Rasa Penasaran

1716 Kata
Hari yang cerah untuk memulai sebuah hubungan. Juna yang pagi itu harus turun ke kampus tepat pukul 6 pagi. Meski rada telat ia sangat antusias menyambut kuliah kali. Tidak seperti biasanya ia bermalas malasan untuk menuntut ilmu. Ada sesuatu yang membuat ia jadi termotivasi turun kuliah pagi itu. Siapa lagi kalau bukan gadis keturunan bule yang semalam dan beberapa hari lalu ia temui di taman. Penampilan Juna hari ini sangat berbeda dari hari biasanya. Meski kesan slengean tetap saja tidak bisa lepas dari karakter seorang Juna. Berkaos oblong, sepatu kets, celana levis dan rambut biar acak tanpa di sisir. Ia paling malas kalau soal berdandan. Minimal bisa mandi saja ia sudah hebat bagi teman teman yang hapal betul dengan Juna. Tak lupa semprotan wangi bermerk Hugo yang menemani kesehariannya meski itu parfum level bajakan. Kuliah hari ini sebenarnya ia tidak mau ambil pusing meski itu materi yang tidak ia sukai, tetap saja ia akan masuk ke dalam kelas untuk mengikutinya. Ada suatu hal yang masih membuat ia penasaran dan makin penasaran untuk mencari tahu lebih jauh tentang sosok itu. Siapa lagi kalau bukan Alena. Selama kuliah di kampus ini ia tidak pernah ketemu dengan sosok itu. Mulai dari masa ospek hingga memasuki masa perkuliahan, tak juga ia temukan gadis itu meski di kelas yang lain. Tidak banyak informasi yang ia ketahui mengenai gadis keturunan bule tersebut. Yang ia tahu hanyalah gadis itu cantik dan humble pada dirinya, meski sebelumnya tak pernah saling mengenal satu sama lain. Kebetulan kuliah hari ini di gedung yang sama saat ia bertemu dengan Alena. Ia berharap bisa bertemu sosok gadis itu. Meski itu di jam pulang kuliah tak masalah baginya. Juna juga berusaha cari tahu siapa sosok gadis itu yang begitu ramah meski sangat cantik dari mahasiswi di kampus yang selama ini ia lihat. Kampus Juna memang terkenal akan mahasiswi mahasiswinya yang cantik cantik dan berkelas. Hampir semua mahasiswa dari kampus lain itu mengakui kecantikan mahasiswi kampus ini selain kawasan kampus yang juga sangat keren dengan nuansa alamnya. Satu nilai tambah lagi adalah kampus Juna juga memiliki sebuah stasiun radio yang bentuknya seperti menara Eiffel. Jadi jangan heran bila hampir tiap hari mahasiswa dari kampus lain yang nongkinya di kampus yang keren ini. Persaingan jadi cukup ketat juga jika sudah mahasiswa kampus lain mencari mangsa di kampus Juna. Apalagi modal mereka juga ga main main, minimal bisa pakai pellet Jepang atau Eropa seperti Esteelo dari Jepang atau BMW. Jika bersaing menggunakan pellet itu jelas ia kalah karena Juna tak memiliki itu semua. Ia hanya bermodalkan tampang dan hati serta speak yang maut untuk mendapatkan hati seorang gadis. Kembali ke jam kuliah Juna tadi. Ia dengan penuh semangat mengikuti kuliah. Meski di dalam ruangan itu ada seorang gadis yang telah ia kecewakan. Icha sesekali memperhatikan cowok yang selama ini ia sukai. Juna merasa tak bersalah sedikitpun dengan gadis itu. Ada juga mahasiswi lain yang pernah ia kecewakan selain Icha. Ia juga hanya berani melihat dari jauh karena sebelumnya ia sudah mendapat terror dari seseorang yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Gadis itu adalah adik kelas Juna yang kebetulan materi kuliahnya sama dengannya saat itu yang ia ambil. Sejak awal ketemu cowok itu ia jadi suka dengan gayanya. Hatinya yang mudah tersentuh juga adalah salah satu alasan membuat ia begitu menyukai Juna. Tapi sayang ia tak berani mengungkapkannya saat itu, hanya sebatas melirik dan mengagumi secara diam diam. Nama gadis itu adalah Asti. Gadis lugu yang