“Lex, ga ke rumah kah, ada yang baru nih? Semalam aku yang sewa.”
“Aduh Yung, sori banget. Hari ini jadwal kerjaanku begitu padat.”
“Ok dah, jangan nyesel ntar ya, kalau udah ku balikkin LD nya.”
Tidak ada satupun teman teman yang bisa di ajak nonton bareng. Seperti biasa di rumah Yuyung saat sepi adalah moment terbaik untuk menikmati film p***o favorit. Bapak berangkat kerja tadi pagi, sebelum ia bangun. Sementara ibu sudah pergi ke koperasi tempat bapak kerja untuk mempersiapkan jualan cateringnya.
Yuyung hari ini mendapat jatah off dari kantornya karena memang di kalender sedang tanggal merah. Pekerjaannya sebagai tukang tagih di sebuah perusahaan leasing ternama membuat jadwal kumpul dengan teman teman di kampung sudah jarang ia lakukan.
Setelah menempuh pendidikan S1 di kota Malang dengan jurusan hukum, ia kembali ke kota asalnya. Berharap mendapatkan pekerjaan yang tak jauh dengan bidangnya. Tapi nasib berkata lain ia malah mendapatkan pekerjaan di leasing di bagian penagihan sekaligus penarikan unit. Pekerjaan yang sebenarnya sangat beresiko tinggi, apalagi mengingat Yuyung adalah pemuda yang tidak begitu berani saat berantem dengan lawan.
Sudah banyak lamaran yang ia masukkan di berbagai perusahaan, tapi tidak ada satupun yang belum bisa menerimanya karena factor belum pengalaman adalah salah satunya. Ia memang baru saja lulus beberapa bulan terakhir dan memang ingin pulang ke kota asalnya karena persaingan di kota perantauan sangatlah ketat dari pada di kota sendiri. Karena minim pengalaman dan jurusannya adalah hukum, ia agak kesulitan mencari yang sesuai dengan bidangnya.
Akhirnya peluang itu datang juga, Yuyung bisa di terima di sebuah leasing yang khusus membiayai kredit kendaraan roda dua. Cukup lama ia menganggur pasca lulus kuliah. Kebetulan perusahaan itu lagi memerlukan banyak tenaga kerja untuk cabang yang baru buka di daerah luar kota. Yuyung tak punya pilihan ia harus mengambil peluang itu meski harus keluar kota menjadi perantauan lagi.
Masa training sebulan di kantor pusat di kotanya membuat kehidupan Yuyung berubah. Ia yang selalu kesulitan bangun pagi karena sering bangkong. Tapi karena sekarang sudah bekerja ia terpaksa melakukan demi kehidupan yang lebih baik.
Hari itu kebetulan ia sedang libur kerja karena tanggalan lagi merah alias hari libur. Buat Yuyung hari libur kerja adalah sesuatu. Tapi tidak buat kedua orang tuanya karena libur atau tidaknya tetap saja pekerjaan harus di lakukan. Karena memang tak ada hari libur dalam dunia kerja orang tuanya.
Libur begini adalah kesempatan untuk menikmati film favoritnya apalagi kalau bukan film p***o. Ia sudah coba menghubungi teman karibnya, Cecep, Didi, Peyok, Alex dan Juna. Tapi sayang satupun tidak ada yang bisa menemaninya saat itu. Mereka semua sudah punya kesibukan masing masing. Terpaksa ia harus menyaksikannya sendiri.
Di rumah hanya tersisa ia sendiri. Semua orang rumah sedang sibuk bekerja di luar. Segera ia menghidupkan layar televisi dan mesin pemutar LD-nya. Makanan ringan beserta minuman juga sudah ia siapkan.
Beberapa saat film pun dimulai. Yuyung sudah mulai tampak tegang raut wajahnya. Ciri khas maniak bokep. Ia mengunyah beberapa keeping kripik yang telah ia siapkan. Matanya tak berkedip barang sedetikpun. Film yang baru saja bapaknya sewakan, berhasil ia dapatkan dari tempat yang biasa bapaknya sembunyikan.
