Trauma Nonton Bokep

1093 Kata
Semenjak kejadian nonton bokep sendiri itu, Yuyung tak berani lagi menonton sendiri. Ia mau nonton jika ada teman yang mau di ajak nonton bareng. Sayang tidak semua teman temannya ada waktu seperti waktu kecil dulu. Zaman telah berubah, semua sudah tumbuh semakin dewasa dan punya kehidupan masing masing. Ada yang kerja, kuliah dan masih sekolah. Alhasil ia jadi kesulitan untuk bisa menikmati dunia perbokepan. Dari sekian teman kecilnya yang masih bisa di ajak nonton bokep adalah Peyok, karena kerjanya ia lebih banyak di rumah. Sehari hari ia kerja di bengkel milik kakak iparnya, jadi mau turun atau tidak terserah dia. Meski sebenarnya sang kakak sudah bolak balik menegurnya agar kerja yang benar karena kerja dengan orang walau itu dengan ipar sendiri. Dasar si Peyok orangnya mah masa bodoh jika di tegur kakaknya. Sebelumnya Yuyung dan Peyok sudah janjian semalam sewaktu ketemu di rumah Alex. Memang semuanya di luar rencana, tapi Yuyung yang memang sudah lama tidak nonton, ketika tak sengaja melihat paha Lingua jadi konaklah libidonya. Lalu terbersit di kepalanya untuk menonton bokep esok harinya. Kebetulan juga di rumah Alex ada Peyok yang juga diam diam menyukai Lingua sejak dulu sedang melongo sambil meneteskan air liurnya saat melihat Lingua sedang gunakan rok mini nan seksi. “Gimana Pop, nonton kah kita besok?” “Ayo!” tanpa berpikir panjang lagi karena sudah di ujung tanduk nafsunya. “Kita sewa dulu ba, main ayo aja kau.” Setelah Lingua pergi dari tempat obrolan mereka, Yuyung dan Peyok segera beranjak dari rumah Alex ke tempat persewaan VCD langganan mereka. Alex yang melihat kelakuan dua sahabatnya hanya bisa geleng geleng kepala. Mereka berdua malah nyengir kuda. Lalu mereka langsung tancap gas dengan kuda besi si Yuyung. Sampai di tempat penyewaan VCD, mereka sudah di sambut dengan ramah oleh penjaga wanita yang memang sudah sangat mengenal duo maniax bokep tersebut. “Ada yang baru nih bro, Yuyung. Yakin pasti kalian suka nih.” “Ah beneran mba, yang kemarin itu ga asik, banyak ngobrolnya ketimbang mainnya. Kasih yang full bokep dong mba, ini si Peyok sudah ga tahan dia cari pelampiasan.” “Kimaknya kau Yung, aku lagi kau jadikan tumbal padahal dia yang lagi kajung tu mba.” “Hahaha… sama saja kalian berdua itu. Bokep maniax.” Setelah cukup basa basinya, akhirnya Yuyung dan Peyok berhasil mendapat sebuah VCD bokep yang mereka cari. Tentu saja itu rekomendasi dari si penjaga penyewaan yang memang sudah hapal  betul dengan tabiat mereka berdua. “Besok jam berapa kita nonton, Yung?” “Lihat besoklah, mana ku tahu di rumah orang jalan jam berapa, biasanya jam 10 an si Pop.” “Aduh ga sabar sudah aku, Yung.” “Kimak kau nih ba, kayak baru pertama nonton aja.” “Gara gara si Lingua tadi tu nah, Yung. Jadi konak langsung nah.” “Halah memang kau tukang m***m dari dulu. Kau naksir dia juga kan? Tapi sayang ga level, huahahaha…” “Bukan ga level ba, Cuma belum jodohnya aja, nanti ada saatnya itu Yung, dia menyesal tak mengenalku lebih dekat lagi. Hehe …” “Cuih, gimbek kau tu. Justru Lingua yang musibah kalau bisa jadi sama kau Pop. Badan gede kayak babi, pemalas, tukang m***m lagi. Pantas saja ga ada cewek yang mau sama kau itu.” “Kimak kau Yung, kayak