Gangguan di Kantor

1194 Kata
Malam itu Cecep mendapat kerjaan tambahan dari bosnya. Ia tak bisa menolak karena barang yang harus di perbaiki esok hari harus sudah selesai dan akan di ambil pemiliknya. Barang itu memang sudah semingguan di kantornya. Sebenarnya bukan bagian dia yang harus memperbaiki, tapi karena sang teman yang tak kunjung selesai dalam memperbaikinya membuat bos berubah pikiran untuk Cecep yang mengambil alih kerjaan tersebut. Ia masih sedikit trauma dengan kejadian tempo hari meski sebenarnya ia telah melupakan kejadian itu. Tidak ada yang tahu dengan kejadian tersebut selain dirinya. “Barang itu kudu kelar mala mini, Cep! Saya ga mau tahu gimana caranya biar barang itu normal kembali.” “Siap bos, nanti saya coba kerjakan maksimalkan.” “Jangan sekedar coba, Cep. Perbaiki bener bener.” “Iya bos, tapi saya sendirian lembur dong.” “Lha terus gimana? Masa harus saya yang temani kamu, Cep?!” Cecep hanya bisa tertunduk lesu. Harapannya ada salah satu teman yang bisa menemani lemburnya mala mini telah pupus. Ia harus menerima tanggung jawab sebagai seorang bawahan, menuruti perintah atasan. ***************** Hari ini adalah kamis, dan malamnya berarti adalah malam jumat. Malam yang sacral buat sebagian masyarakat yang percaya akan mitos tentang ke angkeran hari kamis malam jumat. Cecep baru sadar setelah kantor sudah kosong melompong. Hanya tersisa ia sendiri di kantornya. Tidak ada penjaga khusus untuk kantornya karena sang pemilik memang terkenal sangat pelit dalam hal mengeluarkan duit untuk menambah tenaga kerja. Ia berpikir kantornya sudah berada di kawasan niaga yang di jaga 24 jam oleh security yang di sediakan pengelola kawasan tersebut. Sehabis magrib semua karyawan kantor sudah pulang masing masing ke rumah mereka. Begitu juga dengan bos besar yang lebih dulu pulang. Di kantor sudah tidak ada orang sama sekali. Cecep lalu memutar lagu di sebuah tape biar suasana kantor tidak benar benar lengang. Ia memang sudah terbiasa setiap kerja selalu menghidupkan mesin untuk menemaninya bekerja. Semua peralatan kerja sudah lengkap. Ia siapkan semuanya di atas meja kerjanya. Begitu juga dengan barang yang akan di perbaiki olehnya. Tanpa mengulur waktu lagi segera ia kerjakan. Sebelumnya ia periksa dulu semua kondisi barang tersebut. Ia perhatikan dengan seksama. Tidak ada yang aneh, semua tampak normal. Ia lalu mencoba menyetel kembali lalu mencobanya lagi beberapa saat. Sekejap ia mengernyitkan dahinya lalu mengutak atik kembali barang yang belum di perbaiki tersebut. “Ini apanya yang rusak, semua tampak normal kok.” Cecep beranjak dari tempat duduknya dan beralih ke toilet. Sedari tadi ia sudah menahan rasa sakit pada perutnya. Di dalam toilet ia sambil membakar rokok yang sudah ia siapkan tadi sore. Sambil focus dengan rokoknya tiba tiba dari luar tidak terdengar music yang ia setel tadi. Suaranya malah berganti menjadi suara derap langkah orang berbaris. Merasa ada yang tidak beres segera ia percepat proses di dalam toilet. Ada rasa khawatir dengan kejadian tempo hari terulang kembali. Setelah membasuh tangan ia langsung menuju ruangan tempat ia bekerja tadi. Sampai di tempat itu, ia hanya melongo karena suaranya sudah berganti music yang ia setel seperti awal. Dia kembali memeriksa sound yang lagi memutar music kesukaannya. Ia amati secara seksama semuanya dan hasilnya tidak ada yang aneh. Sound tersebut kembali ia hidupkan. Hasilnya masih tetap sama dengan suara lagu favoritnya. Selanjutnya ia pergi ke dapur untuk membuat makanan. Waktu sudah beranjak malam dan ia belum mendapat asupan gizi untuk waktu malam. Satu satunya yang ada di lemari dapur adalah mie instan dan sebutir telur di kulkas. Mau tidak mau ia harus mengolah apa yang ada di dapur tersebut. Ia siapkan semua bahan untuk memasak. Mulai dari air, panci kecil, mangkuk, sebungkus mie instant yang kebetulan tersisa satu bungkus dan terakhir adalah telur ayam sebiji yang berada di kulkas. Semua proses memasak berlangsung normal. Sambil bersiul mengikuti alunan music yang terdengar hingga ke dapur membuat Cecep sedikit terhibur meski ia hanya sendirian di kantor. Namun mendadak semua jadi berubah suasananya saat ada sekelebatan yang berhasil di lihat oleh mata telanjang Cecep. Meski melesat dengan cepat, itu sudah berhasil membuat bulu kuduknya semua meremang. “Asem, mana sendirian lagi di kantor.” Segera ia percepat mie yang ia masak. Air sudah mendidih dan mie instantnya mulai melemah, ia lalu memecahkan telur yang sisa sebiji tadi. Apes, setelah pecah aroma busuk langsung menyebar dan menusuk hidung baunya. Sialnya lagi pecahan itu sudah terlanjur masuk dan bercampur dengan mie instant yang sebentar lagi sudah bisa ia nikmati. Alhasil masakan itu sudah tidak layak untuk konsumsi karena bercampur dengan telur yang sudah membusuk. “Ampun dah, nasib ku malam ini, sial banget.” Tampak raut kekecewaan dari Cecep yang sudah berharap bisa makan gratis malam itu tapi malah kesialan yang ia dapatkan. Semua masakan itu langsung ia buang dan biarkan tergeletak begitu saja. “Ah bodo dah!” umpatnya kesal. Dia kembali ke ruangan kerjanya. Di situ kembali ia di uji dengan kesabarannya. Barang yang tadinya ada di meja kerjanya mendadak hilang. “Oh my God, apa lagi ini? Kemana barang itu, tadi ada di meja kok.” Terlihat ia mulai kesal. Cecep berusaha mencari barang itu. Di semua titik sudut ruangan sudah ia periksa tapi hasilnya nihil. Rasanya tidak mungkin terselip, karena barang itu cukup besar. Kalaupun ada teman yang iseng kerjain dia rasanya juga tidak mungkin karena malam ini hanya ia sendiri di kantor ini lembur. Lelah sudah mencari kemana mana barang itu, tapi tidak juga ia temukan. Sejenak ia tertunduk diam sambil mengatur nafasnya yang lumayan lelah naik turun. “Woi dimana barangku, tolong jangan main main, tunjukkan siapa kau!” Cecep mulai lepas kendali. Ia sudah tak sabar lagi dengan kejadian malam ini yang menimpanya. Setelah berteriak itu mendadak terjadi hal yang aneh. Jleb Lampu kantor padam semuanya. Cecep langsung panic. Ia tidak memegang apapun. Lampu emergency juga letaknya ia lupa dimana. Satu detik… dua detik… tiga detik… Jleb tak… Mendadak lampu kantor kembali hidup. Tapi wajah Cecep langsung pucat pasi terdiam di tempat ia berdiri. Mulutnya tak bisa berteriak, tubuhnya tak mampu ia gerakkan untuk berlari. Ternyata di depannya sudah ada sesosok orang yang berbadan tinggi lengkap dengan seragam seperti tentara zaman colonial. Semua asesoris dan senjata yang ia gunakan masih menempel di seragam itu. Topi, sepatu, pedang dan pistol di pinggang. Wajahnya yang hancur seperti luka bakar sangat jelas terlihat karena jaraknya dengan Cecep yang begitu dekat. Aroma busuk dari luka itu juga sangat bau menusuk hidung. Dan nyaris membuat muntah perutnya tapi ia masih bisa menahannya. Sosok itu menyeringai memandang Cecep. Senyumannya yang mengeluarkan darah yang terlihat segar dari sudut bibirnya membuat gemetar tubuh Cecep. Seumur hidup ia belum pernah bertemu dengan makhluk aneh atau hantu seperti yang di film yang ia tonton. Beberapa saat sosok itu menyeringai, ia lalu menyodorkan tangannya dan berkata, “tolong kembalikan barang kami.” Cecep tubuhnya gemetar tak mau diam dan terkencing di celana. Giginya saling beradu karena mendengar sosok itu bersuara dengan parau dan berat. “Tolong kembalikan barang kami.” Sekali lagi sosok itu meminta pada Cecep. Setelah itu mendadak ia menghilang dengan sendirinya. Cecep bisa menggerakkan tubuhnya. Nafasnya tampak tersengal sengal. Tubuhnya sudah basah semua dengan peluh yang bercucuran. Pakaian bagian bawah sudah pasti basah dan pesing karena kencingnya yang tak mampu ia tahan karena saking takutnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN