Cecep pamit kepada Mamak untuk berangkat kerja, sepanjang perjalanan dia memikirkan apa yang telah di ceritakan oleh Kakaknya. Cecep Nampak gelisah dan merasakan takut yang tak pernah dia alami sebelumnya, ia tak pernah menyangka akibat kenakalannya di masa lalu akan berdampak seperti ini.
Setelah melakukan perjalanan selama tiga puluh menit akhirnya ia tiba di tempat kerjanya, ia pun seperti biasa melakukan aktifitas pekerjaan. Tidak biasanya ruang kerja sepi dan tak ada sama sekali kedua rekan kerja Cecep. Udara di dalam ruang itu terasa begitu dingin tak biasanya, ia pun mencari remote AC bermaksud untuk menaikan suhunya agar tidak terlalu dingin.
Selang 10 menit akhirnya kedua teman kerjanya tiba, Cecep mencoba mengejar waktu dan deadline kerjaan yang sudah ia janjikan ke client bahwa hari ini Tv nya sudah selesai di perbaiki. Cecep pun berusaha untuk focus dan menyelesai Tv client langganana tempatnya bekerja tepat waktu agar tidak berefek buruk nantinya.
Ketika ia sedang membersihkan tabung LCD menggunakan tenier dan menyolokkan kabel pada kontak yang berada di sebelah kanan ia duduk. Tenier yang telah ia pegang lalu di oleskan kepada perangkat LCD mana yang terlihat kering dan basah maka akan ketahuan dari situ.
Saat Cecep mencabut kabel colokan Tv, tanpa sengaja kakinya menginjak kabel yang tak di ketahui kalo kabel tersebut ada serabut yang terkelupas ketika di injak maka akan mengalirkan aliran listrik ke tubuh kita.
Tanpa sengaja Cecep menginjak kabel yang terkelupas itu dan naasnya ketika ia menginjak kabel tersebut sandal yang dikenakan basah karena habis dari toilet. Seketika dalam hitungan detik Cecep kesetrum dengan tegangan daya yang cukup besar, sampai mengakibatkan lampu yang ada di ruangan itu berkedip. Sementara tubuhnya sudah hangus gosong terbakar karena sengatan listrik, melihat kejadian tersebut segera salah satu admin menghubungi ambulans. Karena di antara mereka semua tak ada yang berani untuk menyentuh Cecep.
*********
Siang itu mata kuliah kosong, tentu saja membuat Juna senang sekali ia bisa puas bermain game favoritnya di kamar kos. Ketika sedang asyik memainkan game, tiba-tiba ponselnya berbunyi dan ternyata itu telepon dari Alex.
“Halo Lex, ada apa kau telepon? Kalo gak penting atau bahas soal perempuan nanti ajalah ya, aku lagi main game seru kali,”
“Jun, kau sudah dapat kabar soal sahabat kita Cecep?”
“Kabar apa? Gak usah kau bertele-tele, katakan saja apa yang ingin kau sampaikan,”
“Cecep … Cecep semalam meninggal di tempat kerjanya Jun, dengan kondisi mengenaskan setengah badannya semua hancur tulangnya dan organ kepalanya keluar,”
Isak tangis Alex tak bisa disembunyikan lagi, meski ia berusaha untuk tegar dan berusah ikhlas atas meninggalnya sahabat karibnya.
“Gak mungkin, kau bercanda kan? Gak lucu bercandamu nih,”
“Aku serius Jun, saat ini aku sedang bersama Didi apa mau kau bicara dengannya,”
“Jun, aku perwakilan dari almarhum adikku Cecep minta maaf ya kalo selama nih jika ia banyak salah sama kau,”
Sontak Juna duduk terdiam, dan menghentikan main gamenya seketika air mata menetes dari kelopak matanya mengalir membasahi pipinya.
“Kau serius Di? Kalian sedang tak prank aku kan, maafkan aku tak bisa melihat Cecep untuk terakhir kalinya,”
“Iya Jun, tak apa kok, kami memahami kau sedang menempuh ujian kan lagi pula sebentar lagi puasa sama lebaran pasti kau pulang nanti kita ke makam Cecep,”
“Iya Bro, makasih ya atas pengertian kalian sampaikan salam ku kepada Mamakmu ya, aku turut berduka cita atas kepergian Cecep,”
“Iya makasih ya Jun, nanti kami lanjut lagi ya, jenasah almarhum mau di solatkan dan makamkan,”
Tanpa menunggu balasan dari Juna panggilan telepon itu mati sepihak dari sana, sementara Juna masing merenungi kenapa sahabatnya bisa meninggal.
Sementara itu di kediaman Didi sudah banyak kerabat dan tetangga yang melayat almarhum Cecep, masih banyak tak percaya dari beberapa pelayat atas meninggalnya Cecep. Beberapa di antara pelayat merasa ada yang ganjil atas meninggalnya Cecep yang begitu tragis, setiap pelayat yang melihat terakhir kalinya Cecep merasa mual dan ingin muntah karena bau anyir darah yang terus keluar dari otaknya.
Alex diam tak banyak bicara dan masih merasakan sedih atas kepergian sahabat kecilnya, ia merasakan ada sesuatu yang ganjil kalo mendengar isu yang beredar atas meninggalnya Cecep. Ia merasakan firasat tidak enak setelah meninggalnya Cecep pasti akan terjadi sesuatu kejadian lagi diantara mereka, entah apa itu Alex tak mengetahuinya.
“Kasian sekali ya si Cecep belum menikah dan merasakan menikah, ia sudah meninggal muda tak bisa merasakan malam pertama,”
“Hai Yok, kau nih jaga bacotmu tuh macam tak di sekolah aja mulutmu, orang sedang berkabung malah gak enak di dengar mulutmu tuh,”
“Aku kan becanda Lex, habis kalian ku tenggok mukanya sedih terus. Kalian enak bisa keluar air mata dan menangis, sementara aku tak bisa mengeluarkan air mata yang ada malah lapar terus perutku ini. Kau tenggok nih 2 piring kue kering sudah habis sama ku sendiri,” cenggir Penyok merasa tak berdosa.
“Sudahlah, sesuka hatimu aja Yok, di otakmu cuma makanan-makanan terus tenggok tuh perutmu macam mau pecah bentar lagi,”
Alex pun pergi meninggalkan Peyok daripada masih terus bersamanya bisa menguras stok sabar, ia berjalan ke dalam rumah dan menemui Didi untuk pamit ada keperluan.
“Di, maaaf ya tak bisa aku lama-lama nanti malam aku ke sini lagi, ada urusan yang tak bisa ku tinggalkan. Salam buat Mamaknya, kau hibur Mamak ya,”
“Iya Lex, makasih ya,”
Tak lama di susul pulang juga oleh Yuyung dan Peyok, setelah kepergian sahabatnya Didi duduk termenung seorang diri. Ia masih tak menyangka bahwa adiknya meninggal begitu tragis dan sebenarnya siapa yang melakukan hal keji tak berkemanusiaan seperti itu.
Mamak yang melihat Didi melamun di teras rumah berusaha menghampirinya Putra yang kini tinggal semata wayang dan memeluk Didi dengan penuh kasih seorang ibu. Mamak berusaha tegar dan kuat meski merasa tersayat hatinya melihat Putranya meninggal begitu mengenaskan.
Ya Allah lindungi keluargaku, terutama Putra dari segala sesuatu yang buruk hendak menimpanya. Batin Mamak lirih sambil meneteskan airmata.
Didi dengan lahap menyantap menu siang itu dengan makanan favoritnya, ia tak mengetahui bahwa hati Mamaknya gelisah dan merasakan takut kehilangan ia juga. Setelah selesai menikmati makanan siang itu, ia lalu bergegas untuk menyiapkan segala sesuatu untuk keperluan nanti malam bersama teman-temannya.