Who's That Girl?

1058 Kata
Hubungan Juna dengan beberapa gadis yang ia kenal mendadak mulai merenggang. Entah kenapa setiap ingin memulai ada saja halangan yang membuat ia gagal untuk menjalin hubungan dengan mereka. Padahal sedari awal gadis yang ia incar itu selalu yang memulai memberi tanda jika menyukai dirinya. Tapi saat akan mendekatinya pasti tiba tiba berubah 180 derajat. Awalnya Juna mengira jika saat itu memang mereka sedang ingin mempermainkan dirinya. Tapi saat ngobrol di telepon mereka malah sangat bahagia dengan suara dan canda tawa ala Juna. Segala rayuan maut yang biasa ia lakukan selalu berhasil meyakinkan mangsanya untuk percxaya dengan omongannya. Namun ketika mereka membuat janji dan bertemu di suatu tempat selalu hasilnya tidak sesuai harapan. Juna seperti merasa di bohongi dan di permainkan oleh gadis incarannya. Ia sampai marah besar saat kembali di hubungi oleh gadis yang telah membuat janji dengannya. “Kamu kok tega sih, Ris. Udah bohongin aku, mempermainkan perasaanku. Aku lho nunggu kamu selama satu jam, sampai berjamur hatiku karena kamu, Ris.” Ia masih berusaha sabar saat menghubungi gadis incarannya itu. “Dasar buaya demit, cowok ga ada akhlak lu, Jun!” Juna yang berada di sebrang telpon itu jadi kaget mendapat cacian dari gadis itu. Bukankah seharusnya dia yang memaki gadis karena telah membohonginya saat itu. “Lho kenapa, Ris?” “Halah ga usah belagak culun deh, Jun!” “Kamu kenapa sih beb, beneran aku udah nunggu kamu sejam di taman kampus.” “Iya benar kamu nunggu sejam, tapi ga sendiri kan?” “Ah kamu jangan bercanda dong, Ris. Ga lucu tau. Kamu kan tau aku kalau dah sayang dengan satu orang, ya ku jabanin kalau hanya nunggu kamu, Ris. Meski itu dua jam pasti ku tunggu kok.” “Udahlah Jun, ga usah ngegombal, dah busuk rayuan mu itu.” “Kamu kenapa sih, Ris?” “Udah ketangkep basah masih aja ngeles lu kayak t*i palat.” “Aku ga ngerti maksud kamu apa?” “Itu kamu dengan siapa? Siapa cewek itu? Putih dan cantik, gitu kamu ngaku jomblo, ga punya pacar.” “Hah? Cewek apaan? Aku makin ga ngerti, sumpah, Ris!” “Udahlah Jun, ga usah sumpah sumpah deh, ntar lu kemakan sumpah lu sendiri, tau rasa deh. Enak banget ye, bermesraan berdua di taman. Pantesan ga pernah mau ketemuan di kos, rupanya ada gebetannya, dasar kadal ngepet, lu!” Klek… tit… tit… Juna makin bingung dengan apa yang ia obrolkan dengan gadis itu. Seharusnya ia yang memaki gadis itu yang telah membohonginya, tapi ini tidak. Malah ia yang di semprot habis habisan tanpa sempat menjelaskan apapun pada gadis itu. Selanjutnya adalah Bella, seorang gadis labil yang baru saja di khianati pacarnya. Cantik, putih dan seorang model. Pertemuannya dengan Juna di moment yang salah buat gadis itu. Ia sedang galau tentang hubungannya dengan cowok yang telah ia pacari selama 2 tahun terakhir. Melalui seorang teman yang saat itu sedang berjualan di depan kampus. Dari teman itu akhirnya mereka bisa saling mengenal. Kesempatan emas itu tak bisa di anggurin begitu saja buat seorang Juna yang sedang mencari cinta sejati. Apalagi pesona dirinya sedikit banyak membuat Bella mulai melirik dirinya yang dulu di kira Juna, gadis itu sombong. Bella memang sedikit sombong untuk memberi respon pada cowok yang coba berbaik hati padanya karena berusaha menjaga perasaan cowoknya. Ia typical cewek yang sangat setia pada pasangannya. Perkenalan mereka di tempat jualan teman akhirnya berlanjut. Seperti biasa Juna yang tak bermodal, hari itu sedang meminjam kendaraan teman di kosnya. Ia bermaksud ingin mengunjungi seorang gadis yang kebetulan ia kenal kemarin, siapa lagi kalau bukan Bella. Kebetulan tempat tinggal gadis itu tidak jauh dari area kampus. Sebelumnya ia sudah membuat janji ngedate dengan gadis itu. Baru tiba di depan kosnya, ada seorang penghuni kos yang menemui Juna di teras kos. Tampak dari raut wajahnya ia begitu ketakutan. “M-m-maaf mas. Mas yang bernama Juna ya?” “Iya saya maafkan mba, bener saya Juna yang ganteng, kok mba tau nama saya?” “Saya teman sekamarnya Bella, mas.” “Oh iya, mana Bella nya, mba?” “Baru 5 menit yang lalu ia di bawa keluarganya pulang ke kampungnya.” “Lho kok begitu? Kan udah ada janji dengan saya malam ini, mba.” “Iya, maaf mas.” Gadis itu lalu terlihat sedih dan menundukkan wajahnya. “Mba ga sedang bercanda kan? Bella ga nge-prank saya kan?” tanya Juna tak percaya. “Bisa kita duduk sebentar mas? Ada yang mau saya obrolkan sedikit dengan mas Juna.” Mereka segera mencari tempat duduk yang terlihat lengang di ujung kos. Setelah mengatur nafasnya, gadis itu memulai obrolannya. “Mas sudah lama mengenal Bella?” “Ga, baru beberapa hari yang lalu. Kenapa mba?” “Saya sudah lama berteman dengan Bella, sejak pertama duduk di bangku SMA hingga kuliahpun bareng dan satu kamar kos juga. Hampir semua seluk beluk soal privasi tentang dia saya tahu, begitu juga sebaliknya tentang saya, Bella juga tahu. Karena kami selalu curhat, saling berbagi satu sama lain. Apalagi jika sedang ada masalah. Pasti kami saling menguatkan.” “Lalu hubungannya dengan saya apa ya mba?” Juna masih bingung arah pembicaraan ini. “Sejak ia di khianati pacarnya yang telah lama menjadi pacarnya, Bella mulai berubah. Ia jadi banyak diam dan bersedih. Sering melamun tak jelas. Aku sudah coba kasih masukan, bawa dia keluar untuk cari hiburan, dan cara lain juga. Tapi, beberapa hari lalu dia berubah ceria lagi. Awalnya aku kira ia balik ke pacar yang khianati dia, ternyata bukan. Ia cerita punya kenalan baru yang lebih cakep dari cowoknya yang kemarin. Ya mas Juna maksudnya.” “Lha emang dah bawaan lahir itu mba cakepnya saya.” “Mas, bisa ga jangan bercanda dulu. Saya sedang serius nih.” “Oh maaf mba, silahkan lanjut.” “Setelah kenal dengan mas itu, ia kembali seperti Bella yang saya kenal, mas. Ia punya gairah hidup lagi. Mau melakukan aktivitas seperti biasa. Dengan mantan juga ia sudah berhasil melupakannya. Aku jadi senang, tapi sejak kemarin ada sesuatu yang aneh dengan Bella.” “Hah, kenapa itu mba?” “Bella tampak ketakutan, gelisah dan tidurnya tidak tenang, sering mengigau dan bermimpi buruk katanya. Tidak hanya dia yang merasa demikian, saya sendiri yang sekamar dengannya juga mengalami hal yang hampir sama dengannya, tapi tidak sampai terbawa mimpi.” Raut wajah Juna seketika berubah. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN