Trio Bokep

1044 Kata
Peyok yang setelah menonton di rumah Yuyung hari itu tetap tidak kapok. Padahal hari itu ia sendiri mendengar suara langkah orang berbaris. Bukan hanya dia yang mendengar tapi juga tuan rumah si Yuyung. Seolah ingin membuktikan cerita temannya, Peyok berencana membuktikan sekali lagi horror yang di maksud temannya itu. Kali ini ia sendiri yang menyewa beberapa VCD sekaligus agar lebih lama menontonnya di rumah Yuyung. Kebetulan hari itu Yuyung juga sedang ada waktu senggang karena baru awal bulan setelah sebelumnya kejar kejaran target dengan nasabah yang sukar di tagih di akhir bulan. Seperti biasa tempat sewa langganannya adalah toko yang sejak kecil jadi idola sewa film mereka. Setelah bolos dari kerjaan ia langsung mendatangi rumah Yuyung. Kali ini mereka hanya bertiga, di tambah dengan si Alex yang kebetulan hari itu sedang libur kerjanya. Ia tertarik untuk ikut karena cerita dari Yuyung dan Peyok yang mendengar suara aneh dan menyeramkan dari loteng atas rumah Yuyung. Saat tiba di rumah Yuyung, si Alex ternyata sudah standby duluan. Ditemani segelas kopi panas dan sebungkus rokok putih kegemarannya. Tak lupa juga gorengan yang sudah ia beli sebelum ke rumah Yuyung tadi. Sambil membaca komik favoritnya ia melirik VCD yang di bawa Peyok. Ga tanggung tanggung 5 buah VCD film p***o yang ia sewa hari itu. Alex hanya bisa menepuk jidatnya, karena sebenarnya ia tidak begitu suka dengan dunia perbokepan. Beda halnya dengan kedua temannya, Peyok dan Yuyung yang maniak p***o. Apalagi jika habis bertemu Lingua yang sekarang berpenampilan sangat beda jauh dengan waktu kecil dulu. Di tengah film yang mulai berputar, kembali terdengar suara yang mereka sudah tunggu tunggu yaitu suara derap langkah orang berbaris. Awalnya pelan suara itu munculnya, namun lama kelamaan suaranya makin membesar. “Sssttt … kau dengar itu Lex?” tanya Yuyung lirih. “Eh, iya Yung. Itu beneran suaranya?” tanya Alex kembali karena ini baru pertama kali ia mendengar suara tersebut. “Iya Lex, nah kali ini suaranya lebih ramai lagi dari kemarin Lex, coba denger betul betul.” “Eh kalian ngomong apaan sih, badanku mulai merinding nah,” ujar Peyok sambil menunjukkan bulu kuduk di lengannya yang mulai meremang. “Itulah kau Pop, penakut betul, kalah dengan bencong.” “Aw, aku kalau dengan manusia saja ga takut aku, Yung. Ini hantu Yung, yakin aku ba.” “Sstt … diam dulu nah, coba dengar suaranya lagi. Ga cuma suara orang berbaris, tapi suara obrolan mereka seperti orang asing, bukan bahasa kita.” Kata Alex. Drap drap drap drap … Suara itu makin jelas, sebentar timbul sebentar menghilang. Ketiga pemuda ini semakin heran dengan suara tersebut. Di dengar dari arahnya memang berasal dari loteng lantai atas rumah Yuyung. Namun di antara ketiganya masih ada keraguan untuk naik ke atas loteng tersebut. Apalagi Yuyung sang tuan rumah yang sudah pernah merasakan sensasi saat sendiri mendengar dan di kerjai saat di loteng tersebut. Sementara si Peyok sudah pasti semua temannya juga pada tahu jika ia seorang yang paling penakut meski dari fisik jika ada yang melihatnya pasti tidak akan ada yang percaya jika ia orang yang penakut. “Ada yang berani naik ga?” tanya Alex makin penasaran, kebetulan ia ga suka film p***o, justru tujuan ia sebenarnya ke rumah Yuyung hanya untuk suara ini seperti yang Yuyung ceritakan kemarin. “Ah malas aku, Lex. Kau sajalah ke atas, kapok dah aku. Ajakin si Pop tu, biar kurus juga badannya turun naik tangga tu. Jangan bokep aja kau urus tu Pop.” “Malas juga aku ba, mending aku nonton bokep nah.” Peyok kembali melanjutkan tontonan bokepnya. Matanya sudah ia fokuskan kembali pada tontonan yang sempat terhenti tadi, tapi kali ini suaranya ia pelankan karena temannya yang lain sedang memfokuskan pada suara yang sedang timbul tenggelam tersebut. “Ya sudah aku ta naik ya Yung, penasaran aku ba.” Alex akhirnya memilih pergi ke atas. Ia memang pemuda yang paling berani, apalagi pengalamannya saat kerja di bandara tempo hari yang mendapat terror juga. Dia juga yang memiliki insting jika ini ada hubungan dengan kejadian horror yang menimpanya tempo hari di tempat kerjanya. “Naik saja Lex, di atas ga ada orang juga kok. Tapi aku ga tanggung jawab lho ya kalau kau siup, ku suruh si Peyok gong gong kasih nafas buatan ke mulutmu itu.” “Gimbeknya kau Yung, aku biar begini sudah ada pacar cewek, normal ba, ketimbang kamorang berdua itu yang jomblo akut ga laku laku.” Sahut Alex sambil tersenyum. “Kimaknya kamorang berdua nih, pasti aku jadi tumbal terus, kenapa bukan kau saja Yung. Aku ada Lingua yang sedang menanti kok, tenang saja jodoh pasti akan datang itu pada saatnya.” “Hahaha … mana mungkin Lingua naksir cowok pemalas, tukang bokep maniac, pelit, gong gong lagi.” Balas Yuyung. “Hahaha … Lingua lho naksirnya dengan Juna, sudah dari dulu ba dia cinta matinya tapi Junanya sok jual mahal, g****k kok memang orang itu.” Umpat Alex menyahuti. Sambil melihat ke arah atas loteng, Alex perlahan naik. “Hati hati Lex, kalau nyerah jangan lupa lambaikan tanganlah.” Kata Peyok menertawakannya. Alex lalu mencari sumber suara tadi. Ia belum tahu harus kemana mencari sumber suara yang ia dengar tadi. Drap drap drap drap … Suara itu muncul lagi. Kali ini ia merasa yakin jika arahnya berasal dari depan atau sekitar kamar Yuyung. Berjalan ia perlahan menuju arah suara yang masih terdengar tersebut. Suasana ruangan yang gelap karena kurangnya pencahayaan membuat ia kurang jelas melihat apa yang ada di loteng atas tersebut. Tempat saklar lampu juga ia tidak tahu dimana tempatnya. Hanya mengandalkan cahaya dari sinar mentari yang bisa menembus rumah itu, ia coba mencari suara tersebut. Mendadak dari arah belakang ia merasakan ada sebuah angin yang menyapu tengkuk lehernya dengan lembut. Sontak membuat Alex sedikit terkejut dan bulu kuduknya mulai meremang. Tapi itu tak membuat surut langkahnya untuk kembali mencari suara tadi. Ia coba cari lagi kemana arah suara tadi. Sementara dari arah belakang, tanpa ia sadari ada sesosok hitam besar yang sedang mengawasinya. Entah sejak kapan sosok itu berada di situ. Alex kemudian mengarah ke teras depan. Mengikuti arah sinar mentari, tapi ia tak menemukan apapun di sana. Hanya terdapat barang barang bekas dan berdebu yang sengaja di tumpuk di ruangan itu. Suara tadi juga tiba tiba menghilang saat ia berada di ruangan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN