Pasca kedua orang tuanya berpisah Lingua menjadi labil kehidupannya. Tidak ada lelaki yang jadi pelindung sekaligus panutannya. Papanya telah pergi meninggalkannya, ia merantau ke Jawa dan tak ingin kembali lagi. Sementara Mamanya semakin sibuk mencari rezeki dengan berjualan. Warung yang ada di samping rumah ia sewakan menjadi rumah kontrakan meski ukurannya kecil. Paling tidak warung itu bisa menghasilkan duit dari pada harus buka usaha tapi tidak ada yang menjalankannya.
Sementara Lingua semenjak duduk di bangku SMA, gaya hidupnya sudah berubah. Ia menjadi gadis yang labil. Teman yang ia dekati semuanya bergaya borju. Ia jadi mudah terpengaruh juga. Sementara di kampung ia sudah mulai berkurang berteman dengan teman teman sebayanya. Mungkin mereka juga punya kehidupan yang sudah berubah.
Kondisi jiwa yang labil membuat Lingua jadi mudah terbawa arus. Di tambah lagi perhatian dari orang tua yang nyaris tidak ia dapatkan sejak kecil. Serta hilangnya kasih sayang dari seorang Papa membuat ia jadi mencari jati diri tanpa arah yang jelas. Menyukai seseorang sejak kecil ia tak pernah juga mendapat respon.
Akibat pergaulan bebas, Lingua akhirnya harus berhenti dari sekolahnya. Padahal masa akhir sekolah hanya tersisa beberapa bulan lagi akan selesai. Semua karena kondisinya yang tengah hamil diluar nikah dari seorang pemuda yang ia kenal di dunia luar. Pemuda itu kebetulan seorang Bandar n*****a yang sudah cukup lama malang melintang di dunia hitam.
Lingua yang labil di kenalkan oleh temannya dari satu sekolah yang memang salah satu langganan dari bos n*****a tersebut. Mendapat imbalan sepoket barang haram gratis membuat ia berhasil membujuk Lingua untuk dekat dengan sang bos Bandar. Kebetulan pemuda Bandar itu juga suka dengan Lingua saat pandangan pertama.
Awalnya Lingua di beri secara cuma cuma alias gratis barang haram itu oleh sang Bandar. Ia tidak tahu barang apa yang di beri oleh pemuda tersebut. Yang ia tahu teman temannya pada memakai barang gituan juga. Baginya jika ingin gabung dengan lingkungan teman seperti itu mau tidak mau ia harus mengikuti cara mereka bergaul. Lingua yang begitu labil masih belum mengerti dengan dunia yang begitu kejam. Ia pun menjadi tersesat dalam dunia itu.
Menjalin hubungan dengan pemuda yang menjadi Bandar adalah jalan yang tidak ia sadari jika itu adalah petaka dalam hidupnya. Kasih sayang dari pemuda itu yang sebenarnya hanyalah sesaat telah membuat ia dalam lubang yang hitam dan gelap. Perlahan tapi pasti Lingua pun jadi gadis pecandu barang haram tersebut.
Sang Mama yang sibuk mencari rezeki dengan berjualan saat itu masih belum mengerti dengan dunia anaknya. Selama ini yang ia tahu anaknya rajin ke sekolah tanpa ada panggilan atau teguran di sekolah jika anaknya sedang dalam keadaan baik baik saja. Setiap pagi selalu berpamitan ke sekolah dan membawa sarapan nasi dari buatan sang Mama. Semua tampak normal saja. Memiliki pacarpun Mama tahu siapa orangnya karena sempat di kenalkan oleh Lingua. Apalagi Mama pun tahu siapa orang tua dari pacarnya tersebut, meski sebenarnya di balik itu semua sang Mama tidak tahu bagaimana sebenarnya pemuda yang di kenalkan oleh anaknya.
Akhirnya Lingua ikut terjebak dalam dunia hitam bersama pemuda tersebut. Ia jadi pemakai barang haram tersebut. Meski ia mendapatnya secara gratis tapi telah berhasil membuat dirinya menjadi seorang pecandu. Saking candunya ia sampai lupa siapa dirinya sendiri.
***************
Suatu malam saat ia sedang gelisah gunda gulana. Entah apa yang ada di dalam pikirannya. Di rumah situasi tampak lengang tak ada aktivitas apapun. Mamanya kebetulan lagi di tempat tetangga ada acara undangan emak emak kampung. Tersisa hanya Lingua di rumahnya. Biasanya sang pacar setia menemani saat ia sedang kesepian, tapi malam itu pemuda Bandar itu lagi sedang ada acara entah dimana. Lingua bingung tidak tahu harus ngapain dan mengobrol dengan siapa.
Mendadak dari arah dapur rumahnya ada yang mengetuk pintu dapur. Lingua tampak terkejut dengan kejadian itu. Siapa malam malam begini yang hendak bertamu melalui pintu belakang? Tampak ia mulai gugup karena merasa di rumah hanya sendirian. Apalagi efek candu barang haram itu mulai menyerang tubuhnya.
Pintu itu kembali terdengar saat ia coba menerka siapa yang mengetuk pintu itu. Sontak ia tambah terkejut karena suara ketukan itu makin keras. Tapi ia tak berani membukanya karena teringat pesan Mamanya jika ada tamu yang tidak ia kenal jangan menerimanya. Lingua pikir awalnya adalah tetangga sebelah rumahnya yang kebetulan menyewa rumah kontrakan Mamanya. Namun dari luar tidak ada suara sama sekali yang menerangkan jika itu adalah tetangga yang ia kenal.
Kalaupun itu pacarnya rasanya tidak mungkin, ngapain harus lewat dapur untuk masuk ke rumahnya. Bukankah ia juga sudah dapat restu dari Mamanya untuk berpacaran. Lantas itu siapa? Ia terus berpikir keras. Untuk keluar dari rumah juga rasanya tak mungkin mau kemana. Sementara kondisi dirinya juga sedang tampak kacau karena efek candu barang haram itu.
Perlahan ia mencoba mendekati pintu dapur itu untuk memastikan jika itu hanya sebatas halusinasinya saja. Saat itu suara ketukan itu sudah tak terdengar lagi, tapi suara lolongan anjing peliharaannya membuat ia semakin ketakutan. Tubuhnya bergetar dan seluruh bulu kuduknya mulai meremang saat mendengar suara anjing yang begitu menyayat hati. Tidak biasanya anjing peliharaannya bisa melolong seperti itu. Lingua jadi mengingat kata kata orang jika ada suara anjing yang melolong, biasanya ia sedang melihat makhluk dari dunia lain yang sedang berada tidak jauh dari binatang itu.
Sudah kepalang basah, ia lalu beranikan diri membuka pintu dapur tersebut. Ternyata ia tidak melihat apapun di sana. Hanya kegelapan rongsokan alat alat hasil kerjaan Papanya terdahulu yang telah lama teronggok di tempat yang tak terurus. Gelap tanpa pencahayaan yang terang dari lampu yang biasa Papa nya dulu yang pasang. Sekarang semua sudah usang tak terurus. Semua peralatan itu sudah di tumbuhi ilalang yang semakin hari semakin tumbuh tak menentu.
Lingua mengeluarkan kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri mengedarkan pandangannya ke sekeliling area belakang rumah. Beruntung cahaya lampu masih bisa menyinari malam itu. Setidaknya ia bisa melihat dari kejauhan meski itu tidak begitu jelas.
Namun ketika matanya tertuju pada sebuah titik yang ada di dekat pohon nangka yang telah berumur tua dan besar. Di sana ia melihat sosok gadis berambut panjang dengan mata yang sedang melotot tajam ke arah dirinya. Seketika tubuhnya semakin bergetar hebat dan ia langsung menutup pintu dapurnya dan segera kembali ke ruang tamu tempat ia bisa menikmati me time.