Mencari Suara itu

1106 Kata
Ketiga pemuda yang sedang menonton film p***o. Awalnya di rencanakan hanya untuk menikmati film yang menjadi favorit di kalangan mereka. Yuyung , Peyok di tambah Alex yang sebenarnya sangat terpaksa untuk ikutan menonton. Ia punya misi ingin membuktikan mengenai desas desus kehororan di loteng rumah Yuyung. Saat mereka sedang menikmati film tersebut, suara yang di katakana Yuyung ternyata benar adanya. Derap langkah orang berbaris serta percakapan bahasa asing kembali terdengar di tengah tengah mereka. Peyok yang mulai ketakutan, dan kecemasan seorang Yuyung tak membuat ciut nyali seorang Alex yang memang terkenal paling pemberani di antara teman temannya. Ia sendirian pergi ke loteng atas tanpa di ikuti kedua temannya hingga tanpa ia sadari ada sesosok makhluk yang tak kasat mata sedang mengawasi di ruangan itu. “Lex, oi Lex … aman ga di atas?” teriak Yuyung dari bawah. “Yoi bro, aman saja.” Sahut Alex dari lantai atas. “Lex buruan turun, filmnya lagi seru banget nih,” goda si Peyok yang semakin asik menontonnya. “Gimbek kau tu Pop, bokep terus anak ini.” Maki Yuyung. Alex lalu mengalihkan pencariannya ke arah kamar si Yuyung yang sudah tampak terbuka pintu kamarnya. Suasananya sangat gelap karena lampu kamar tidak di nyalakan. Jendela kamar juga sengaja tidak di buka, jadi cahaya mentari tidak bisa masuk untuk menyinari kamar tersebut. Ia masih penasaran seperti apa sosok yang di ceritakan si Yuyung saat melihat di sudut kamarnya itu. Perlahan ia mencari lagi … di lemari, di bawah ranjang, hingga ke sudut sudut kamar, tetap ia tak menemukan sumber suara tadi. Hingga saat ia  ingin keluar kamar, tiba tiba di depan wajahnya langsung muncul sesosok makhluk aneh yang sangat menyeramkan. Wajahnya berwarna merah, rambut panjang menjuntai ke bawah, gigi taring yang cukup panjang dan masih terlihat segar darah yang menetes dari kedua gigi taring tadi. Tidak banyak yang Alex mampu lakukan, ia hanya diam sesaat dan tak mampu berkata apa apa lagi. Semua badannya terasa kaku, lidah kelu dan leher sangat tercekat tanpa bisa mengeluarkan suara sedikitpun. Sejurus kemudian ia sudah jatuh ke lantai tak sadarkan diri. Sementara di lantai bawah tampak dua orang sedang menikmati sajian tontonan film dewasa. Keduanya tampak tegang hingga tak sadar dengan keadaan seorang temannya yang sedang berada di atas. Semua tampak biasa saat mereka menyaksikan film dewasa tersebut. Hingga tanpa terasa sudah 15 menit si Alex berada di atas tak juga kedua sahabatnya menyadari hal itu. Camilan di piring dan minuman ringan tanpa di sadari sudah mulai menipis hingga tiba tiba terdengar kembali suara derap langkah yang berasal dari loteng atas. Yuyung dan Peyok baru menyadari setelah suara tadi kembali terdengar. Seakan tak percaya dan baru teringat jika ada temannya di atas yang dari tadi belum turun dari loteng. “Eh Pop, si Alex kan di atas, kenapa kok belum turun turun ya?” “Eh iya juga, ngapain tu anak di atas, betah amat.” “Lex, oh, Lex … Lex, Alex …” pekik Yuyung dari lantai bawah. “Lex luthor, woi Lex, turun, nih gorenganmu ta habisin lho …” “Hussst, masih sempat aja kau nih bercanda Pop.” “Habis budeg sih, di panggil ga di sahuti. Tapi emang bener Yung, coba kau tengok di piring, tinggal berapa