Adegan demi adegan berjalan hingga 10 menit. Yuyung tak berubah posisi duduknya. Ia begitu menikmati sajian hiburan favoritnya. Sambil mengunyah camilan yang sedari tadi tak habis habis. Sesekali ia juga menyeruput soft drink yang dingin. Tangannya juga sering membenari bagian bawah antara selangkangannya.
Duk Duk Duk Duk
Mendadak Yuyung di kagetkan oleh sebuah suara. Ia lalu menghentikan sementara film yang sedang berputar. Ia coba memfokuskan pada arah suara tadi.
Duk Duk Duk Duk
Yuyung semakin yakin jika suara itu berasal dari atas loteng atau lantai 2 tempat ia tidur dan kamar lainnya. Suara orang melangkah sangat jelas terdengar, karena lantai rumah yang terbuat dari kayu.
Duk Duk Duk Duk
Kembali suara itu terdengar saat Yuyung masih berpikir keras siapa yang sedang berada di atas loteng tersebut. Padahal sedari awal tadi ia sudah yakin tidak ada orang selain dirinya di rumah ini. Bapak dan ibunya bekerja mulai pagi, dan tidak ada orang lagi yang tinggal di rumah ini selain mereka bertiga.
Dadanya mulai berdegup dengan kencang. Ia fokuskan pandangannya ke arah atas di tangga menuju lantai dua. Berharap ini semua hanya sebuah prank atau ia sedang bermimpi.
Duk Duk Duk Duk
Suara langkah kaki itu kembali terdengar dan kali ini lebih keras. Yuyung tersontak kaget karena terasa semakin dekat. Ia lalu beranjak dari duduknya dan tidak mengalihkan pandangannya dari tangga lantai dua tersebut.
Sekian menit ia tunggu tak lagi terdengar suara langkah kaki di lantai atas. Yuyung langsung meraih air soft drink dan langsung meminumnya. Sambil menyeka keringat yang mulai membulir di wajahnya. Ia menghela nafas panjang dan mengembalikan netranya ke tontonan yang sempat tertunda tadi.
Duk Duk Duk Duk Drap Drap Drap Drap
Kali ini suara itu muncul lebih ramai dari semula. Yuyung kembali harus memacu jantungnya karena rasa takut yang mulai menyelimutinya. Ia semakin bingung suara apa yang barusan ia dengar dan sangat jelas berasal dari lantai 2 rumahnya. Tubuhnya serasa kaku enggan di gerakkan. Entah apa yang terjadi dengan dirinya. Yuyung bingung tak tahu harus berbuat apa. Ia ingin pergi keluar dari rumah ini.
Butiran keringat sudah membasahi seluruh tubuhnya. Suara derap langkah itu terdengar semakin ramai. Langkah orang baris berbaris yang sering ia dengar saat ada lomba berbaris antar sekolah dulu. Tapi ini sangat tegas langkahnya seperti para tentara yang dulu ia idolakan saat melihat mereka lewat depan rumah.
Setelah suara itu menghilang, ia baru bisa bernafas dengan lega. Karena rasa penasaran dan ia juga bukan typical orang yang penakut, Yuyung pergi ke lantai atas. Ia memeriksa di kamar kamar di atas yang tampak gelap karena kurangnya pencahayaan. Ia edarkan netranya ke seluruh ruangan yang ada di loteng tapi tak ada yang ia temukan hal yang aneh.
Dia lalu melanjutkan ke ruang tidurnya di depan balcon. Tidak ada juga yang aneh. Karena gelap ia langsung menyalakan lampu kamarnya. Nihil. Langsung ia matikan lagi tapi ia sontak terkejut ketika mendengar suara deheman seseorang di kamarnya saat itu. Tangan yang masih menyentuh saklar lampu, reflect menyalakan kembali. Tetap tidak ada apa apa di kamarnya. Begitu lampu dimatikan tampak di sudut kamar langsung terlihat sesosok orang berpakaian seperti tentara penjajah. Semua bulu kuduknya langsung meremang kala itu. Kembali reflek ia menyalakan lagi lampu kamarnya. Seketika sosok itu tidak ada di tempat ia melihatnya tadi.