Pembebasan

1007 Kata
Tetesan air turun dari langit. Rintik-rintik membasahi bumi, Tapi bukan halangan buat Alice. Bersama dengan seorang pemilik simbol dengan tubuh seperti bintik merah di sebagian besar anggota tubuh. Mata berwarna biru menemani sepanjang perjalanan. Sebuah mobil dikendarai. Aliran air setinggi beberapa centimeter diterjang. Sebuah gedung besar mereka datangi. Dibawa sebuah pohon mobil dihentikan. Di sana mereka turun dalam keadaan basah kuyup. "Savrata, persiapkan durimu," perintah Alice. "Untuk apa?" tanya pria bermata biru. "Kita akan masuk dan menyelamatkan Serania," jawab Alice. "Mestinya kau bawa aku ke dalam dahulu." Sweeter putih dilepas dari tubuh Alice. Simbol di kedua punggung menyala. dan kedua sayap menyepak ke luar. Sebuah tas diambil. "Ayo kita bersiap," katanya. "Baiklah." Sebuah tas juga diambil Savrata. Kedua sayap telah menyepak dan membawa Alice terbang setinggi beberapa meter. Saat yang bersamaan Savrata mengambil jarak beberapa meter. Dia berlari dengan kecepatan tinggi. Dengan sedikit menelapakkan kaki ke dinding, Savrata membuat sebuah lompakan ke belakang. Alice yang telah siap menyambut dengan sebuah tangkapan. Tangan digenggam erat, dengan sedikit ayunan kedua kaki Savrata telah menyentuh dinding. Beban yang ditanggung Alice telah berkuarang banyak hingga dia bisa terbang. Sedikit demi sedikit ketinggian ditambah. Savrata mengikuti sambil berjalan di didinding. Kini tembok hampir dilampaui. Alice terbang sedikit mundur ke belakang dan atas. Kedua kaki Savrata telah meninggalkan tembok. Beban yang ada membuat dia kehilangan ketinggian beberapa centimeter. Ayunan di udara mereka lakukan bersama dengan kompak. Tetesan air dari langit mengikuti gerakan tersebut. Ketika momentum telah tepat pegangan tangan dilepaskan. Savrata melayang bebas hingga bisa meraih tepi atas tembok. Dia bisa berdiri di atas tempat tersebut. Hujan yang lebat membuat penjaga lengah. Hanya ada seorang penjaga yang datang mengawasi. Simbol di tubuh Savrata telah menyala. Beberapa duri tumbuh dari bintik merah. Jarak telah dekat, sebuah lompatan diperlihatkan. Tubuh dengan dua tangan berduri menimpa tepat di atas kepala si penjaga. Beberapa tusukan telah tembus ke dalam saluran darah. Berat beban sedikit ke belakang hingga mereka terjatuh ke tanah. Sebuah tendangan berduri menyentuh tulang punggung si penjaga. Duri telah disembunyikan, tubuh penjaga penuh luka. Darah banyak yang keluar hingga ia tak berdaya. Tubuh berduri menimpanya lagi hingga dia pun tak berdaya. Luka yang parah menjadi tempat keluar untuk nyawa yang selama ini ada di dalam raga. Seluruh tubuh penjaga digeledak. Tongkat diambil oleh Alice beserta anak kunci. beberapa benda penting lainnya berpindah tempat. Pintu belakang jarang dijaga. Di sana terdapat jalan aman buat Alice dan Savrata. Beberapa tinjuan dilancarkan dari tangan berduri Savrata. Daun pintu menjadi rusak hingga mereka bisa masuk tanpa anak kunci. Isi di dalam tas dibuka. Potongan besi dirangkai hingga membentuk sebuah pedang panjang tapi ringan dan kokoh. Tangan kiri Alice sangat cocok dengan pedang tersebut. Ketika dipasangkan lengan bawah diselimuti besi dan pedang hingga menjulang jauh sepanjang tujuh puluh centimeter, lebih panjang daripada tangannya sendiri. "Alice, bagaimana bisa Serania tertangkap?" tanya Savrata sambil mengeluarkan beberapa bola. "Ini semua karena kami salah sasaran. Bus yang akan kami jarah terdapat dua pemilik simbol. Si perempuan memiliki simbol mengacau penghilangan, sedangkan si pria memiliki simbol peledak. Kami kalah