biji aja lagi.” “Kau memang setan, Pop. Kau yang makan terus dari tadi tu.” “Lapar aku Yung, belum sarapan ba tadi pagi.” Selang beberapa detik, dari arah loteng muncul sosok Alex yang asik saja menuruni tangga perlahan lahan. “Nah, itu dia si Alex.” Tunjuk Yuyung setelah melihat temannya mulai turun dari atas loteng. “Gimana Lex, aman aja kah di atas?” tanya Peyok. Sang teman yang di tanya tidak menjawab sedikitpun, hanya terus melangkah turun. Peyok dan Yuyung kembali focus pada tontonannya. Mereka tak lagi memperhatikan sosok Alex yang sudah menuruni tangga terakhir. Tanpa terasa waktu sudah bergulir setengah jam pasca si Alex yang turun ke bawah tadi. Tiba tiba dari atas ada suara lirih yang memanggil manggil nama Yuyung dan Peyok. Suara itu sangat pelan sekali, nyaris tak terdengar. Hanya Yuyung yang mendengarnya dan ia langsung mengecilkan suara tv agar bisa lebih jelas mendengar suara yang memanggil namanya. “Kau dengar itu, Pop? Sepertinya ada suara yang memanggil nama kita.” “Sebentar aku ta konsen dulu …” Peyok coba focus, “eh iya beneran Yung, suara itu kok seperti ga asing dengarnya.” “Sepertinya suara Alex deh Pop.” “Eh iya Yung bener itu suara si Alex … “ “Tapi arahnya kok dari loteng atas ya?” Mendadak aroma belerang menyeruak di ruangan tersebut. Keduanya lalu menutup hidung. Suara tadi terus saja terdengar dan memanggil mereka berdua. Dan setelah merasa yakin baru mereka bangkit dan menengok ke arah belakang mereka. “Lha Alex di belakang kita tadi mana Pop?” “Hiaaaaa … mati kita Yung, mana Alex tadi, kan dah turun dari atas tadi. Makkk … tolong!” “Kimaknya kau nih, penakut betul.” Kembali terdengar suara memanggil namanya keduanya dari loteng atas semakin membuat Yuyung penasaran. Merasa yakin ada yang ga beres di atas, Yuyung lalu bangkit dan ingin segera naik ke atas loteng. “Aku mau ke atas datangi Alex, kau di sini aja atau ikut aku naik ke atas, Pop?” “Ah, ikut lah, kau mau aku mati penasaran di bawah, enak betul kau.” “Ayo sudah, tapi ga usah lebay juga bah, pake gandengan tangan begini …” seraya menepis pegangan Peyok pada lengannya. “Eh iya lupa ba …” Tanpa ragu keduanya segera menaiki anak tangga menuju ke lantai atas. Setibanya di atas betapa terkejutnya mereka saat melihat tubuh Alex yang berada di lantai tak sadarkan diri. “Lex, bangun Lex, Lex, Lex …” Yuyung berusaha menggoyang tubuh Alex yang tak sadarkan diri. Begitu juga dengan Peyok yang masih belum hilang ketakutannya. “Lex, woi Lex, bangun … jangan bercanda nah, ga lucu ba … “ “Cuk, kau nih orang siup malah di ajak bercanda lagi, memang teman nda ada akhlak ba kau nih, Pop.” Tak berapa lama Alex pun tersadar dari mati surinya. “Dimana aku?” tanyanya lirih setelah melihat kedua temannya berada di dekatnya dengan tatapan penuh tanya dan kekhawatiran. “Di rumah ku Lex. Kenapa kau? Kok tidur di lantai begini.” “Ini di lokalisasi gunung bakso Lex,” canda si Peyok yang mulai sedikit terhibur dengan sadarnya sang sahabat. Alex begitu merasa kesadarannya sudah 100 % pulih dan bisa mengingat kejadian tadi langsung bangkit dan mengajak kedua temannya untuk ke lantai bawah. Ia turun duluan dari pada kedua sahabatnya yang tampak masih bingung dengan kelakuan si Alex.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN