Teror Pertama buat Didi

1012 Kata
Setelah lulus dari sekolah teknik menengah, Didi mencoba magang di sebuah bengkel. Ia tidak mempermasalahkan tentang berapa gaji yang harus ia terima. Baginya bisa bekerja saja sudah bersyukur, karena sebenarnya ilmu yang harus banyak ia pelajari lagi mengenai teknik mesin. Lagian Didi bukanlah cowok yang mata duitan. Ia sangat senang dengan dunia otomotif, terutama mesin roda dua. Hampir tiap hari ia berkutat dengan mesin, dari yang awalnya rusak lalu menjadi baik hingga kembali rusak lagi. Rasa penasaran akan perubahan pada setiap mesin yang berbeda membuat ia justru merasa tertantang. Hingga suatu hari … “Bro, aku duluan ya, kerjaan ku dah selesai juga.” Didi yang masih tampak asik dengan motor yang ia perbaiki, sepertinya tak begitu mendengar suara temannya. Apalagi saat itu di bengkel tempat ia bekerja sedang menghidupkan music yang di putar cukup keras. Sang teman yang melihat Didi begitu konsentrasi penuh dengan kerjaannya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia paham betul jika teman kerjanya itu jika sudah terlanjur mencintai dunianya, maka sekelilingnya takkan pernah di anggap ada. “Di, woi Di! Ya elah nih orang klo dah kerja lupa segalanya.” Segera ia menuju ke tempat music yang sudah menyala. Ia matikan music tersebut. Seketika suasana langsung hening. “Woi, Di! Aku pulang duluan ya, dah malam nih.” “Eh ya bro, sorry ga bisa nganter ya, masih belum kelar nah.” “Inget jangan terlalu malam bro, besok kan kerja lagi.” “Iya bro, sedikit lagi kelar kok, nanggung nih.” “Ok dah, aku duluan, Di.” “Jangan lupa tutup pintu bro.” Di bengkel memang hanya tersisa mereka berdua. Hari ini orderan buat jasa mereka cukup banyak dari pelanggan. Bahkan sudah seminggu terakhir ini jasa perbaikan mesin meningkat drastis dari hari hari biasanya. Mungkin salah satu hikmah dari banjir yang sedang melanda kota ini. Jadi banyak kendaraan roda dua yang terendam sehingga terkena mesinnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Di luar sudah tak terdengar lagi deru kendaraan yang lalu lalang. Mungkin karena sehabis hujan dan juga waktu yang sudah begitu larut malam. Orang orang banyak yang sudah istirahat dan enggan untuk keluar karena suhu di luar juga terasa dingin. Nyaris tak terdengar suara apapun di luar, hanya gemericik air dari sisa hujan yang reda barusan. Di dalam bengkel Didi masih saja sibuk mengutak atik mesin motor yang belum juga kelar. Tampak kedua tangannya sudah belepotan dengan minyak oli dari mesin yang ia perbaiki. Wajahnya juga tak luput dari cairan tersebut. Sesekali ia menyeka keringatnya dengan baju yang telah kotor juga. Suara music sudah mati sedari tadi sejak ia di tinggalkan pulang oleh temannya. Didi memang tak pernah menghiraukan suara apapun selama ia bekerja. Jika sudah di hadapkan dengan hobinya semua pasti membuat ia lupa. Tiba tiba… Dok dok dok! Didi yang sedang focus dengan kerjaan sontak dibuat terkejut dengan suara pintu yang di gedor dengan begitu keras. Matanya langsung awas ke arah pintu depan. Sambil menunggu siapa yang menggedor barusan. Dok dok dok! Kembali pintu roling door tersebut berbunyi keras. Didi langsung focus ke pintu lagi. Ia berdiri dan memegang kunci baut yang cukup besar. Perasaan sudah tidak nyaman, khawatir ada orang yang berniat jahat dengan tempatnya bekerja. Untuk berjaga jaga bila ada sesuatu yang mengancam keselamatannya, kunci baut tersebut ia genggam erat erat. Melangkah ia perlahan lahan menuju pintu tersebut. BLAR!! Betapa terkejutnya Didi sampai terlompat saat mendengar pintu seperti di sambar petir yang menggelegar. Kunci baut yang ia pegang seketika terlepas dari tangannya. Ia lalu memegang dadanya yang mulai sakit karena degupan jantungnya begitu kencang. Tapi itu tak membuat mengendurkan niatnya untuk melihat siapa yang telah mengetuk pintu bengkel. Selama ini Didi sudah sering pulang larut malam untuk menyelesaikan pekerjaannya, tidak ada sesuatu yang ganjil. Paling hanya suara jangkrik, kodok atau anjing yang melolong seperti biasanya. Ia mengira jika diluar masih hujan dan ada petir karena hari itu seharian kotanya di guyur hujan. Didi yang pemberani kembali meraih kunci baut yang terlepas tadi dan mulai membuka pintu bengkel tempat ia bekerja. Ia langsung mempersiapkan segalanya. Begitu di buka pintu tersebut tidak ada satupun yang ia lihat. Hanya kegelapan malam tanpa ada satupun manusia yang lewat. Saat ia ingin menutup pintu, mendadak angin lembut langsung menerpa tubuhnya dan membuat sekujur tubuhnya langsung merinding seketika. Sedikit rasa takut membuat ia segera menutup pintu bengkel saat itu juga. Khawatir jika ada pelaku kejahatan yang tiba tiba nantinya menyerang dirinya. Apalagi ia hanya sendirian dan tidak ada orang di sekitar bengkel. Mengingat kondisi sehabis hujan dan waktu juga sudah sangat larut. Krieeeeet… Brak! Selesai pintu di tutup, Didi bisa bernafas sedikit lega. Mungkin ini sudah waktunya aku pulang kerja, batin Didi. Namun ia merasa pekerjaannya tinggal sedikit lagi akan selesai. Ia sangat totalitas jika soal pekerjaan. Apalagi hanya tersisa sedikit untuk penyelesaiannya. Tanggungjawabnya sebagai karyawan patut di acungi jempol. Makanya tokek pemilik bengkel sangat senang dan mengandalkan dirinya soal mesin dan juga usaha bengkelnya. Didi orang kepercayaan pemilik bengkel karena dirinya yang begitu loyal. Didi akhirnya memilih melanjutkan pekerjaannya lagi yang sempat tertunda. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam dan mulai memasuki dini hari. Suhu yang begitu dingin selepas hujan membuat suasana semakin terasa sejuk. Baru beberapa saat mulai melanjutkan pekerjaannya, aroma tak sedap langsung menyeruak ke hidungnya. Didi terdiam sesaat mencoba mencerna aroma apa yang sedang terhirup oleh indera penciumannya. Bau apa ini? Rasanya mau muntah, batin Didi. Tidak hanya bau yang tak sedap, sekujur tubuhnya juga mulai meremang bulu kuduknya. Merasa tidak nyaman dengan keadaan tersebut ia lalu pergi ke belakang. Toilet adalah tujuannya. Mungkin karena efek menahan kencing tadi ia jadi berhalusinasi yang aneh aneh. Belum lagi suhu malam ini yang begitu dingin dari hari biasanya padahal ia berada di dalam ruangan. Saat ia sedang berada di dalam toilet untuk buang air kecil, tiba tiba pintu toilet terdengar ketukan yang begitu keras. Dok dok dok… Dok dok dok… “Woi siapa?” Dok dok dok… Dok dok dok… Kembali terdengar pintu itu diketuk dengan keras. “Sebentar aku lagi kencing.” Ia lalu terburu buru menyiram kencingnya di lubang wc tapi tak membasuh alat vitalnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN