Setelah lulus dari Sekolah Teknik Menengah, Peyok tidak ingin melanjutkan ke jenjang lebih tinggi lagi. Ia lebih memilih bekerja di bengkel sesuai dengan jurusan yang ia pilih di sekolah. Dia bekerja dengan seorang temannya yang kebetulan telah memiliki usaha bengkel khusus motor buildup atau motor motor yang khusus modifikasi. Kesenangannya pada dunia otomotif tidak lepas dari kecintaannya pada motor hasil modifikasi yang begitu modis. Padahal ia sendiri sangat telat untuk bisa naik sepeda motor. Dari kecil hingga STM hanya sepeda ontel yang ia gunakan untuk bepergian kemana mana.
Didikan orang tua yang memang basicnya dari wirausaha membuat Peyok banyak belajar dari mereka. Meski akhirnya nanti ia tidak melanjutkan usaha ternak babi kedua orang tuanya. Kini Peyok harus bekerja di bengkel motor membantu Mamanya yang hanya tinggal sendiri karena Papanya telah wafat meninggalkan mereka. Kakak Peyok yang lainnya juga sudah pada bekerja hingga merantau keluar daerah.
Hampir mirip dengan Didi yang juga bekerja di bengkel, tapi mereka beda keahliannya. Jika Didi lebih menyukai tentang mesinnya, Peyok malah menggemari keindahan otomotif dari modifikasinya. Sambil bekerja ia juga memiliki kegemaran lain yaitu pelihara burung. Sudah menjadi rahasia umum, hobi bermain burung adalah kesenangan seorang Peyok. Nyaris tiada hari tanpa burung dalam sangkar yang setiap paginya selalu saja berisik. Justru itulah daya tarik dari hobi ini.
Salah satu jenis burung yang cukup banyak ia pelihara adalah burung lovebird. Burung lovebird atau burung cinta asal Afrika yang cukup dikenal berkat warna-warna pada bulunya yang sangat cantik. Burung lovebird juga cocok untuk dipelihara oleh siapapun yang baru pertama kali memelihara hewan. Namun, cara merawat burung lovebird bisa jadi lebih merepotkan jika dibandingkan dengan spesies burung lain. Selain itu, mereka juga paling baik dipelihara sebagai pasangan, karena mereka membutuhkan begitu banyak perhatian dan kasih sayang.
Burung lovebird sendiri adalah burung beo kecil namun dengan tubuh yang gempal berukuran antara 13-17 cm. Namun, mereka tetaplah burung beo karena mereka termasuk dalam ordo Psittaciformes, yang mencakup semua burung beo. Mereka memiliki paruh bengkok dan kaki zygodactyl (dua jari mengarah ke depan dan dua poin ke belakang).
Kebanyakan burung ini sangat gemar mandi di piring tembikar datar atau dengan menyemprotnya dengan semprotan tipis air hangat. Peyok menggunakan piring mandi, ia akan melihat burung-burung bertengger di tepinya dan mencelupkan kepala serta tubuh bagian atasnya ke dalam air dan mengepakkan sayapnya.
“Mereka lebih suka mandi semacam ini daripada masuk ke air.” Batinnya.
Lovebird umumnya memelihara kuku dan paruh mereka sendiri dengan cara memanjat dan mengunyah. Dalam cara merawat burung lovebird, salah satu hal yang terpenting adalah pemberian pakannya. Di alam liar, burung lovebird memakan biji-bijian, beri, buah-buahan, biji-bijian, rerumputan, pucuk daun, dan tanaman pertanian seperti jagung dan buah ara.
Jika saat libur kerja ia bisa menghabiskan waktu seharian hanya dengan burung kesayangannya. Ia lebih memilih memanfaatkan hari libur bersama binatang peliharaannya ketimbang berkumpul bersama teman temannya. Sekarang bukan lagi saatnya bermain bersama seperti sepuluh tahun yang lalu. Bahkan ia tidak memiliki seorang pacar karena ia sudah pesimis duluan ga aka nada gadis yang mau dengannya. Jangankan jadi pacar, menjadi teman dekat saja mereka pasti mikir.
Lingua adalah salah satu gadis yang telah membuat ia mulai mengenal namanya cinta monyet. Sedari kecil karena sering bermain bersama membuat Peyok merasa ada harapan dengan gadis tersebut. Apalagi Lingua adalah gadis keturunan chinese yang sama dengan suku Peyok. Harapan itu semakin besar ketika tahu Lingua juga tidak memiliki pacar.
Namun perlahan rasa itu mulai memudar dan menjadi benci bahkan rasa dendam. Ia menyadari jika Lingua sebenarnya hanya menyukai Juna, sahabat masa kecilnya. Sejak saat itu ia jadi enggan berhubungan dengan para wanita. Jikapun ada gadis yang itu tak lebih hanya sebagai teman. Ia sudah pesimis untuk memulai sebuah hubungan yang lebih serius. Hingga saat bekerja ia belum pernah merasakan namanya malam minggu mengapel ke rumah pacar.
Semenjak saat itu, mulailah Peyok dengan dunianya memelihara binatang sejenis burung. Ia jadikan kegemaran itu sebagai pelarian kasih sayangnya pada Lingua yang tak pernah terungkap hingga gadis tersebut memiliki pacar. Dengan lovebird ia bisa melampiaskan semua rasa dengan hewan tersebut, meski sebenarnya itu seperti orang yang tak waras.
“Hayoo, manukku sayang, semangat yo, jangan pernah mengenal lelah, hiduplah selagi kalian masih bisa bernafas.” Ia lalu memulai berhalusinasi lagi. Mengobrol dengan hewan peliharaannya.
“Bagus ya om burungnya.”
Tiba tiba dari arah depan sangkarnya ada sebuah suara yang mengejutkan dirinya. Sontak Peyok langsung terdorong ke belakang.
“S-s-siapa kamu?”
“Om boleh aku minta burungnya, aku suka om dengan burung ini.”
“S-s-siapa kamu hah, kamu dari mana anak kecil, kok bisa ada disini?”
“Aku minta ya om burungnya ini, aku suka om.” Bocah itu terus saja berkata seperti itu tanpa sekalipun membalas pertanyaan Peyok yang semakin ketakutan melihatnya.
Bocah kecil dengan pakaian yang begitu rapi tapi berwarna lusuh. Wajahnya pucat, luka sabetan di wajahnya masih jelas menganga lebar dengan darah yang segar bercucuran keluar. Tangan kirinya tidak ada.
Wajah Peyok tampak pucat pasi melihatnya. Ia merasa tak mengenal sosok bocah di depannya. Anak tetangga juga rasanya tak mungkin berani masuk ke rumah tanpa permisi dengannya. Apalagi bocah ini lebih mirip keturunan orang luar negeri. Meski kulitnya terlihat pucat tetap tak bisa menutupi asal keturuannya. Sisiran rambutnya masih tertata rapi.
“Tolong kamu pergi, pergi!”
“Kembalikan barang kami, Om.” Pinta anak kecil tersebut sambil menjulurkan tangan kanannya yang sudah membusuk. Aroma tak sedap langsung menyergap hidungnya Peyok.
“Barang apa? Aku ga pernah mengambil barang kalian.”
“Kembalikan barang kami, Om!” kembali ia meminta pada Peyok untuk mengembalikan barangnya.
“Aku ga tau barang apa, ambil saja barang disini yang kamu mau dan pergi dari sini.” Peyok menjerit jerit ketakutan.
“Kembalikan barang kami, Om!” kali ini sosok anak kecil gentian menjerit di muka Peyok secara dekat sekali. Sontak membuat Peyok langsung terjorok ke belakang. Wajahnya makin pucat pasi dan jantungnya semakin kencang berdebar. Rasanya sangat sakit ia harus mengatur nafasnya. Ia hanya bisa memejamkan mata dan pasrah.
Beberapa detik setelahnya ia beranikan diri membuka matanya. Kali ini sosok anak kecil itu telah menghilang dari hadapannya. Tidak ada satupun yang terlihat hanya tersisa aroma tak sedap yang masih menyelimuti tubuhnya. Peyok bisa bernafas dengan lega setelah sosok itu menghilang. Ia kembali melihat burung peliharaannya.
Betapa terkejutnya ia mendapati keadaan hewan peliharaanya yang sudah tak bernyawa di dalam sangkar tersebut. Kondisinya sangat mengenaskan. Kepala hewan itu terlepas dari tubuhnya dan hilang entah kemana. Isi perutnya keluar dari tubuhnya yang terbelah. Bercak darah segar juga berceceran di dalam sangkat itu.
Takut dan sedih semua rasa itu menjadi satu. Peyok harus kehilangan binatang kesayangannya. Ia tidak bisa berkata apa apa melihat kenyataan tersebut. Rasa takut dan khawatir juga ia rasakan. Setelah semua bekas jasad burungnya ia bersihkan, segera ia mandi dan berangkat kerja.