapatkan respon yang bagus dari cowok itu. Mungkin karena sudah terlalu bosan di dekati, Juna akhirnya berusaha menghindar setiap ada Lingua yang bermaksud ngumpul di tengah teman temannya. Sementara di antara mereka ada Peyok juga yang diam diam sangat menyukai Lingua, meski ia sadar pasti akan di tolak.
Setelah duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA) Lingua menjadi gadis yang bertambah manis. Gadis keturunan itu semakin berisi badannya karena beranjak dewasa. Rambutnya yang panjang, senyumnya yang ramah dengan semua orang hingga perlakuan baiknya dengan teman teman yang dekat dengannya.
Meski telah tumbuh dewasa, perasaan dalam hati Lingua tidak juga luntur pada sosok Juna, karena saat itu cowok idolanya itu juga tumbuh menjadi pemuda yang cukup di gandrungi di sekolah. Apalagi ia memiliki prestasi di bidang olahraga dan menjadi andalan di sekolah, hingga membuat namanya menjadi semakin terkenal, tidak hanya di sekolahnya tapi di sekolah lainnya juga.
Masa penantian Lingua untuk mengungkapkan perasaannya pada Juna hanya tinggal setahun, karena setelah itu cowok itu akan pergi jauh untuk menuntut ilmu di kota orang. Ia semakin gelisah setelah tau dari Alex, salah satu sahabat Juna yang paling dekat. Mengetahui destinasi sang idola yang sangat jauh, membuat ia sedikit sedih karena tidak bisa lagi nantinya berada di dekat atau minimal bisa melihat cowok yang ia kagumi tersebut.
Ingin mengungkapkan tapi tidak tahu caranya, bahkan untuk mendekatinya saja ia tak bisa karena cowok itu selalu berusaha menjauh ketika melihatnya. Meski melewati comblang dengan Alex teman dekatnya tetep saja tak berhasil. Ia masih berpikir ada peluang untuk itu yaitu melalui adik kandung Juna.
Namun semua usaha itu harus berakhir dengan hasil yang mengecewakan. Juna telah memiliki seorang pacar dari sekolahannya. Tidak tanggung tanggung gadis yang ia pacari, seorang bunga sekolah yang saat itu jadi rebutan siswa cowok di sekolahnya. Lingua jadi bertambah patah hatinya. Tak urung ia mencari pelarian dengan memilih jalan yang salah. Ditambah dengan lingkungan teman yang tidak mendukungnya sama sekali. Yang ada hanya materi dan prestise yang selalu di banggakan.
Mendapati kenyataan seperti membuat Lingua jadi sakit hatinya. Ia jadi berniat untuk membuat perhitungan dengan cowok tersebut. Ia tak ingin cowok itu di miliki orang lain selain dirinya meski saat itu sebenarnya ia juga sudah memiliki seorang pacar yaitu bandar n*****a. Lingua berpikir jika ia tak bisa memiliki Juna maka orang lainpun akan berlaku hal yang sama.
******
Sementara di kota Malang, Juna sudah tampak pucat berada sendirian di kamarnya tanpa ada yang tahu kondisi dirinya. Ia tampak ketakutan, melihat sesuatu yang ia sendiri tak tahu apa itu. Badannya sudah basah kuyup oleh keringat yang bercucuran dari tubuhnya. Matanya terbelalak tanpa bisa berkedip sedikitpun. Jari jemarinya bermain satu sama lain mengupas kuku secara perlahan lahan.
Di dalam kamar semuanya tampak berantakan. Hawa mistis begitu terasa menyelimuti kamarnya. Bau anyir pun begitu menyeruak keluar dan menusuk indra penciuman. Terlihat TV masih menyala dan tidak ada seorang pun yang menonton. Di lantai berhamburan sampah bekas makanan yang dibiarkan tergeletak di lantai. Bekas puntung rokok berserakan di depan TV. Di dapur juga tak kalah parah keadaannya. Peralatan bekas makan dan minum dibiarkan teronggok di tempat cucian piring.
Keesokan harinya kawan-kawannya Juna berkumpul di kamarnya, melihat kondisi lelaki itu yang masih tampak ling lung tidak sadar siapa dirinya sendiri. Keadaannya masih sama dengan semalam, panasnya juga masih naik-turun. Ia terlihat lemah tak berdaya, wajahnya agak pucat, dan sering berkeringat dingin. Tatapannya ke atas benar benar hampa. Ia lebih banyak diam. Tidak merespon sedikitpun pertanyaan atau ajakan obrolan dari teman temannya.
Namun menjelang magrib, Juna malah kembali normal keadaannya. Hal ini membuat penghuni kos turut gembira dengan keadaan temannya tersebut. Seolah tak terjadi apapun hari ini, Juna malah lebih lahap makannya dari hari biasanya. Semua teman mampu ia kenali saat di uji oleh temannya. Semua penghuni kos sebelumnya tampak khawatir dengan keadaan Juna, apalagi semua penghuni di kos adalah anak perantauan dari luar kota Malang. Mereka takut jika terjadi sesuatu pada Juna, siapa yang akan mengurusnya. Kedua orang tuanya juga sudah lama tiada sejak ia lulus sekolah.
Tetapi ketika beranjak malam kondisinya mulai berubah lagi. Juna mendadak hilang ingatan, ia tak menyadari siapa dirinya, siapa teman temannya. Ia semakin tampak ketakutan seolah ada yang ia lihat sedang mendatanginya. Tidak ada satupun yang bisa menolong dirinya kala itu. Semua teman temannya juga hanya bisa melihat tanpa bisa berbuat sesuatu.