Juna masih merasa bingung dengan kejadian yang menurut ia aneh. Tidak biasanya ia begitu sulit mendapatkan seorang gadis gebetan meski hanya cinta semalam. Padahal sudah banyak gadis yang ia kenal meski terkadang dengan sedikit memaksa. Melalui comblang sang teman juga ia sudah mencoba, tetap hasilnya sama. Selalu saja gagal saat ingin finishing. Meski ia sudah bertekad tak ingin mempermainkan sang gadis, tapi tetap saja ia tidak berhasil mendapatkan cinta sejatinya.
Selang beberapa saat setelah mendapat telpon dari teman lama.
“Jun, kapan kau pulang?” tanya seorang teman masa kecil Juna di kampung asalnya, si Alex.
“Ntar Lex, pas liburan lebaran ini aku mudik. Kangen kau ya?”
“Kimaknya kau! Jangan lupa oleh olehnya bro, kodew yang mbois ya.” (cewek yang cantik)
“Ah kira kau mau kasih aku duitkah buat beli oleh oleh, ternyata sama saja kau dengan Peyok & Yuyung. Akeh tunggale Lex lek ngono.” (Banyak samanya kalau begitu).
“Mana ada ba duit ku kasihan nah, kerja Cuma satpam aja kita nih, Jun. Kau enak kuliah, malah main cewek terus ku dengar di sana.”
“Hahahaha … hoax itu Lex. Ada kabar apa nih, Lex? Tumben kau telpon.”
“Dalam sebulan ini, ada kejadian yang aneh, Jun. Aku, Yuyung, Peyok, Didi dan Cecep hampir semua mendapat terror, Jun. Hampir semua mengalami kejadian yang aneh aneh. Mulai dari …” belum selesai ia melanjutkan cerita itu tiba tiba terdengar nada panjang yang menandakan terputusnya obrolan di telpon itu. Juna hanya mengernyitkan dahinya tapi tidak terlalu ia pikirkan tentang apa yang di katakan Alex tadi.
Juna lalu bersiap siap untuk kuliah. Malam ini ia mendapat jadwal kuliah malam hari. Kebetulan ini adalah mata kuliah favoritnya yaitu tentang saham dan surat berharga. Tentu saja bukan esensi mata kuliah yang sebenarnya ia sukai tapi lebih ke unsur gambling dari dunia saham tersebut. Sudah menjadi rahasia umum jika Juna adalah penggila segala sesuatu yang berhubungan dengan keberuntungan dan kesialan.
Selepas magrib ia langsung meluncur ke kampus. Mata kuliah malam ini sangat menyenangkan buat Juna karena materi favorit. Kebetulan juga dosen sang pengajarnya adalah dosen wanita termuda di kampusnya. Meski tak mengerti materi setidaknya melihat wajah sang dosen sudah membuat hatinya senang. Sangat beda dengan mata kuliah akuntansi yang tidak begitu ia sukai.
Masuk ke gerbang kampus ia melalui pintu depan, karena kebetulan ia mendapat tumpangan gratis dari teman satu kosnya. Suasana saat itu cukup ramai karena memang jadwal weekend untuk malam di hari jumat. Untuk sabtu besok sudah tidak ada jadwal kuliah malam untuk semua mahasiswa.
Seperti biasa, ruangan kuliah malam Juna adalah gedung paling ujung. Namun kali ini hanya ruangan lantai bawah yang di gunakan. Ia jadi tidak perlu susah payah menaiki tangga lagi. Kondisi di kampus jika malam terasa sangat berbeda dengan pagi atau siang hari. Meski di lengkapi dengan pencahayaan dari lampu di tiap sudut, tetap saja terasa ada yang ganjil..
Hari ini ia bisa turun kuliah lebih awal dari biasanya yang sering telat. Juna masih bisa mengatur waktu jika jadwal kuliahnya malam, tapi akan jadi sulit jika menyangkut pagi atau siang yang padat kegiatannya. Apalagi ia sedang keranjingan dengan permainan game di PC yang bisa memakan waktu hingga berjam jam lamanya.
Waktu 2 jam lamanya selama kuliah berlangsung ia lalui dengan rasa hepi. Di tambah dengan dosen yang manis membuat ia betah berlama lama dalam mengikuti kuliah itu. Hanya di mata kuliah ini ia bisa bertemu dengan dosen yang benar benar cantik, mudan dan menyegarkan mata.
Selesai jam kuliah, ia sengaja pulang terakhir karena masih ingin melihat sang dosen yang ia kagumi.
“Lho kamu kok ga pulang? Nunggu apa?”
“Iya bu dosen, lagi nunggu someone bu.” Sambil menatap sang dosen dengan memutar pulpen di tangannya.
“Hah, siapa itu?” sambil ia sibuk membereskan buku buku materi yang tadi ia berikan.
“Bu dosen.” Jawabnya tersenyum.
“Hmm … kamu mau saya kasih nilai D atau C?” sang dosen menjawab sambil tersenyum. Di ruangan itu hanya tersisa mereka berdua. Mahasiswa lain sudah pulang lebih dulu.
“Saya rela mendapat apapun demi mendapatkan C seseorang, bu?”
“Apa itu C? kamu yakin mau saya beri nilai C ya?”
“C itu sama dengan Cinta, bu.”
Sang dosen hanya tersenyum mendengarnya lalu meninggalkan Juna begitu saja. Kali ini Juna merasa puas bisa mengobrol walau hanya sedikit dengan dosen idolanya. Ia lalu berdiri dari duduknya dan perlahan melangkah keluar mengikuti sang dosen. Tapi ia berusaha menjaga jarak karena tak ingin ada yang melihat kelakuannya dengan mendekati dosen itu.
Saat sang dosen keluar dari gedung, tiba tiba mata Juna mengarah pada sosok yang sedang berdiri di sebuah taman. Ia merasa tidak asing dengan sosok itu. Juna jadi melupakan tujuan semula tadi. Entah kenapa ia lebih tertarik dengan sosok di taman jalan belakang dari pada sang dosen yang jadi idolanya.
“Hai, lagi ngapain, kok sendirian?”
“Hei Juna, iya lagi melihat ikan di kolam itu.”
“Memang kenapa dengan ikannya? Pasti dia pada ngerubungin kamu ya?”
“Ngerubungin kenapa?” tanya gadis itu penasaran.
“Ngerubungin gadis manis seperti kamu, iya … kamu, A le na.” Kata Juna sambil melihat kolam ikan juga.
“Hahahaha … kamu paling jago ya menaklukkan gadis.” Gadis ini tertawa lepas sambil melihat Juna di sisinya.
“Udah malam begini kamu masih di sini sendirian, ga takut apa dengan demit di kampus.”
“Jika ada kamu di sisiku, kenapa harus takut, Jun?”
Juna yang mendapat serangan balik dari gadis jadi tersenyum.
Sialan nih cewek kok bisa manis gitu sih balasnya.
Setelah itu mereka tampak akrab dengan obrolan soal kampus dan keseharian. Selang beberapa menit kemudian Juna mengajaknya pulang bareng. Tentu saja gadis itu tak menolak ajakan don juan kampus. Sepanjang taman yang mereka lalui, semerbak wangi bunga bertebaran mengelilingi mereka. Juna masih tak menyadari jika wangi itu bersumber dari tubuh sang gadis yang sedang berjalan bersamanya. Wanginya mampu membuat seorang Juna bisa lupa daratan.
Sampai ketika hampir tiba di gerbang luar kampus, Alena berpamitan pada Juna karena berbeda arahnya.
“Aku ke arah sini ya Jun.”
“Ku antar ya.”
“Ga usah Jun, repotin kamu. Lagian tempat tinggalku juga jauh.”
“Beneran Alena, aku sanggup kok nganter.”
“Please, ga usah ya. Aku pamit dulu.”
“Beneran nih ga perlu di anter? Aku ga ada kesibukan juga kok.”
“Yup ga usah Jun. ok, bye.”