Upgrade Simbol Sayap

1008 Kata
"Jika ini berhasil maka kita akan bisa memiliki prajurit baru yang mempunyai kekuatan super. Selama ini rata-rata pemilik simbol tak mau kerjasama dengan pemerintah. Jadi kita cari tahu dulu struktur kode dna serta rna. Setelah itu baru kita bisa membuat rekayasa genitik dan menciptakan prajurit super," kata profesor. "Waduh, rumit sekali. Aku tambah pusing. Yang penting aku jaga saja," kata penjaga. Hasil pemeriksaan telah dinyatakan selesai untuk sementara waktu. Koper ditutup, ketiga orang tersebut meinggalkan seorang perempuan sendirian. *** Tiada yang bisa menduga tempat itu telah berpindah posisi. Tempat yang dulu pernah menjadi persinggahan bagi Alice berubah total. Segala kenangan yang pernah dia alami tak berarti sama sekali.Alice menjadi tersesat. "Alice, katanya kau tahu tempat ini. Apakah masih jauh?" tanya Savrata. "Tempat ini telah diubah seratur persen. Jadi aku tak tahu posisi kita ada dimana," alasan Alice. "Apa? Kenapa kau tak bilang dari tadi." "Kalau aku tahu sudah kubilang padamu." "Menyesal aku percayakan ini semua padamu." Kesal rasa hati Savrata. Berpaling muka dari arah Alice dilakukan. "Ayolah kawan, jangan mudah ngambek begitu. Kita cari mangsa atau rampok saja di sini." "Baiklah, aku bantu kamu." Kembali, mereka berdua jalan bersama. Tapi kali ini mereka lebih berhati-hati. Setiap sudut ruangan diperiksa. Begitu juga dengan setiap kamar yang ada. Hingga tibalah di ruang persenjataan. Setiap benda diperiksa satu per satu. "Mengapa sih mereka tak ada yang menggunakan senjata api. Seperti di film action, gitu," keluh Savrata. "Mereka tak kenal kita secara luas. Ambil saja yang kau mau." Alice mengelus seperangkat pisau. Beberapa diantaranya dibuang begitu saja. Sayap dipunggung melebar, beberapa pisau mulai dicocokkan dengan sayap. "Savrata, tolong pasangkan," pintanya. "Untuk apa?" tanya Savrata. "Jurus sayap berduri." "Kau mau jadi landak terbang?" "Iya." Beberapa besi dirangkai serta dilapisi kain. Besi tersebut dipasangkan pada sayap Alice, kemudian dikencangkan. Setelah beberapa kali percobaan baru iya yakin jika benda itu aman terhadap diri sendiri. Berat sayap yang bertambah mulai dibiasakan. Beberapa pucuk pisau disematkan. Sedikit pergerakan sayap untuk membiasakan serangan sayap. Tembok gedung menjadi korban keganasan sayap berpisau. "Wow, kau benar-benar landar terbang," puji Savrata. "Terima kasih, kau sudah ambil yang kau perlukan?" tanya Alice. "Hanya ini." Savrata menunjuk ke kacamata yang dikenakan, "Ayo kita pergi." Kedua orang itu keluar dari gudang persenjataan. Agar tak digunakan yang lain sengaja lampu diputuskan serta api disulut. Pintu gudang dikunci dan anak kunci dipatahkan. Kembali lagi mereka memeriksa setiap kamar. Hingga tiba di sebuah kamar yang berisi beberapa penjaga. "Wow, saatnya mencoba senjata baru." Terbang sambil berputar Alice lakukan hingga bisa mendekat pada para penjaga. Keindahan gaya terbang Alice membius para penjaga. Mereka terpesona pada gabungan kecantikan diri dan sistem persenjataan yang ada di punggung. beberapa terkena irisan pisau karena tak siap. Bahkan ada yang perutnya tertusuk pedang. Penjaga lain segera menyerang. Sayap berlapis pisau siap menahan serangan tongkat berlistrik. Datang Savrata untuk membantu dengan duri tajam. Ketika para penjata mundur menghindar, Alice terbang tinggi. Sedikit tukikan dari atas tertuju ke seorang penjaga, Kecepatan untuk menghindar bisa menyelamatkan diri untuk sementara waktu. Kedua sayap pisau ikut membantu Alice untuk menyerang. Dentingan bunyi besi bertabrakan terdengar nyaring. Tak sedikit percikan api terlihat. Pertarungan artar dua kubu terlihat seimbang. Saling bertahan dan menyerang mereka lakukan. Isi tas kembali di buka, beberapa bola dilemparkan. Oli yang terkandung di dalamnya membuat lantai yang mereka pijak. Di saat yang lain kesulitan berdiri, tapi Alice dan Savrata tidak mengalami demikian. Justru lantai licin menambah kecepatan serangan. Dengan berputar berdua bisa menyerang cebih cepat dan banyak sekaligus. Serangan begitu lincah dan cepat hingga sulit di tahan. Beberapa kulit mulai terpecah dan mengeluarkan darah. Serangan terus dilancarkan hinggapara penjaga menjadi lumpuh karena itu. Hingga mereka pun terkapar di lantai dengan berlumurkan darah. "Huh, selesai juga akhirnya. Aku kira melawan mereka secepat film action," keluh Savrata. "Sudahlah, jangan terus begitu. Kenyataan itu tak seperti yang kau pikirkan," sangkal Alice. Sebotol air mineral dikeluarkan dari dalam tas. Sambil berjalan mereka memasukkan air ke dalam tubuh. Botol yang telah kosong. Lorong ruang tanpa peta yang akurat ditelusuri lagi. Dibuka sebuah kamar. Terdapat beberapa perempuan berbagai usia berada di sana. Sebagian anggota badan terbuka, hanya kain kecil penutup kulit mereka. Tak jarang terdapat banyak lubang di pakaian tersebut. Hawa nafsu Savrata menjadi naik seketika. Air ludah ditelah sendiri. "Dari mereka semua mana yang namanya Serania?" tanya Savrata. "Bukan mereka yang aku cari," jawab Alice. "Kalian ini siapa?" tanya Savrata lagi. "Kami hanya perempuan biasa. Kami dipindahkan dari penjara ke sini tanpa alasan yang jelas. Memang kami akui kami ini bersalah dan layak dipenjara. Tapi bukan begini caranya," kata seorang perempuan yang kedua tangannya terborgol. "Alice, kita selamatkan mereka," kata Savrata. "Dari kalian ada yang mantan pembunuh atau bisa bertarung?" tanya Alice. "Tidak, aku dan beberapa temanku memang pernah membunuh tapi dengan cari main belakang. Kami tak tahu ilmu beladiri. Bahkan tenaga kami telah terkuras habis setelah mereka genjot," jawab perempuan tertua. Terdiam Alice menyaksikan kaumnya tertindas. Ingin sekali menolong tapi dia tak bisa bertindak banyak. Tak tega jika harus meninggalkan mereka. Tapi juga tak mungkin bisa membawa beban begitu banyak. Setetes air mata jatuh di lantai. "Kalian tunggu saja di sini. Aku coba cari bantuan dahulu," katanya sambil keluar dari tempat tersebut. Tentu saja Savrata ikut dari belakang. "Alice, apa kau tega jika kaummu digadaikan seperti itu? Aku saja merasa iba. Tak kusangka orang yang selama ini kupandang bik bisa setega ini," kata Savrata. "Sebenarnya aku juga kasihan. Tapi kita tak bisa berbuat banyak. Tak mungkin kita bisa melindungi mereka semua. Jadi kita cari yang lain atau mungkin seseorang yang bisa membantu,' kata Alice. Beberapa kamar berikutnya mereka buka. Kadang kosong, kadang juga mayat pemilik simbol. Saat masuk ke dalam kamar mayat air mata mereka menetes ke lantai. Tak tahan rasa kesedihan yang dirasakan. Tapi juga amarah mereka memuncak. Tiada yang bisa dilakukan, mayat tersebut dibuang begitu saja. Setelah sekian kamar dilalui tiba juga di sebuah kamar yang berisi seorang sedang terikat. Kedua mata ditutup hingga dia tak bisa melihat. Di dalam tabung berlapis kaca tebal dia berdiri. Tak apakah orang itu masih hidup atau sudah mati. "Alice, ayo kita bebaskan. Siapa tahu dia bisa menjadi teman kita," ajak Savrata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN