Ditaman yang merupakan jalan satu satunya dari istana utama keistana awan tempat Aristia tinggal, Aristia masih dengan 'lugunya' mengikuti 'pelayan' yang menjemputnya
"Putri sepertinya sudah saatnya anda mengikuti ibu anda yang tidak berguna itu yang hanya tau menggoda yang mulia dengan wajahnya untuk pergi ke Roane" tiba tiba 'pelayan' yang membawa Aristia berhenti dan berbalik kearah Aristia sambil memegang belati
Ps: Roane tempat yang dipercaya oleh rakyat Diamond Agrea sebagai tempat tujuan seseorang setelah kematian (pengertiannya sama seperti surga)
"Bibi apa yang anda lakukan?" Aristia berpura pura ketakutan dan dengan cemas melirik kesana kemari
"Hahaha tidak ada gunanya anda mencari karena tidak akan ada orang yang datang bahkan sekalipun anda berteriak hingga tenggorokan anda putus pun tetap tidak akan ada yang datang.. Aku sangat membenci ibu mu karena mendapatkan seluruh cinta yang mulia bahkan setelah yang mulia tau bahwa ibu mu membencinya tetap saja yang mulia mencintainya bahkan setelah dia tiadap un tetap saja yang mulia mencintainya dengan membesarkan anak dari wanita itu ... Aaakh aku sangat membenci baik p*l*c*r itu atau pun diri mu, kenapa..? Kenapa kalian... hanya kalian berdua yang bisa dekat dan menempati posisi berharga dihati yang mulia..." Orang yang berpura pura menjadi pelayan itu dengan histeris membeberkan kebenciannya
"Aku juga sangat... Sangat mencintai yang mulia tapi kenapa yang mulia bahkan tidak mau melirik kearah ku... Tapi jika kamu tidak ada maka kaisar ku yang tercinta akan sadar bahwa hanya aku yang benar-benar peduli dan mencintai dirinya... ahahahaha benar juga setelah malam ini yang mulia akan terus melihat ku dan hanya akan ada aku dimatanya.. hahaha" wanita itu terus dengan gilanya berbicara tanpa henti lalu menatap kearah Aristia dengan tatapan seram
"Bibi ini sebenarnya siapa kenapa rasanya bibi mengenal ibu ku?" Tanya Aristia dengan penasaran..
Aristia saja yang merupakan anaknya bahkan tidak pernah melihat ibunya walaupun kata orang orang diistana wajah rupawan Aristia sangat mirip dengan ibunya hanya rambut dan matanya saja yang mirip dengan Kenzo tapi sekarang didepannya ada seorang wanita yang sangat membenci ibunya bahkan karena obsesinya akan Kenzo membuat wanita ini juga berani memiliki niat untuk membunuh Aristia
"Ah... Baik, baik karena anak kecil sepertimu ini akan mati sebentar lagi jadi tidak masalah jika aku memberitahu mu siapa aku. Isabella Glory Wertheart, putri pertama kerajaan Wertheart dan juga putri yang sebenarnya bertunangan dengan ayah mu tapi setelah kehadiran Eleanor semuanya seakan melupakan keberadaan ku bahkan alasan sebenarnya kenapa ayah mu menaklukan kerajaan wertheart adalah karena Eleanor akan dinikahkan dengan raja pervarim... Ck.. ck.. sungguh kisah cinta yang tragis" wanita yang ingin membunuh Aristia itu mengaku sebagai putri pertama kerajaan Wertheart dan kakak dari Eleanor ibu Aristia tapi sebagai seorang putri pertama mengapa bisa dia menjadi terlupakan setelah kehadiran ibu Aristia? Hanya bagian itu yang seakan tidak ingin diberitahukan pada Aristia
"Sebenarnya bisa saja aku tidak membunuh mu dengan begitu ketika yang mulia dan aku memiliki anak maka kamu akan memiliki nasib yang sama seperti ku yaitu terlupakan, hahaha"
'Apa wanita ini gila? Dia bermimpi terlalu tinggi??♀️' Batin Aristia lelah dengan halu tingkat dewa dari 'bibinya'
"Bibi aku tidak mengenal ibu ku tapi aku tetap berterimakasih karena dia bersedia melahirkan aku walaupun ayah ku yang memaksanya memiliki ku jadi jika bibi merasa ibu yang melahirkan ku itu merebut semuanya dari bibi maka temui saja ibu ku dan jangan datang mengganggu kedamaian tempat ini" Aristia benar benar telah bersabar mendengarkan celotehan tidak jelas dari wanita didepannya namun pada akhirnya Aristia sudah kehilangan kesabaran dan melepaskan aura yang seperti kabut tipis berwarna merah yang sama seperti rambut dan matanya
"Kamu... Kamu..." Isabella tidak dapat berkata kata dan terus mundur sambil menatap Aristia dengan perasaan ngeri tapi tekanan aura Aristia semakin padat dan akhirnya karena Isabella tidak sanggup menahan tekanan itu, dia hancur dibawah tekanan aura Aristia
"Sepertinya aku harus mengintrogasi ayah mengenai keluarga ibu" Aristia melangkahi mayat Isabella dan berjalan terus ke istananya
Tidak lama setelah Aristia pergi, Kaiden datang ketempat kejadian dan terkejut mendapati mayat 'pelayan' yang sebelumnya menjemput Aristia
"Ini... Tidak mungkin, bukan?" Kaiden masih tidak dapat mempercayai penglihatannya karena dia menyaksikan saat Aristia melepaskan auranya dan membunuh orang yang lebih besar darinya hanya dengan tekanan aura dan setelah itu pergi dengan santainya
Syuu
"Ketua terlalu banyak melewatkan hal yang menarik mengenai tuan putri dan yang mulia juga mengakui potensi dan bakat tuan putri melebihi dirinya. Dan tentu saja anak dari seorang monster akan lebih mengerikan dari monster itu sendiri" Theo tiba tiba muncul dibelakang Kaiden seperti bayangan
"Ya aku melewatkan terlalu banyak dan sepertinya aku juga melewatkan waktu istirahat ku sampai bisa berhalusinasi mengenai bocah kecil yang tampak polos itu" Kaiden hanya menganggap kata kata Theo seperti angin lalu dan meyakinkan dirinya bahwa Aristia hanya anak kecil yang lugu dan polos seperti anak anak lainnya
"Tapi ketua..." Theo ingin membuat Kaiden yakin namun sebelum dia selesai mengatakan apa yang ingin dikatakannya, Kaiden langsung saja memotong kata kata Theo
"Sepertinya kemampuan berpedang mu menurun jadi temani aku latihan" Kaiden memelototi Theo dan langsung menuduh Theo
"Ketua.." Theo membuka mulutnya untuk membela diri tapi sekali lagi Kaiden memotong kata katanya
"Ini perintah" setelah mengatakan perintahnya tanpa menunggu kata kata berikutnya dari Theo, Kaiden mulai berjalan
'Bisakah Ketua sedikit jujur? Katakan saja jika anda merasa malu karena meremehkan tuan putri dan menjadikan ku pelampiasan' Batin Theo walaupun hatinya sangat tidak ingin tapi dia tetap mengikuti perintah karena Kaiden adalah ketua tentara kerajaan sekaligus tangan kanan dan adik Kenzo jadi perintahnya juga tidak dapat dilanggar
"Sepertinya akan ada hal yang seru untuk ditonton" Jesen juga menonton percakapan Kaiden dan Theo meskipun dari jauh dan merasa tertarik jadi Jesen mengikuti Theo dan Kaiden dari belakang namun sebelum itu dia memberi kabar pada kembarannya dan juga Brian
Malam yang panjang itupun dilewati dengan pertandingan antara Kaiden dan Theo, dari awalnya yang hanya Brian, Heson, dan Jesen yang menonton kemudian lama kelamaan semakin banyak prajurit yang berkumpul untuk menonton pertandingan seru dimalam yang dingin itu