melawan mereka berdua. Semua tertangkap polisi. Hanya aku yang bisabisa melarikan diri," cerita Alice sambil berjalan. "Kalau ditangkap polisi mengapa kita ke sini? Kok tak ke penjara saja,." Savrata berjalan menyusul Alice dari belakang. "Sebab pemilik simbol tidak berada di penjara umum. Karena itu kita ke sini, tempat kurungan khusus untuk pemilik simbol." "Berarti pengamanan di sini seharusnya ketat. Tapi mengapa kok sangat longgar?" Savrata curiga tentang kemanan di tempat tersebut. "Hei! Kalian sedang apa?" tangan seseorang yang berada di belakang Alica dan Savrata. Tanpa berpikir panjang Alice memutar tubuh ke belakang. Pedang di lengan kiri ikiut memutar dan menyerang orang di belakang. Radius serangan kurang jauh. Sebuah tongkat listrik diambil. Saat serangan kedua tongkat itu mampu menahan serangan. Datang Savrata dengan sejumlah duri. Waktu untuk menghindari sudah telat. Beberapa duri bersarang pada tubuh penjaga. Tapi di saat yang bersamaan sebuah tinjuan menghantam perut hingga dia terpental ke belakang. Giliran Alice untuk menyerang. Sebuah tusukan tembus hingga belakang perut. Tiada kata menyerah, sebuah tongkat berlistrik telah menyentuh rambut perempuan itu. Sekujur tubuh teraliri listrik. Keduanya saling terkapar di tanah. Sebuah serangan tendangan berduri tembus hingga ke jantung penjaga. Jantung mengalami kebocoran, dia pun akhirnya tewas. "Alice, kau tidak apa-apa kan," kata Savrata sambil mengulurkan tangan. "Tidak, hanya sedikit kesumutan," kata Alice. Tangan berbintik tanpa duri diraih hingga dia bisa terbangun. Dua orang penjaga datang. Dilihat seorang teman telah tewas bersimba darah di lantai. "Kalian!" teriak seorang penjaga. Sedangkan yang satunya lari entah kemana. Sebuah bola sebesar telur dilemparkan ke arah penjaga. Asapa keluar dari dalam bola tersebut. Pandangan si penjaga terganngu hingga tak bisa melihat benda di depan. Terpaksa dia hrus mundur. Setelah asap mulai hilang terlihat dua benda datang padanya. Tapi ternyata pedang dan duri. Tiada waktu untuk menahan. Kedua benda tersebut telah menyentuh kulit. Darah mulai keluar dari kulit. Tubuh telah terkunci da tak bisa lagi melakukan perlawanan. Dia pun tewas dalam keadaan berdiri. "Nggggggg!!!" bunyi alarm ditekan. Bersamaan dengan itu menyala lampu berwarna merah. "LHo, kok kayak di film-film. Bukankah ini cara yang bodoh," kata Savrata. "Atau cara yang gitu agar kita panik." Sayap milik Alice telah terbentang. "Baiklah, kalau itu yang mereka inginkan." *** Di sebuah ruangan seorang perempuan telah terikat di dalam sebuah tabung. Keempat anggota gerak terikat dengan cara terbentang. Hanya pakaian putih yang dia kenakan. Di tangan kanan dan kiri ada sebuah alat yang tertanam pada beberapa bagian. "Kenapa sih perempuan ini dikasih kain segala. Sudah tahu kalau akan dibuka masih saja ditutup. Mana dalam tabung kebal peluru lagi," kata seorang penjaga. "Itu agar kamu tidak terangsang dan biar benihmu tak bersemayam pada tubuhnya. Bisa mengacau penelitian, tahu," kata temannya. "Mana bisa, aku tak mau punya anak darinya. Bisa-bisa anakku menjadi siluman ular," kata penjaga tersebut. datang seorang berbaju putih dengan menggunakan sebuah kacamata khusus. Sebuah koper dibawa dengan tangan kanan. Di atas meja koper tersebut diletakkan. Beberapa jarum suntik ditancapkan. Pangkal jarum suntuk ditarik hingga sebagian darah tersedot ke dalam sebuah tabung. Setelah terisi tabung penuh tabung dimasukkan ke dalam koper. "Prof, itu untuk apa?" tanya seorang penjaga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN