Pertemuan Juna dengan sosok gadis yang cantik keturunan bule di taman belakang kampus membuat hidupnya di hari itu penuh dengan bunga. Wajah indo, putih mulus dan padat berisi dengan senyuman yang yahud semakin membuat ia kepikiran terus saat berada di kelas.
“Pagi, Pak. Maaf saya telat.”
“Ok, silahkan duduk!” jawab sang dosen.
Juna sangat beruntung meski telat ia tidak mendapat hukuman dari sang dosen. Padahal dosen tersebut terkenal di kalangan mahasiswa sebagai dosen killer. Entah keberuntungan apa yang sedang menaungi Juna hari ini setelah pagi tadi bertemu seorang gadis cantik.
Satu jam setengah telah berlalu. Mata kuliah itu akhirnya berakhir dengan sebuah tugas yang harus ia selesaikan di saat ia ingin menikmati akhir pekan. Rasa malas sudah menyelimuti sejak semalam. Weekend baginya adalah hari bermalas ria. Namun Juna hari ini hokinya lagi berlipat lipat. Saat ia malas mengerjakan tugas, tiba tiba ada seorang gadis yang mendekatinya dan menawarkan bantuan.
“Hei, bocah elek, kenapa kamu telat tadi?”
“Eh, Cha. Kesiangan bangun tadi, begadang dengan anak anak kos semalam nonton bola.”
“Dasar cah edan. Terus tadi gimana dengan kuliahnya, mudeng ga?”
“Hehehe… kamu macam baru kenal aku, Cha.”
Sudah menjadi rahasia umum, Juna jika nyangkut soal mata pelajaran yang berhubungan dengan hitungan seperti akuntansi, sudah pasti ia tak b*******h mengikutinya. Padahal sewaktu awal pemilihan jurusan kuliah ia sudah menghindari segala hal yang berbau hitungan, tapi ia lupa jika ilmu ekonomi tidak ada yang tidak berhubungan dengan dunia matematika.
“Terus gimana dengan tugas dari dosen itu?”
“Hmm… kan ada Icha yang cantik dan baik hati.”
“Halah gombalmu, kalau ada maunya aja baru memuji, pura pura baik.”
Icha adalah salah satu teman dekat Juna yang sebenarnya sangat menyukai cowok sableng tersebut. Sementara Junanya sendiri tidak menyukainya hanya karena ada sebuah alasan membuat ia terpaksa dekat dengan gadis itu. Apalagi kalau bukan karena masalah mata kuliah akuntansi atau yang berhubungan dengan hitungan. Ia paling lemah jika menyangkut mata kuliah tersebut.
Selalu saja ada alasan gadis itu untuk mendekati dirinya. Meski kadang ia berusaha untuk menghindar. Sebenarnya semua karena salah Juna juga yang secara tidak langsung telah memberi harapan pada gadis imut tersebut. Ia yang mendekati gadis itu saat jam kuliah di haruskan untuk membuat kelompok belajar bersama. Kebetulan ia mendapat kelompok yang sama dengan Icha. Melihat gadis itu yang gesit dan sangat menguasai tentang perhitungan akuntansi, timbul ide nakal si Juna untuk memanfaatkannya. Ia lalu mendekati gadis itu, berpura pura baik dan perhatian pada gadis imut tersebut.
Tidak perlu waktu lama, dengan modal percaya diri yang tinggi dan rayuan mautnya, Juna bisa meluluh lantakkan hati seorang Icha. Meski ia tak pernah sekalipun mengatakan cinta pada gadis itu. Semua hal yang menyangkut tugas kuliah soal akuntansi pasti di bantu oleh gadis itu tanpa ia harus bersusah payah mencari contekan ke mahasiswa lain.
“Please ya, Cha. Help me?!” pinta Juna dengan wajah innocentnya.
“Ogah ah …” tolak gadis itu.
“Ntar kita makan bakso bareng deh di Cak Man langganan kita.”
Juna paling tahu kelemahan temannya itu. Ia begitu yakin, Icha tak akan mampu menolak jika di sodori dengan semangkuk bakso favoritnya. Juna memang sering mentraktir gadis itu atas bantuannya mengerjakan tugas tugas kuliahnya. Anggap saja traktiran bakso itu sebagai bayaran atas bantuannya. Dari pada ia harus membayar dengan hati yang tulus untuk mencintai. Ichapun akhirnya luluh mau membantu Juna mengerjakan tugas kuliahnya lagi dengan mengajukan syarat ntar malam minta di apelin dulu. Dengan berat hati Juna mengiyakan, kebetulan malam ini ia juga sedang menjomblo, teman teman di kos juga pada mudik ke kampungnya masing masing.
“Eh tadi di taman kamu mengobrol dengan siapa, Jun?”
Deg. Juna langsung sedikit shock mendengar pertanyaan Icha yang rupanya melihat dirinya sempat ngobrol sedikit dengan gadis cantik itu.
“Kok kamu tahu, Cha?”
“Iya dong, aku lho duduk dekat jendela, jadi kelihatan kalau kamu telat tadi. Terus kelihatan lagi ngomong sendiri di kolam ikan. Aku kira kamu lagi berdoa atau ga lagi kumat gendengnya.”
“Sialan kamu, Cha. Dah lah, kita cabut yuk, perutku dah keroncongan nih, siapa tau kamu lagi baik hati mau traktir aku bubur ayam semangkuk.”
“Asem kon, nyesel aku dekati kamu Jun. kalau tau gitu aku pulang duluan tadi.”
*****************
Malamnya Icha dan Juna sudah berada di rumah kontrakan. Sesuai dengan janji Juna untuk menjemput dan mengapeli Icha malam itu. Kebetulan malam itu adalah malam minggu. Sebenarnya ia agak ogah ogahan untuk memenuhi janjinya pada gadis tersebut tapi demi tugas kuliahnya mau tidak mau ia harus penuhi janji tersebut.
Suasananya saat itu sangat mendukung sekali untuk dua manusia yang sedang tinggal berduaan. Teman teman di kos juga pada sepi, ada yang pulang dan ada juga yang sedang berada di luar rumah. Obrolan mereka terlihat akrab karena memang sudah lama hubungan pertemanan mereka. Juna menganggapnya hanyalah pertemanan biasa, tapi Icha tatapannya sudah beda, bukan lagi tatapan seorang teman.
Melihat situasi yang sangat mendukung, membuat Juna yang tak tahan godaan akhirnya mulai berbuat nakal. Arah obrolan mereka juga mulai menjurus ke suatu hal yang dilarang. Hanya beberapa saat mereka sudah berada di dalam kamar Juna. Tinggal mereka berdua. Terdiam untuk sesaat. Lalu saling menatap kedua netranya. Tanpa menunggu kode apapun, akhirnya merekapun melakukannya. Kedua bibir itu menyatu, saling melumat. Mereka tenggelam dalam nikmat duniawi yang tak seharusnya mereka lakukan.
NNamun satu menit kemudian semuanya jadi mengerikan buat seorang Juna. Saat sedikit lagi mereka benar benar tenggelam dalam hubungan terlarang itu, tiba tiba ada sesuatu yang membuat ia mengurungkan niatnya. Wajah Icha yang awalnya begitu imut, berubah seketika. Sangat menyeramkan, wajah merah dengan gigi taring yang menyeringai di tambah dengan darah yang masih segar menetes mengenai tubuhnya.
Juna langsung mendorong perlahan tubuh Icha.
“Kenapa Jun?”
“Maaf Cha, aku khilaf. Aku ga bisa melanjutkan.”
“Kenapa?” gadis itu lalu mencoba mengarahkan bibirnya ke Juna untuk memancingnya lagi.
“Jangan Cha, aku ga bisa. Please, Cha. Maaf.” Juna tetap menolak pelan tubuh yang sudah setengah telanjang tersebut.
Gadis itu tak mampu menyembunyikan kekecewaannya. Ia pikir Juna menyukai dirinya hingga ia sudah pasrah menyerahkan segalanya.
“Maaf Cha, kita seharusnya ga begini. Aku yang salah telah membuatmu begini. Maaf ya Cha.” Juna terpaksa membohongi gadis itu karena ia masih melihat sosok seram yang menyeringai di tubuh gadis tersebut.
Icha hanya terdiam tak membalas ucapan Juna. Segera ia merapikan bajunya yang mulai terbuka tadi.
“Aku antar kamu pulang ya, kamu ga marahkan, Cha?”
Gadis itu tersenyum pahit dan menggelengkan kepalanya pelan. Juna lalu tersenyum meski sebenarnya ia masih ketakutan dengan apa yang ia lihat di tubuh itu. Sosok itu masih saja tersenyum seolah sedang mengejek dirinya.
Juna lalu bangkit dari kasurnya dan meraih tangan gadis itu kemudian membawanya keluar dari kamar untuk kembali duduk di ruang tamu.
“Aku ke belakang sebentar ya, Cha.”
“Ho oh.” Jawab gadis itu singkat namun kali ini dengan senyuman meski Juna tahu itu bukanlah senyum terbaik dari seorang Icha.
Juna lalu melangkah ke belakang menuju toilet. Baru saja melalui tangga di ruang tengah tempat biasanya ia berkumpul dengan anak anak kontrakan, ada sosok wanita yang menyeringai di tubuh Icha tadi sedang duduk di tangga. Seketika tubuhnya bergetar dan bulu kuduknya semua pada berdiri. Tapi ia menundukkan kepalanya seolah pura pura tak melihat sosok itu yang terus saja tersenyum.
Ya Allah mimpi apa aku semalam, kok bisa di lihatkan beginian. Dalam batinnya. Ia teruskan saja langkah menuju toilet, karena sudah kepalang tanggung juga jarak antar tangga dengan toilet hanya berjarak beberapa meter terhalang tembok.
Selesai dari toilet ia segera membawa Icha pulang ke kosnya. Pikirannya sedang tak enak malam itu setelah melihat sosok wanita tadi. Sepanjang jalan Juna banyak diamnya. Begitu juga Icha, ia juga jadi ikut pendiam karena mungkin merasa Juna telah ia kecewakan. Kedua pikiran anak manusia jadi saling bertolak belakang karena merasa ada yang salah. Padahal sebenarnya hanya karena makhluk astral yang telah mengusik hubungan mereka semuanya jadi berantakan malam minggu tersebut.
Setelah sampai di kos Icha, mereka terlihat dingin satu sama lain.
“Cha, maaf ya. Aku balik dulu. Assalammualaikum.” Pamit Juna sambil tersenyum berlalu meninggalkan gadis itu. Icha hanya melongo dan menjawab dingin salam cowok yang ia sukai tersebut. Ia seperti merasa bersalah pada cowok itu, kenapa bisa begitu cepat berubah. Sambil tertunduk ia berlalu masuk ke dalam kosnya. Berharap semoga besok baik baik saja.
Sementara sepanjang jalan Juna masih berpikir keras bagaimana ia kembali ke kos, sementara di sana ia hanya tertinggal sendirian. Teman yang lain sedang pulang ke kampung asalnya. Sebagian masih berada di luar sibuk dengan urusan mereka masing masing. Ia enggan bertemu dengan sosok tadi.