Sudah setahun ia berada di kota Apel, Malang – Jawa Timur. Mengenyam pendidikan S1 sesuai dengan cita citanya menjadi seorang bankir di bidang ekonomi. Jurusan yang ia ambil adalah Manajemen Ekonomi Keuangan. Semua diluar rencana sebenarnya ia memilih kota ini sebagai destinasinya untuk melanjutkan pendidikannya. Sebelumnya pilihan kuliah ia ingin menyusul kakaknya di kota Samarinda yang tidak begitu jauh dari kota asalnya, tapi ia lebih memilih kota yang jauh karena ingin belajar mandiri dari semua kehidupan.
Masih jelas terlihat saat pertama kali ia menginjak kota yang sangat dingin cuacanya ini. Bermodalkan nekad ia memilih kota ini yang sebelumnya belum pernah sekalipun ia mengunjunginya. Selama ini ia hanya sekali berkunjung ke kampung kelahiran ibunya di Jawa Tengah. Itupun saat ia masih duduk di SMP dengan adiknya dan sang Ibu.
Sebenarnya meninggalkan kota kelahirannya dan memilih destinasi kota tempat ia menempuh pendidikan yang sangat jauh adalah pilihan yang sangat berat. Ia harus siap meninggalkan kedua orang tuanya yang selama ini selalu mendukung Juna. Terutama sang Ibu yang sangat menyayanginya. Jika ayah sudah bisa melepasnya karena typical seorang ayah yang memang mendidik dalam keluarga Juna cukup tegas dan disiplin.
Saat tiba di kota ini ia lebih memilih tinggal di asrama khusus anak anak dari kota kelahirannya. Kebetulan di kota tersebut ada asrama dari pemerintah daerah yang memang sengaja di siapkan buat calon mahasiswa maupun pelajar khusus kota Tarakan. Berkat bantuan dari seorang saudara angkat dari ayah, Juna bisa di terima tinggal di asrama tersebut.
Menjadi anak baru di lingkungan baru jelas bukanlah hal yang menyenangkan. Mungkin jika di lingkungan tersebut adalah orang orang yang sudah saling akrab atau minimal sudah mengenal satu sama lain, mungkin akan lain jadinya. Juna harus tunduk dan patuh para seniornya. Segala aturan di asrama yang cukup ketat membuat ia harus taat pada aturan tersebut. Salah satunya adalah mengharuskan ia memanggil senior dengan sebutan kakak.
Dalam keluarganya, Juna memang jarang memanggil abangnya dengan sebutan kakak. Tatanan dalam lingkungannya memang tak membuat pembatas yang jelas buat senior dan junior. Semuanya sama jika sedang berada di lingkungan bermain level kampung. Mau itu usianya tua atau muda, semua hanya di panggil nama. Kecuali yang sudah cukup berumur dan telah berkeluarga.
Begitu ia di tuntut untuk menjalankan aturan itu di asrama, hatinya seketika berontak. Ia tak pernah tenang selama tinggal di asrama itu meski para seniornya semua baik dan tidak pernah membullynya. Namun bukan itu yang Juna butuhkan saat itu. Ia memerlukan teman sebaya yang enak saat di ajak share pengalaman ataupun sekedar ngobrol hal yang tak berguna.
Akhirnya dengan segala kondisi yang sudah tak tertahankan, Juna memilih pindah dari asrama tersebut. Ia tinggal di sebuah rumah kontrakan yang tak jauh dari kampus ia berada. Sementara tinggal di rumah itu ia hanya sendiri karena teman dari kampung yang sama kebanyakan memilih universitas daripada sekolah tinggi yang di inginkan seorang Juna.
Tak perlu waktu lama, saat kuliah di mulai, ia sudah memiliki teman dari daerah lain. Satu persatu penghuni kontrakan itu berdatangan yang berasal dari kampus yang sama. Juna tak lagi kesepian di rumah tersebut. Di rumah kontrakan yang berisi 5 kamar tersebut akhirnya bisa terisi semua dengan penghuni semuanya adalah temannya Juna yang berasal dari Jawa. Satupun tidak ada yang satu pulau dengannya.
Setahun setelah ia menjadi mahasiswa di kampus yang terkenal akan nuansa fauna di lingkungan kampusnya. Tanpa terasa sudah 2 tahun ia meninggalkan kampung halamannya untuk menuntut ilmu di kota orang. Berbagai macam karakter teman telah ia temui. Sangat berbeda jauh dengan teman teman masa kecilnya saat di kota kelahirannya.
*******************************
Tepat pukul 6 pagi. Juna sudah terbiasa untuk bangun pagi karena sewaktu di kampungnya ia selalu bangun subuh untuk membantu sang ibu berjualan. Hari ini ada jadwal kuliah jam 6 pagi. Kalau di kampungnya sudah jam 7 pagi, ada selisih 1 jam dengan kota Malang.
Sehabis mandi dan solat subuh ia bergegas turun ke kampus. Sebelumnya semangkuk mie kuah sudah habis ia lahap dengan segelas air putih sebagai penutupnya. Perbedaan cuaca dengan kota asal yang sangat jauh membuat Juna mau tidak mau harus menyesuaikan dengan keadaan.
Dinginnya cuaca pagi itu tak menghalangi niat Juna untuk pergi kuliah. Saat tiba di gerbang kampus tampak aktivitas mahasiswa dan security kampus sudah ada. Setelah melalui pos penjagaan, ia harus melewati ruangan kelas lainnya yang berbeda gedung dengan kelas Juna. Kebetulan hari itu ia terkena kelas paling ujung di antara kelas yang sudah ada.
Gedung ini letaknya paling ujung di antara bangunan kampus lainnya. Terdapat 5 lantai di bangunan tersebut. Di sekelilingnya banyak rerimbunan pohon dan tanaman yang sangat menyegarkan mata bagi siapa saja yang melihat kampus yang megah tersebut. Belum lagi berbagai jenis fauna yang ada di kawasan kampus tersebut.
Karena masih pagi, suasana kampus tidak seramai sewaktu jam jam sibuk. Biasanya jam 9 keatas baru kegiatan kampus lebih ramai. Cahaya mentari juga masih malu malu menunjukkan sinarnya saat itu.
Banyak jalan menuju gedung yang terletak paling ujung di kawasan kampus Juna. Ia lebih memilih jalur belakang karena jaraknya yang cukup dekat dengan arah dari rumah kontrakkannya. Sepanjang jalur yang ia lalui nyaris tak ada satupun mahasiswa atau orang yang lalu lalang. Ia pikir mungkin karena masih pagi dan juga ini jadwal akhir pekan pasti banyak yang lagi libur kuliahnya.
Saat jarak ke kelas hanya tersisa beberapa meter lagi, ia bertemu dengan seorang gadis. Dari segi pakaian yang ia gunakan sepertinya bukan dari kalangan mahasiswi. Fisiknya yang cukup tinggi untuk ukuran mahasiswi menunjang dengan pakaian yang ia gunakan. Tampak ia sedang mengamati kolam ikan yang ada di kampus. Juna hanya melihatnya dari sisi belakang.
Ketika gadis tersebut membalikkan badannya, Juna langsung terdiam dibuatnya. Ia lalu menghentikan langkahnya. Wajah turunan bule yang sangat cantik telah membius Juna. Putih, mulus, tinggi dan body yang padat berisi menambah kesempurnaan gadis cantik itu. Apalagi ia juga tersenyum yang semakin menambah hati seorang Juna berdegup kencang tak karuan.
Baru pertama dalam seumur hidupnya ia melihat gadis yang begitu sempurna. Selama ini ia hanya mengenal Nina cinta pertamanya, atau Dewinta idolanya saat SD dulu. Hati Juna terasa tersentuh begitu dalam mendapati wajah dan senyuman yang manis tersebut. Di tambah lagi aroma wangi tubuhnya yang berbau bunga yang lembut semakin membuat ia seperti melayang di atas awan nan lembut.
“Hai… “ sapa gadis itu mendahului Juna yang masih saja bengong menatap gadis itu.
“H-Hai juga, kamu siapa?”
“Nama ku Alena, kamu Juna, kan?”
“D-darimana kamu tahu namaku?”
Lagi lagi ia melempar senyumnya yang teramat manis itu. Jelas itu buat Juna karena hanya mereka berdua disitu. Juna lalu tersadar jika sekarang ia sudah telat masuk ke kelas.
“Eh maaf Alena, aku dah telat nih, aku duluan ke kelas ya, bye.” Pamit Juna buru buru tanpa menunggu jawaban sang gadis yang hanya senyum melihatnya.tau Dewinta idolanya saat SD dulu. Hati Juna terasa tersentuh begitu dalam mendapati wajah dan senyuman yang manis tersebut. Di tambah lagi aroma wangi tubuhnya yang berbau bunga yang lembut semakin membuat ia seperti melayang di atas awan nan lembut.
“Hai… “ sapa gadis itu mendahului Juna yang masih saja bengong menatap gadis itu.
“H-Hai juga, kamu siapa?”
“Nama ku Alena, kamu Juna, kan?”
“D-darimana kamu tahu namaku?”
Lagi lagi ia melempar senyumnya yang teramat manis itu. Jelas itu buat Juna karena hanya mereka berdua disitu. Juna lalu tersadar jika sekarang ia sudah telat masuk ke kelas.
“Eh maaf Alena, aku dah telat nih, aku duluan ke kelas ya, bye.” Pamit Juna buru buru tanpa menunggu jawaban sang gadis yang hanya senyum melihatnya.