berasal dari kota gudeg alias Jogja. Jauh jauh ke kota ini hanya untuk menikmati kotanya yang adem selain tujuan utama adalah menggapai cita citanya menjadi seorang akuntan handal. Hingga suatu hari saat semuanya sudah siap, hatinya yang sudah ia yakinkan dan juga moment yang benar tepat untuk mengungkapkan isi hatinya pada Juna. Mendadak ia di halangi seorang gadis keturunan bule. Hatinya langsung menciut ketika tahu ada seorang gadis yang sangat cantik berada di dekat Juna kala itu. Gadis ini tahu betul dengan sosok Alena yang sedang dekat dengan Juna. Ia memiliki kemampuan indera ke 6. Jadi tak heran jika ia begitu ketakutan saat melihat Alena. Tidak seperti Juna yang tampak hepi saat melihat Alena saat itu. Sang gadis ingin mengingatkan cowok itu tapi ia merasa sulit untuk mendekatinya. Selalu saja sosok Alena tiba tiba hadir di sisinya dan menghalangi niatnya tadi. “Apa yang akan kamu lakukan?” tetiba sosok Alena sudah menyapanya duluan “Se-sejak kapan kamu ada di sini?” sedikit terkejut gadis itu ketika menyadari ada sosok Alena di sampingnya. “Sejak kamu berniat ingin ikut campur urusanku.” Gadis itu lalu menjauh dari Juna. Ia tahu aura yang ia rasakan dari sosok Alena adalah aura yang penuh dengan kebencian. Rasanya tak mungkin ia melawan saat itu di tengah ramainya kerumunan orang orang. Apalagi ada Juna juga di situ. Niatnya untuk memperingatkan Juna akhirnya ia batalkan. Tapi ia tetap berencana akan kembali mengingatkan cowok itu. Keesokan harinya gadis itu mencoba mendatangi kos Juna seorang diri, tapi ia harus kembali kecewa karena setibanya disana ia sudah di tunggu oleh sosok Alena di depan gerbang kos. Padahal dari kos ia sudah merasa yakin jika sosok Alena tidak akan ke kosan Juna, apalagi waktunya di siang hari. Tapi ternyata salah, belum juga ia bertemu dengan Juna, sudah di cegah duluan. Sambil tersenyum Alena melihati gadis tersebut berbalik arah tak jadi menemui Juna. Selanjutnya kami berdua terlibat obrolan ringan sambil menanti datangnya adzan sholat isya. Bang Ipul kami biasa menyebutnya. Dia petugas cleaning servis dari perusahaan rekanan kantor kami dalam artian staff outsourching. Dalam bekerja ia sangat telaten dan bertanggung jawab. Ia juga ramah dengan semua orang yang pernah ia temui. Dan hal yang paling buat aku angkat topi adalah ketekunannya dalam beribadah meski dalam situasi sesibuk apapun pasti tak pernah ia lewatkan. “Pak Aksa merasa nyaman kerja disini?” “Iya nyaman bang, semua orangnya baik baik, apalagi dengan Bang Ipul.” “Ah Pak Aksa bisa aja. Beberapa hari kerja disini ada yang ganggu tidak?” Sepertinya aku tau arah obrolan ini kemana arahnya. Meskipun aku tau yang ia maksud aku enggan untuk berterus terang dengan situasinya. Aku malah coba mengorek lagi informasi yang lebih jauh mengenai apa yang Bang Ipul ketahui mengenai kantor ini. “Ganggu seperti apa itu bang?” tanyaku dengan polosnya. “Biasanya kalau ada yang baru, ada yang iseng mengganggu orang tersebut. Nah saya ga tau apa Pak Aksa termasuk orang yang di ganggu tersebut.” “Ga ada sih pak aman aja beberapa hari ini. Karyawan lain juga kemarin ada yang beritahu saya untuk jaga ucapan dan semua tingkah laku saya.” Tak berapa lama adzan isya telah berkumandang dari kejauhan. Kami pun mengakhiri obrolan saat itu dan bergegas mengambil air wudlu untuk melanjutkan sholat isya. Terlihat hanya kami berdua saja yang melakukan sholat isya malam itu. Sempat hatiku bertanya kala melihat teman teman di kantor yang selalu sibuk dengan kerjaannya tapi melalaikan akan kewajibannya sebagai seorang muslim. Pantas saja jika selama ini mereka selalu