dia nda saja. Kau sendiri mana ada cewek yang mau dengan kau juga. Kurang lebih aja kita nih, ga usah kau olok ba, senasib kita nih.” “Eh bener juga lah, hahaha…”  ******* Keesokan harinya saat suasana di kampung mulai terlihat sepi, sesuai perjanjian semalam kalau siang ini Peyok dan Yuyung mau menonton bokep bareng. Semua sudah di rencanakan sejak semalam. Mulai dari camilan yang mereka beli di mini market terdekat. Sampai minuman agak berat mereka juga beli. Ketika situasi sudah di rasa aman, Peyok langsung datang ke rumah Yuyung. Kebetulan suasana di sekitar rumah juga tampak sepi karena semua warga pada sibuk bekerja. Si Peyok memang hari ini sengaja meminta izin pada bosnya untuk libur satu hari ini karena alasan yang di sengaja di buat buatnya. “Ayo Pop, buruan masuk. Nanti keburu di lihat orang ga enak, di kira kita mau bermain pedang pedangan berdua.” “Gimbek kau, aku gini gini normal ba.” “Ah sudahlah, langsung nonton aja lah kita.” Setelah semua camilan dan minuman berat siap, film tersebutpun mulai di putar. Adegan awal yang masih di awali dengan percakapan belum membuat kedua pemuda ini bisa focus untuk menontonnya. Mereka masih terlibat obrolan ringan tentang Lingua yang semalam tampak seksi dengan tampilan rok mininya. Seumur hidup selama berteman dengan gadis itu mereka belum pernah melihat ia menggunakan pakaian yang begitu seksi. Akhirnya moment full film bokep tersebut muncul juga beberapa menit kemudian. Tampak Peyok langsung berusaha mendekatkan pandangannya pada film yang sedang berlangsung. Di mulai dari wanita yang sudah menanggalkan seluruh pakaiannya hingga bentuk tubuhnya terlihat semuanya. Peyok yang memang matanya minus dengan terpaksa mendekatkan matanya pada tv, tapi sayang ia langsung di cegah oleh Yuyung yang juga ingin menonton tanpa di halangi temannya. “Kimaknya kau nih, Pop! Kiranya kau sajakah yang mau nonton? Aku juga mau ba.” “Aduh Yung, kau nda usah lah, sudah sering juga kau nonton kan?” “Nonton gigimu bertato tu nah. Semenjak di terror itu aku nda bisa lagi nonton dengan bebas, Pop.” “Huahaha … huahaha … badan saja kau tinggi kayak jolokan bamboo, tapi nyali banci kaleng kau, Yung.” “Ohhh … gaya kau ya, kalau nanti kena batunya kapok kau, Pop!” “Hahaha … mana ada hantu yang berani dekat denganku, selama ada ini.” Sambil Peyok menunjukkan sebuah kalung dengan symbol agama kepercayaannya. “Iya gaya saja kau, ga mempan tau lah begitu itu Pop. Di kamarku itu ada berapa biji salib di taruh ibuku, malah apesnya di sana aku ketemu hantunya, Pop.” “Ssttt, diem nah Yung, lagi konsen bokep nah, seru nih …” Mendadak dari lantai atas terdengar sebuah derap langkah orang berbaris. Sama seperti apa yang di dengar Yuyung tempo hari. “Nah Pop, dengarlah kau itu?” “Apaan sih, film ini bagus Yung.” Yuyung lalu mengambil remote tv dan mengecilkan volume suaranya. Setelah itu suara derap langkah tadi kembali terdengar sangat jelas. Peyok yang juga mendengarnya mulai tampak ketakutan. “Eh Yung, kau nda sedang bercanda kan? Kalau aku tadi sumpah, Yung, cuma bercanda ba.” Wajahnya mulai pucat setelah mendengar suara yang makin kencang itu. “Neh, neh, baru tau rasa kau, kumpau sih jadi orang.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN