Menikmati film favorit seharusnya adalah moment yang terindah buat seorang Yuyung. Apalagi saat itu ia hanya seorang diri di rumah. Di lengkapi dengan makanan ringan dan soft drink yang sudah ia siapkan beberapa hari yang lalu. Tapi semuanya berubah jadi horror ketika situasi di rumah menjadi sangat mencekam.
Suara derap langkah yang awalnya hanya beberapa kali terdengar semakin lama suaranya semakin ramai. Langkah orang berbaris dan percakapan orang yang tidak ia mengerti artinya tapi masih bisa mengenal dari logat bahasanya. Beberapa kali ia harus memompa degup jantungnya karena rasa takut yang tiba tiba menyergapnya.
Film p***o yang seharusnya bisa merangsang libido si Yuyung seketika langsung berubah berantakan semuanya. Ia tidak bisa menikmati lagi film tersebut. Yang ada sekarang adalah rasa penasaran dengan suara di atas loteng.
Sempat ketika ia mematikan lampu di sudut kamarnya ada sesosok makhluk yang sukses membuat ia sport jantung. Tapi begitu lampu kamar tersebut di nyalakan malah sosok itu menghilang entah kemana. Ia pastikan lagi mendekat pada sudut tempat ia melihat sosok tadi tapi tetap tidak ada.
Mimpi apa aku semalam, kok bisa jadi horror begini, ga biasanya.
Ia tak habis pikir dengan apa yang ia lihat tadi. Di tambah lagi bulu kuduknya sudah tegang dari tadi dengan nuansa horornya. Itu belum termasuk di dalam celananya yang sudah tegang sewaktu menonton tadi. Setelah yakin tidak ada apapun di ruangan lantai 2, ia kembali turun ke lantai 1. Sementara hatinya agak tenang setelah tidak ada yang aneh di loteng.
Yuyung menuruni tangga agak cepat dari biasanya karena merasa sudah terbiasa. Tanpa khawatir sedikitpun untuk terjatuh. Meski sudah terbiasa tetap saja musibah tidak ada yang tahu datangnya kapan. Saat sudah mendekati lantai bawah kurang beberapa anak tangga lagi, ia salah melangkah dan tak mampu menahan tubuhnya untuk terjatuh. Namun nasib masih memihak padanya karena tangan kanannya sempat meraih handle tangga. Ia tidak jadi jatuh tapi kakinya yang sedikit terkilir karena harus menjaga keseimbangan.
Dia lalu perlahan merangkak menuju pembaringan tempat ia menonton film tadi. Ketika sudah tiba langsung ia merebahkan badannya di bantal. Ia coba pejamkan mata karena menahan rasa sakit pada kakinya tadi. Sambil membayangkan semalam mimpi apa ia bisa sesial ini hari ini. Ia tak menyangka bisa mendapat kesialan seperti ini.
Ia lalu bangkit dan mencari remote LD yang sempat ia hentikan sementara tadi. Ia cari di sisi kiri dan kanannya. Ternyata malah di depan matanya. Baru saja ingin menekan tombol play pada remote tersebut, tiba tiba ia terhenti sejenak. Yuyung melongo seakan tak percaya apa yang ia lihat di layar TV-nya.
Tampilan di layar bukan lagi gambar p***o yang ia tonton tadi melainkan gambar suatu benda yang sangat tidak asing buat dirinya. Ia jadi teringat kembali kejadian sepuluh tahun silam. Dimana dia, Juna, Peyok, Alex, Cecep dan Didi berada di lokasi itu. Kejadian itu langsung terlihat begitu jelas terpampang di depan Yuyung. Ia hanya terdiam dan menatap kosong di depannya.
“Yung, oi Yung!”
Dari luar rumah terdengar seseorang memanggil dirinya. Gara gara suara tersebut ia jadi tersadar dan segera bangkit menuju suara yang tak asing bagi dirinya. Meski dengan langkah tertatih tatih ia paksakan untuk ke arah depan untuk membukakan pintunya.
Dok dok dok dok
“Iye sabaran napa.” Teriak Yuyung dari dalam.
Setelah di buka ternyata salah satu tetangga sekaligus teman dekatnya juga, si Peyok.
“Lama betul ba kau nih buka. Sudah mulai belum filmnya.”
“Kimaknya kau nih ba, kayak baru pertama nonton aja kau, Pop. Ayo masuk.”
Setelah menutup pintu dan sobatnya tersebut masuk ke rumah. Yuyung masih juga tertatih langkahnya.
“Kenapa kaki mu Yung?”
“Jatuh tadi di tangga.”
“Itulah nonton bokep ga ngajak aku sih.”
“Taik mu, apes aku ba hari ini.”
Setelah berada di depan TV, Yuyung jadi heran dengan perubahan pada gambar yang tadi ia lihat. Gambar yang tampil kembali normal, wanita telanjang dengan lawan mainnya. Tayangan yang memang terakhir ia lihat saat di pause tadi sebelum naik ke loteng. Ia mengucek matanya untuk meyakinkan jika ia tidak salah lihat pada TV nya.
“Kenapa kau Yung?”
“Ga Pop, tadi gambar filmnya ga begini. Sebelum kau datang tadi, gambarnya ga begini.”
“Ah kau kebanyakan nonton bokep nih jadi halusinasimu ga beraturan.”
“Beneran Pop, tadi awalnya memang bokep, terus aku stop sebentar dan naik ke loteng, ada yang mau ku periksa, sampai turun tadi keseleo kakiku karena terburu buru turun, terus baring disini, eh pas mau normalkan kembali gambarnya aneh.”
“Emang gambar apa Yung?”
“Kamu inget ga waktu sepuluh tahun yang lalu?”
“Aduh sori ye, ingetan ku ga sebagus yang lain, capek aku Yung pikirnya.”
“Setan memang kau nih ba. Ga usah sudah aku cerita, nda guna juga.”
“Ok gini aja dah, gimana sambil kau putar lagi bokep itu dari awal, kau cerita lah sepuluh tahun yang lalu itu, biar aku bisa ingat juga ba.”
Yuyung lalu mengulang kembali LD film pornonya. Demi sobatnya yang lelet berpikirnya. Setelah semua normal filmnya, mulailah ia bercerita kejadian sepuluh tahun lalu.
Saat itu mereka, Juna, Alex, Yuyung, Peyok, Didi, dan Cecep bermain di sebuah daerah pegunungan di dekat kebun orang tuanya Didi dan Cecep. Kebetulan orang tua mereka adalah juragan tanah. Luasnya lahannya sejauh mata memandang. Banyak hasil kebun dari lahan tersebut yang bisa ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka.
Enam bocah yang sedang dalam masa pertumbuhan saat itu tidaklah begitu mengerti jika sudah mendapat peringatan dari orang tua Cecep. Justru semakin dilarang maka hal itu juga yang membuat mereka jadi penasaran. Dengan riang gembiranya mereka bermain hingga tanpa di sadari mereka sudah berada di suatu tempat yang masih asing buat mereka.
Semua tampak asing, nyaris tak ada kehidupan. Sesekali asap yang mengepul dari kejauhan seperti kabut tapi aroma yang di tebarkan tidak begitu enak. Seperti belerang dan terkadang berbau bunga bunga.
Hingga akhirnya tanpa di sengaja, salah satu dari mereka menemukan benda yang sangat menarik perhatiannya, yaitu si Cecep. Ia yang telah mengambil barang itu sebanyak enam buah. Ia sangat tertarik benda tersebut karena bentuknya yang unik yang biasanya hanya ia lihat di tv.
Para bocah melihat sesuatu yang baru dan menurut mereka bagus serta rasa ingin memiliki, jadilah barang barang itu mereka bawa masing masing ke rumah. Tanpa sepengetahuan orang rumah, satu persatu memodifikasi barang tersebut. Ada yang menjadikannya kalung, jimat keberuntungan dan sekedar koleksi.