di ganggu dan dibuat nyaman oleh makhluk sesat yang ada di kantor. Setiap tiba masa solat tidak ada satupun yang beranjak untuk melakukannya, kecuali Bang Ipul yang memang orangnya taat beribadah. Wajar saja penghuni lain di kantor ini begitu senang dengan orang orang yang ada di dalamnya. Dengan kehadiranku malah jadi bertolak belakang dengan mereka. “Jangan ikut campur urusan kami!” tak berapa lama selesai solat jamaah tadi kembali terdengar sebuah suara yang juga menegurku. “Aku takkan ikut campur selama kalian tidak mengganggu umat Rasul ku, Muhammad SAW.” Jawabku mulai tegas. Dari kejauhan langsung muncul sosok hitam besar dengan beberapa anak buahnya yang memiliki rupa tak kalah jeleknya dengan ia. Wajah mereka menunjukkan kemarahan dan jelas itu mengarah padaku. Untung saja saat itu Bang Ipul sudah berlalu duluan. Hanya tersisa aku dan si Jin o***g. Sahabatku satu ini sudah terlihat tak sabar ingin memusnahkan mereka yang ada di hadapan. Tapi aku berusaha menahannya. “Sabar jin. Lu bawaannya perangggg mulu, heran gue.” “Tuan sudah cukup sabar, biar kami yang selesaikan mereka.” “Jangan kataku!” nadaku agak ku tinggikan, artinya kali ini aku menegaskan agar ia menurut keinginanku. “Baik tuan!” “Siapa kamu? Berani sekali mengganggu urusan kami disini.” Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaan pimpinan mereka. Sepertinya mereka memang belum begitu mengenalku. “Itu tidak penting wahai makhluk! Aku siapa atau apapun itu bukan urusanmu. Aku hanya minta jangan kalian ganggu lagi orang orang di kantor ini. Paham!!” Tiba tiba dalam sekejab di sisi kiri dan kananku hadir beberapa sosok ulama terdahulu yang kharismatik. Satu persatu hadir seperti angin yang berhembus. Aroma yang mereka hembuskan begitu wangi dan aku sangat menyukai wanginya. Berpakaian serba putih dengan di hiasi bolang di setiap kepala mereka. Cahaya yang di pancarkan cukup menyilaukan bagiku. Sementara si Jin o***g yang mengawalku tadi terlihat berada di posisi belakangku. Biasanya ia memang tak berani berada di sisiku jika sosok para ulama ini ketika hadir. “Assalammualaikum Aksa.” “Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh para Eyang.” “Apa kabarmu nak?” “Alhamdulillah Eyang, saya terlihat baik seperti yang para Eyang lihat.” “Kenapa hadir tiba tiba ini Eyang?” tanyaku lagi karena tidak biasanya mereka hadir tanpa memberi kabar. “Kami merindukan kehadiranmu di dunia kami nak.” “Oh nggih Eyang, Insya Allah dalam waktu dekat saya berkunjung ke dunia para Eyang ya.” Di ujung sana terlihat sosok yang hitam besar tadi sudah bersujud. “Ampun tuan, maafkan kami. Ampun tuan, jangan bakar kami tuan. Sungguh kami tidak tahu jika tuan adalah …” “Aku tidak ingin mengusir kalian dari tempat ini. Yang ku minta hanya jangan ganggu orang orang yang bekerja disini. Karena ulah kalian mereka jadi lalai akan Tuhan-Nya. Cukup kalian saja yang tersesat jangan kau bawa Umat Rasul ku.” Dalam sekejap merekapun menghilang dengan menyisakan asap hitam. Tidak Nampak lagi sosok yang angkuh tadi menantang. “Baiklah nak kami berpamitan dulu, jangan lupa untuk berkunjung ya. Assalammualaikum.” Para eyang pun turut pamit pergi. Aku hanya tersenyum kecil menyaksikan kejadian barusan. Si o***g juga sudah menghilang entah kemana. Segera ku kembali ke tempat kerjaanku khawatir nanti di cari pimpinan karena sudah terlalu lama meninggalkan tempat. Semenjak hari itu di kantor sudah tidak ada lagi yang berani mengganggu teman teman di kantor. Namun sayang masih ada teman yang tidak mau melaksanakan kewajibannya sebagai muslim. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN