Sampai saat ini Juna belum juga menemukan identitas asli seorang Alena. Yang ia tahu hanyalah gadis itu cantik dan humble. Tempat tinggal dan kelas kuliah serta asal usulnya semua tidak ia ketahui. Semua teman mahasiswa di kampus juga ia sudah mencoba cari tahu tapi hasilnya masih jauh api dari panggang, nihil. Begitu juga dengan pedagang kaki lima yang berjualan di depan kampus yang menjadi langganannya, tidak ada satupun yang pernah melihat sosok gadis yang seperti di ceritakan oleh Juna. Tidak ada gadis keturunan bule yang kuliah di kampus tersebut.
Juna makin penasaran dengan sosok gadis itu. Sudah semingguan ini ia tidak bertemu dengan gadis itu. Ia sudah mencoba melupakan gadis itu tapi semakin ia melupakan maka bayangan gadis itu semakin kuat berada di ingatannya. Bahkan ia merasa jika Alena sedang berada di depan matanya. Tersenyum dan tertawa padanya.
Beberapa teman di kos yang melihat tingkah laku Juna, coba mengingatkan jika ia sudah bertingkah aneh. Tidak seperi Juna yang selama ini mereka kenal. Ia jadi malas berkumpul dengan teman temannya. Di ajak hang out pun tidak ia hiraukan malah lebih senang ke kampus. Meskipun tidak ada jadwal kuliah, ia lebih senang nongki disana di taman belakang saat pertama kali ia bertemu dengan gadis itu.
“Jun, hei … Jun!” mendadak dari arah selatan terdengar suara gadis yang memanggil namanya. Ia coba memastikan siapa sosok yang telah memanggil namanya itu. Setelah ia benar benar pastikan barulah ia ingat dengan sosok gadis itu.
“Hei, kamu ngapain di sini? Tumben jam segini masih di kampus?”
“Lha kamu itu lho yang aneh, hampir tiap hari sering ku lihat duduk di pinggir kolam sampe menjelang magrib baru pulang.”
“Eh kok kamu tahu aku sering nongki disini, pasti kamu mengikuti aku ya, hayoo ngaku deh?” wajah gadis itu langsung memerah begitu di todong oleh cowok yang ia sukai.
“Ng-ng-nggak kok Jun, kebetulan saja aku pas lewat mau kuliah.”
“Tapi hari ini kan ga ada jadwal kuliah, kenapa kamu kesini juga?” kali ini gadis manis itu tak bisa mengelak lagi setelah tahu jika hari ini adalah hari minggu yang memang tidak ada jadwal kuliah.
“Eh aku permisi dulu ya Jun. Tadi kesini bareng teman, mereka pasti cari cari aku karena ku tinggal tadi. Bye” Gadis itu tampak terburu buru dengan raut wajah yang tampak aneh. Seperti ada yang ia sembunyikan dari Juna. Belum sempat ia mengobrol banyak dengan gadis itu, sudah ia melongos pergi begitu saja.
Juna yang sedang duduk di taman lalu melanjutkan lamunannya sambil memperhatikan gerakan ikan ikan mas yang berlalu kesana kemari secara bergantian. Warna ikan yang begitu cerah membuat ia jadi betah berada di kolam itu. Hingga tanpa terasa waktu sudah mulai beranjak magrib. Sinar mentari juga sudah mulai tenggelam di ufuk barat.a kamu kesini juga?” kali ini gadis manis itu tak bisa mengelak lagi setelah tahu jika hari ini adalah hari minggu yang memang tidak ada jadwal kuliah.
Sudah seminggu Juna melakukan hal yang sama setiap harinya. Jika cuaca sedang normal saja pasti ia akan mendatangi taman belakang kampus tempat ia pertama kali atau seringnya ia bertemu dengan sosok Alena. Hanya hujan saja yang mampu menahan kehadirannya di taman itu. Hari demi hari ia lalui tanpa sekalipun menemukan yang ia cari. Gadis yang ia harapkan hadir saat itu tidak ada muncul di taman tersebut.
“Koe kayak kurang kerjaan saja, Jun. Macam cewek hanya satu saja di kampus ini. Itu lho teman teman kita banyak yang naksir kamu, tinggal pilih saja lho mau yang modelnya gimana.” Kata salah satu teman kos Juna yang memperhatikan tingkah laku temannya yang mulai berubah.
“Koe ra ngerti sih, ceweknya ini seperti apa. Kalau koe lihat sendiri pasti si Menik cewekmu itu koe tinggal lunga, ora bali bali.”
“Hahaha … macam lagu wae Jun, ora bali bali di tinggal lunga, arep ta duduhi dalane, ngono ta?” kembali ia mendapat bullyan dari temannya, tapi ia tetap tak peduli dengan itu semua.
Hampir tiap hari dering telepon dari beberapa teman cewek yang menanyakan kabar Juna. Biasanya memang ia paling antusias jika ada telepon di kos yang bordering mencarinya. Tapi semenjak ia mengenal gadis bule bernama Alena, semangat untuk menjelajahi hati para gadis kampus mulai surut. Ia kurang b*******h lagi. Karena pesona Alena telah membuat ia jadi melupakan mereka semua yang menaruh harapan pada Juna.
******
Keesokan harinya beredar kabar di kampus mengenai sesosok gadis yang meninggal secara tragis. Ia di temukan gantung diri di ruangan toilet salah satu lantai atas di gedung paling ujung dimana tempat kuliah Juna setiap harinya.
Kabar itu langsung menghebohkan suasana kampus tempat Juna kuliah beserta teman temannya yang lain. Apalagi korban adalah orang yang di kenal oleh Juna. Terakhir ia melihat gadis itu saat menyapanya ketika berada di taman. Raut wajah ketakutan yang ia perlihatkan saat terakhir itu sempat membuat ia curiga dengan tingkah lakunya yang tak biasa.
Juna juga sebenarnya mengerti tentang perasaan gadis itu padanya, tapi ia enggan menanggapi saat itu. Karena ia merasa tidak memiliki feel samak sekali dengannya. Baginya gadis itu lebih baik sebagai teman ketimbang pacar, karena khawatir akan membuat gadis itu pasti kecewa dengan kelakuannya selama ini.
“Woi bro, lagi ngapain lu, ngelamun aja, ntar kesambet tau rasa lu.” Mendadak dari arah belakang menyadarkan lamunan Juna yang membayangkan jika memiliki seorang kekasih seperti Alena. Ia bisa dengan mudah membuat iri siapapun yang melihat ia berjalan dengan gadis itu. Tidak semua pellet jepang bisa mengalahkan tampang Juna yang caem, itu yang ingin ia buktikan saat itu. Tapi sayang ia kesulitan dengan keengganan gadis itu untuk mau di antar.
“Eh lu bro, lagi ngapain lu jam segini masih di kampus?”
“Biasa men, gue mau jemput bokin gue, tadi dah janji mau di jemput di depan kampus, tapi karena kelamaan gue masuk aja dulu sambil cuci mata, gitu … “
“Buset dah, banyak amat cewek lu bro, ini yang mana lagi, tumben lu yang jemput, biasa juga lu paling anti jemput cewek, kenapa sekarang berubah bro?”
Teman Juna ini adalah anak sultan, dia memiliki banyak pacar dan selingkuhan. Hampir satu kampus berhasil ia dekati. Dengan modal kekayaan yang di miliki bokapnya, rasanya tidaklah sulit untuk mendapatkan gadis yang ia inginkan. Mulai dari yang paling cantik, gadis model hingga ayam kampuspun bisa ia beli.