Pengalaman yang di alami Alex untuk pertama kali seumur hidupnya membuat ia jadi merubah mind setnya tentang dunia sebelah. Ia pemuda yang sangat pemberani dan juga sangat tidak percaya dengan dunia mistis, termasuk dengan makhluk astralnya. Baginya semua itu adalah mustahil bagi orang yang memiliki keimanan. Apalagi dunia mereka yang sangat jauh berbeda. Kejadian di toilet mungkin akan jadi pengalaman yang sangat menegangkan seumur hidupnya.
Saat ia mengetuk pintu dan tidak mendapat sahutan dari dalam, ia jadi ragu jika di dalam toilet itu ada orangnya. Di dorong oleh rasa penasaran yang begitu besar, ia mendorong pelan pintu tersebut. Ternyata tidak di kunci dan hasilnya sangat mengejutkan setelah melihat apa yang ada di dalam tidak sesuai dengan perkiraannya. Meski hanya dengan mengandalkan cahaya dari korek gas yang ia bawa.
Alex bisa sedikit bernafas lega setelah mendapati fakta yang tak sesuai dengan kenyataan. Ia melanjutkan menuju wastafel dimana tempat ia menaruh senter besar yang ia bawa tadi. Begitu sisa semeter lagi ia bisa menjangkau senternya yang mati tiba tiba terjadi sesuatu yang tidak ia duga.
Lampu senter tersebut mendadak menyala lagi. Ia bisa sedikit lega. Namun lagi lagi nyaris copot jantungnya saat melihat pantulan cermin yang ada di hadapannya. Wajah seorang pria yang sebagian sudah tidak utuh. Matanya hilang dan mengeluarkan darah yang sangat segar. Wajah itu begitu hitam pekat.
Leher Alex terasa begitu cekat tak mampu berkata apapun saat melihat sosok di pantulan kaca itu. Tubuhnya tiba tiba menjadi kaku. Semua indera dalam tubuh terasa mati mendadak. Tidak ada satupun yang berfungsi normal.
Selang sedetik kemudian lampu senter tersebut mati lagi. Tubuh Alex juga bisa normal kembali, tapi nafasnya jadi tak beraturan. Keringat dingin mulai bercucuran dari keningnya. Ia menyalakan korek gas yang ada di tangannya. Ia penasaran sosok yang ia lihat barusan, tapi hasilnya tidak ada penampakan yang menyeramkan tadi. Semuanya kosong. Senter di depannya langsung ia raih dan coba benarin, dan sedetik kemudian menyala.
Segera ia keluar dari toilet tersebut dan bermaksud menuju ke pos jaga. Tujuan untuk berkeliling sepertinya akan ia tunda untuk sementara. Ia ingin mengadu sedikit pada teman jaganya tentang apa yang baru saja ia alami. Langkahnya agak ia percepat, karena lampu senter yang ia bawa sepertinya sedang ada masalah karena hanya menyala sesaat.
Saat berada di ruang tunggu penumpang yang sudah ia periksa tadi, samar samar ia melihat sesuatu berwarna putih sedang duduk di antara kursi tunggu penumpang. Alex merasa yakin jika awal ia lakukan pemeriksaan tidak ada satupun yang luput dari pengawasannya. Apalagi sesuatu yang aneh seperti yang sekarang ia lihat. Sekujur tubuhnya kembali meremang bulu kuduknya. Badannya perlahan bergetar. Tapi bukan Alex namanya jika ia tak berani maju menghadapi apapun.
Berbekal rasa tak percaya dengan makhluk gaib, hantu atau apapun namanya, ia mantap mendatangi sosok berpakaian putih tersebut. Ia percepat lagi langkahnya mendekati sosok itu. Tapi sial kembali menderanya. Ia hentikan langkahnya untuk sesaat. Bantuan penerangan dari sebuah korek gasnya tidak banyak membantu di saat yang genting. Korek gas itu malah tak mau lagi di hidupkan. Hanya berupa percikan yang sedari tadi keluar saat Alex berusaha menyalakannya. Belum selesai dengan korek gas, di hidungnya sudah tercium aroma yang sangat tak mengenakkan. Bau busuk bangkai di tambah dengan bunga melati yang begitu pekat seolah semuanya sangat dekat dengan dirinya.
“Ah sialan korek ni, di saat dibutuhkan malah mati. Mana bau busuk lagi.” Sambil ia menutupi hidungnya. Mendadak lampu senternya bisa hidup dengan sendirinya.
Karena warna putihnya begitu mencolok di dalam kegelapan, sosok itu masih bisa di lihat oleh Alex. Cahaya di luar gedung juga masih bisa menembus walau hanya sedikit menerangi. Tanpa ragu lagi ia langsung mendekatinya. Begitu sudah dekat dan berhadapan dengan sosok itu, Alex langsung diam tak berkutik. Senter yang ia pegang dan cahayanya tepat mengena pada wajah sosok itu. Netranya tak mampu berkedip sedikitpun. Wajahnya langsung pucat pasi. Keringat dingin langsung bercucuran membasahi tubuhnya.
Sosok itu adalah wanita yang sudah hancur wajahnya. Tampak ia begitu santai sambil menyisiri rambutnya yang panjang terurai tak beraturan. Bau busuk yang Alex cium tadi ternyata berasal dari wajah wanita ini yang mengeluarkan nanah yang begitu kental dan menjijikkan. Sesekali ia terisak isak menangis, entah apa yang sedang ia tangisi.
Alex kali ini benar benar kena mentalnya. Selama ini stigma ia tak mempercayai demit seolah tak berlaku lagi. Sosok kedua setelah yang di toilet tadi seakan menjadi bukti nyata bahwa mereka memang ada. Ia berusaha membaca doa apapun tak mampu ia lakukan karena semua indera tubuhnya benar benar di buat mati saat itu. Satu satunya harapan adalah pasrahkan diri pada Tuhan nya.
Ajaib. Ia bisa menggerakkan tubuhnya. Tanpa ragu lagi ia segera membalikkan badan dan mengambil langkah seribu guna menghindari sosok tersebut. Dengan bantuan senter yang sudah menyala tadi ia lari tunggang langgang tanpa menghiraukan lagi sosok itu. Ia tak peduli lagi dengan apa yang ada di depannya. Sementara suara lengkingan tawa sosok tadi semakin keras terdengar di telinga Alex. Seakan suara itu menggema di seluruh gedung ini.
Hihihi hihihi
Akhirnya tinggal sedikit lagi ia tiba di pos penjagaan. Ia berhenti sebentar untuk mengatur nafasnya yang tersengal sengal. Ia membungkukkan badannya. Untuk sementara suara lengkingan wanita tadi tidak terdengar lagi.
“Sialan, itu tadi apaan sih?”
Alex lalu melanjutkan langkahnya mendekati pos penjagaan. Di sana terlihat sang teman lagi tegang menyaksikan sebuah tontonan di TV. Begitu ia masuk Alex langsung merebahkan tubuhnya di kursi yang lowong. Sambil bersandar ia meraih segelas air putih yang ada di pos.
“Apes banget aku hari ini bro. Mulai dari toilet dikerjai, terus di ruang tunggu penumpang malah lebih parah. Itu sosok apaan sih, orang apa hantu? Baru kali seumur hidupku ketemu gituan. Badanku habis basah semua, bulu kuduk pada merinding semuanya… “
Alex belum menyadari dengan siapa lawan bicaranya. Yang ia tahu di pos itu ada teman jaga yang satu shift dengannya. Ia terus saja mengoceh tentang apa yang ia alami barusan. Alex lalu membakar rokoknya dan tetap saja bicara. Sesekali ia menenggak kopi yang telah tersedia. Lalu kembali merokok. Setelah menyadari tidak ada balasan obrolan dari temannya, Alex lalu berhenti bicara dan mencoba melihat ke arah temannya.
ASTAGHFIRULLAH!
Jerit terakhir suara si Alex saat melihat keadaan teman jaganya.