Sudah seminggu Didi tidak masuk kerja. Ia terpaksa harus istirahat total karena mengalami kecelakaan tunggal saat pulang kerja. Kejadian itu berlangsung begitu cepat tanpa sempat ia ketahui penyebabnya. Saat sadar ia sudah berada di rumah sakit dengan perban di seluruh badan. Ia tak mampu menggerakkan seluruh badannya karena sakitnya hingga ke tulang yang ia rasakan. Malam itu adalah malam yang sangat sulit di lupakan buat seorang Didi. Jika saja musibah itu ia tahu kapan datangnya mungkin ia takkan melaluinya.
Sebelumnya ia sudah di peringatkan oleh Emaknya, jika hari itu jangan pulang larut malam meski sedang ada lemburan jangan di ambil dulu. Insting seorang emak memang jarang meleset makanya Didi sudah mendapat warning lebih awal. Tapi karena memang sudah menjadi kebiasaannya di tambah lagi memang hobinya ngutak ngatik mesin, tetap ia kerjakan meski harus pulang malam.
Sewaktu berada di bengkel ia sudah mendapat firasat atau tanda tanda itu, tapi Didi masih berpikir positif atau menghiraukan itu semua. Ia cuek dan terus mengerjakan mesin yang memang jadi beban pekerjaannya. Di mulai dari perkakas yang hilang dan muncul dalam hitungan detik. Lalu ada suara derap langkah yang menggunakan sepatu laras tentara. Hingga suara wanita yang menangis tersedu sedu di samping bengkel. Semua kejadian itu sukses membuat bulu kuduknya pada berdiri semua serta keringat dingin yang bercucuran dari tubuhnya.
Setelah melalui gangguan tak wajar tersebut akhirnya Didi mampu menyelesaikan pekerjaannya. Namun waktu untuk menyelesaikanpun tidaklah sebentar. Hampir tiga jam ia berkutat dengan mesin itu di bengkelnya. Sudah kepalang basah juga saat mengerjakan mesin tadi. Hingga tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Kebetulan juga malam itu adalah malam jumat, malam yang keramat atau sacral buat orang seperti Didi yang memegang erat budayanya.
Saat menghidupkan mesin untuk pulang, mendadak mesinnya sulit untuk di hidupkan. Didi juga heran tidak biasanya mesinnya rewel begini. Apalagi baru beberapa hari yang lalu ia memperbaiki semua mesinnya, membersihkan onderdil yang memang perlu perawatan, oli mesin juga sudah refresh dari yang lama. Semua ia sendiri yang mengerjakannya jadi ia hapal betul luar dalam motor yang ia gunakan.
“Kenapa lagi nih motor, baru 2 hari yang lalu ganti oli, servis mesin, kok rewel ya?”
Dia lalu coba memeriksa tanki bensin dan hasilnya masih cukup untuk ia sampai ke rumah. Begitu juga dengan mesin, busi dan onderdil lain semuanya tampak normal. Dengan penuh keyakinan ia coba lagi menghidupkan mesinnya. Alhamdulillah berhasil hidup mesinnya.
Suasana di jalan masih tampak ramai dengan pengendara yang berlalu lalang. Kehidupan di kota ini memang berlangsung selama 24 jam tanpa henti. Banyak yang terlihat sedang menikmati malam itu, mulai dari muda mudi yang nongki nongki di warung hingga para pedagang makanan yang mengais rezeki di malam nan gelap tersebut. Semua saling berkesinambungan satu sama lainnya.
Laju kendaraan juga tidak begitu kencang ia pacunya. Hanya 40 km/jam melintasi malam yang saat itu masih terlihat jelas sinar rembulannya. Didi masih ingin menikmati suasana malam itu setelah seharian berjibaku dengan perkakas dan mesin yang penuh dengan minyak oli yang kotor. Jarak tempuh dari bengkel ke rumah sebenarnya tidaklah begitu jauh, dengan waktu tempuh sekitar 15 menit sudah tiba di rumahnya. Namun karena ia ingin melepas lelah dengan berkeliling sesaat jalan yang ia tempuh sengaja melalui jalur yang biasanya bukan ia lalui.
Tanpa terasa waktu sudah 30 menit ia berjalan dan kini saatnya untuk ia mengarahkan kendaraannya menuju rumahnya. Semua tampak normal saat ia melalui jalan yang masih tampak ramai dengan orang yang berlalu lalang. Namun ketika beberapa saat lagi akan tiba di rumah, jalur yang ia lalui melewati hutan belantara khas pulau Kalimantan.
Sewaktu awal masuk lokasi itu ia sudah mulai merasakan ada yang aneh darinya terutama di bagian belakang tempat boncengan penumpang. Ia seperti merasakan ada membawa sesuatu yang begitu berat sejak dari bengkel tadi. Ia pikir hanya halusinasi karena efek kelelahan dari seharian bekerja. Tapi makin lama beban itu semakin membuat laju kendaraannya menjadi lambat.
Didi lalu menghentikan sesaat kendaraannya lalu menoleh ke belakang. Tidak ada siapapun di belakangnya, tapi hawa dingin yang tiba tiba berhembus dan menusuk hingga ke tulang langsung menerpa tubuhnya. Seketika bulu kuduknya meremang semuanya. Badannya lalu gemetaran meski ia belum takut. Ia lalu melanjutkan laju kendaraannya.
Sementara di depan tampak sangat lengang, nyaris tidak ada pengendara atau manusia yang berselisihan dengannya. Ia coba menambah kecepatan kendaraannya, tapi lajunya malah tidak seperti biasanya. Didi memperhatikan speedo meter kendaraannya, di situ tertera angka kelajuan yang makin naik tapi laju motornya tidak menunjukkan hal yang selaras dengan speedo meternya.
Di belakang lehernya terasa panas dan mulai berat. Nafasnya sudah mulai tersengal sengal. Udara dingin tak mampu menahan lajunya keringat yang mulai bercucuran di sekujur tubuhnya. Didi mulai cemas dengan kondisinya saat itu. Kali ini ia merasa yakin ada sesuatu di belakangnya yang menjadikan motornya jadi lambat untuk di pacu. Padahal jarak rumah hanya tinggal beberapa meter lagi.
Kondisi jalan saat itu sangat sepi. Angin yang meniup pepohononan juga semakin kencang. Semua saling bergoyang dahan dengan rantingnya. Suara lolongan anjing terdengar sahut menyahut. Di tambah lagi burung hantu turut memeriahkan suasana malam itu. Dan terakhir yang membuat ia semakin ketakutan adalah suara tawa wanita yang begitu gurih. Cekikikan di sisi kiri dan kanannya.
Sampai ia kehilangan kendali saat mendadak di depannya ada sesuatu yang menyeberang. Beruntung ia masih bisa mengendalikan kendaraannya dengan mengerem mendadak. Didi menoleh ke kiri dan kanan sisinya, tapi tidak ada yang terlihat sosok yang melintas tadi. Hanya angin yang berhembus mengelilingi tubuhnya. Seolah mengikutinya sedari tadi. Tubuhnya makin gemetar karena merinding.
Dia lalu melanjutkan laju kendaraannya. Ia berusaha tak mempedulikan suara suara aneh sepanjang jalan itu. Beban berat di belakang juga ia paksa saja untuk terus memacu kendaraannya. Baginya yang penting bisa melalui jalan ini dulu. Rasa kencing yang sudah di tahan sedari tadi terpaksa ia tunda dulu, ia enggan bermasalah dengan gangguan ini. Khawatir jika ia buang air kecil sembarangan akan terjadi hal yang tak di inginkan. Apalagi ini adalah Kalimantan, pulau yang sangat terkenal dengan kemistisannya. Meski itu sudah berada di ujung tanduk kencingnya tetep ia berusaha menahannya.an kemistisannya.
Meski sudah ia berusaha memacu kendaraannya dengan cepat tetap saja tidak ada perubahan pada motornya, Didi enggan menghentikannya, tetap saja ia memacunya. Hingga akhirnya sebuah pohon yang menjadi penyelamat dirinya saat ia melewati jalan yang ia kira itu lurus saja, melainkan sebuah jurang yang sudah siap menerima korban. Beruntung ia masih di beri umur panjang, saat sudah menabrak pagar pembatas jalan, kendaraannya sudah tak mampu ia kendalikan. Limbung kemana mana karena ban sudah pecah, dan rem juga blong.
Sebuah pohon besar menjadi penyelamat bagi nyawa Didi kala itu, meski kendaraan yang ia gunakan mengalami kerusakan yang cukup parah. Sementara tubuh Didi yang berbalut perban semuanya hanya mengalami luka ringan. Kaki dan tangannya keseleo. Hari ke tiga baru ia tersadar dari siumannya. Saat sadar ia sudah berada di ruangan yang berwarna putih semua dan di kelilingi orang orang terdekatnya salah satunya adalah emaknya yang dari sebelum kejadian sudah memberi warning buat Didi, tapi tak di hiraukannya. Sang emak hanya menangis terharu melihat anaknya tersadar saat itu. Begitu juga dengan saudara dan teman teman dekatnya. Semuanya mengira jika ia tidak akan selamat saat itu. Mengingat kondisi kendaraan dan kejadian di lapangan yang cukup mengerikan.