Horor di Bandara

1061 Kata
Mendapat jadwal jaga malam hari adalah hal yang biasa buat seorang security bernama Alex. Apalagi ia hanya berdua dengan seorang teman yang memang jadi partnernya dalam bekerja. Di temani se-cangkir besar kopi panas dan gorengan yang masih hangat sudah menjadi rutinitas ia dalam menjaga objek vital tersebut. Tak lupa juga TV yang kudu aktif selama 24 jam untuk menemani mereka mendapatkan hiburan di tengah malam yang suntuk. Bandara kecil yang mendapat level internasional karena letak kota kelahiran Alex berada di gerbang masuk Indonesia dari sisi tengah. Berbatasan langsung dengan Negara Malaysia yang juga serumpun dengan bangsa Indonesia. Segala barang juga bisa saling bertukar dengan Negara tersebut. Banyak bahan bahan makanan impor dari Negara itu. Kesibukan bandara kecil ini cukup padat sehari harinya. Hanya pagi hingga sore hari ia membuka jadwal terbang dan kedatangan penumpang. Malam mereka berhenti operasi karena mengingat fasilitas zaman itu yang masih minim dan juga aktivitas tidak seramai di kota kota besar hingga 24 jam. Alex yang mendapat giliran malam itu, sudah mempersiapkan semua perlengkapannya. Mulai dari jaket tebal dan sarung tangan untuk meredam kedinginan malam itu. Kebetulan sudah semingguan ini kotanya selalu di guyuri hujan yang deras dan cukup merata di seluruh penjuru kota Tarakan. Saat kondisi cuaca masih tampak basah, ia tetap berangkat bekerja guna memenuhi tanggung jawabnya sebagai karyawan. “Bro, aku tak keliling dulu ya, lu jaga pos sebentar ya.” “Siap Komandan! Laksanakan!” sang teman mencoba menggodanya. Malam ini sang teman sepertinya sedang gembira hatinya. Terlihat dari mulai datang dan tukar shift kerja tadi ia sumringah terus tak hentinya menunjukkan giginya yang ompong. Pakaian yang ia gunakan juga bukan seragam yang seharusnya menjadi standar kantor. Beruntung jadwal kerja di malam hari jadi tidak ada yang tahu jika teman Alex tersebut menggunakan seragam di luar ketentuan perusahaan. Jika pagi sudah pasti akan mendapat sanksi dari kantor tempat ia bekerja. Alex langsung membawa sebuah senter atau lampu yang berisi baterai. Ia harus berjalan ke sekeliling bandara tersebut untuk memeriksa keadaan. Apakah semua baik baik saja atau ada sesuatu yang mencurigakan atau bisa membahayakan. Karena ia sudah terbiasa dengan dunia malam di bandara tersebut jadi ia sudah hapal semua tempat di gedung tersebut. Meski situasi saat itu kurang memadai pencahayaannya karena setiap malam akan di matikan daya lampu pada beberapa titik guna efisiensi. Di mulai dari ruangan untuk check in penumpang, ia periksa satu persatu dari luar dengan menggunakan pencahayaan seadanya dari senter yang ia bawa. Semuanya tampak aman tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Alex lalu melanjutkan ke ruangan berikutnya. Kali ini di ruang tunggu penumpang yang cukup luas. Di sana ia coba mengedarkan netranya dengan bantuan senter tadi. Perlahan lahan ia arahkan dari kanan ke arah kiri. Semua tampak normal tidak ada yang aneh. Selanjutnya adalah ruangan toilet yang sebenarnya tidak perlu ia lakukan. Namun karena ia mau sekalian buang air besar jadi sekalian memeriksa keadaan di sana. Situasi saat itu belum sedarurat saat kebelet. Ia masih bisa menahannya sebelum benar benar tiba di toilet tersebut. Saat berjalan menuju toilet ia merasakan ada angin yang mencolek lehernya. Seketika itu juga bulu kuduknya mulai meremang. Ia lalu menghentikan langkahnya. Mencoba memperhatikan sekelilingnya dengan bantuan senter tadi. Ia penasaran apa yang barusan menerpa tubuhnya yang begitu cepat dan lembut. Namun ia tak menemukan apapun, semua kosong yang ia lihat. Alex lalu melanjutkan ke toilet karena perutnya sudah mulai tak bisa di ajak kompromi lagi. Meski dengan suasana yang gelap ia masih ingat letak ruangan tersebut. Untung saja ia membawa lampu senter, sangat membantu kerjaannya. Begitu tiba di ruangan itu, ia langsung menuju toilet paling ujung. Sebelumnya ia taruh dulu lampu senter tadi di wastafel agar bisa menerangi semua ruangan toilet tersebut. Selain itu agar ia juga bisa tahu jika ada orang yang masuk ke toilet ini. Brak! Karena terburu buru ia tak sengaja menutup pintu toilet paling ujung. Pakaian security yang ribet cukup membuat ia kerepotan saat ingin membukanya. Apalagi sepatu standar yang harus ia gunakan. Untuk melepasnya cukup memakan waktu, untung saja toilet yang ia gunakan jenis toilet duduk jadi sedikit banyak bisa membantu proses buang air besarnya. Tanpa harus melepas sepatu dan celana seluruhnya, ia bisa duduk dengan santai sambil menikmati sepuntung rokok putih yang sudah menjadi teman hidupnya sejak kuliah. Tampak asap putih terus mengepul dari sebuah toilet yang terletak di ujung ruangan. Di sana sudah ada seseorang yang sedang asik menikmati moment pembuangan akhir dari sebuah rantai makanan seorang manusia. Sudah beberapa menit Alex berada di toilet tersebut tapi ia masih enggan menyudahinya karena rokok yang ia bakar tadi belum juga menemukan ujung dari akhir pembakarannya. Mendadak sinar dari senter yang ia taruh di wastafel depan tadi mulai bermain main cahayanya. Sebentar hidup sebentar mati sinarnya. Alex mulai terlihat tak tenang dengan keadaan tersebut. Ia berpikir jika sampai mati bisa gawat keadaannya. Bila senter tidak ada lagi pencahayaan maka tidak ada yang membantunya mengelilingi gedung bandara tersebut. Padahal dari pos tadi ia sudah yakin jika senter yang ia gunakan semuanya normal. Segera ia menyudahi moment ternikmat tersebut. Rokok yang tersisa terpaksa ia buang ke lubang WC agar ikut tenggelam dengan pembuangan terakhirnya. Namun saat ia baru saja hampir selesai ia membersihkan, mendadak dari WC sebelah tempat ia berada terdengar ada yang masuk. Brak! Kriet Kriet Kriet Kriet Suara dentuman pintu sama dengan suara yang Alex lakukan sewaktu masuk toilet tadi. Ia coba berteriak menegur suara yang ia kira sedang ada di sebelah. “Bro, oh bro. apa itu elu di sebelah?” Tidak ada jawaban. Ia coba lagi memanggil nama temannya, hasilnya juga sama. Hembusan nafas yang tak beraturan dari toilet sebelah membuat ia lalu berdiam diri. Bulu kuduknya langsung meremang semuanya. Degup jantungnya jadi tak karuan. Sementara cahaya dari lampu senter sudah padam beberapa saat yang lalu. Suasana jadi semakin mencekam. Alex tampak kalut dengan suasana yang gelap tersebut. Perasaannya sedari tadi semakin tidak enak. Dengan meraba raba ia kenakan celananya hingga terpasang dengan normal. Ia lalu keluar dari toilet dan tak mendapati apapun di ruangan itu karena suasananya yang sangat gelap gulita. Dengan perlahan ia meraba raba jalan agar tidak menabrak. Hanya mengandalkan ingatan ia berusaha menghapalnya. Ia baru teringat masih ada korek gas saat membakar rokok tadi. Dengan sedikit cahaya dari api kecil itu sedikit banyak sangat membantu dirinya di tengah situasi mencekam tersebut. Rasa penasaran dengan toilet sebelah membuat ia mencoba cari tahu siapa yang ada di sebelah. Ia ketuk pintunya tapi tidak ada jawaban dari dalam
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN