Serangan dari seorang preman ditangan Kazaro. Simbol di tangan kanan menahan pisau, sedangkan tangan kiri masih menggenggam kecil. Simbol yang menyala mengantarkan kerikil masuk ke dalam perut si preman. Tubuh berlubang dan mengeluarkan banyak darah. Para preman yang lain hanya bisa diam melihat temannya sekarat. Tiada daya untuk menegakkan tubuh. Dia pun terjatuh ke tanah.
"Kau anggap aku hanya bisa melawak," kata Kazaro dengan serius.
"Kalian mengapa bengong saja. Ayo cepat hajar pria peledak itu!" kata Agnava.
"Hiya!" teriak preman melompat bersama.
Berguling ke belakang dilakukan untuk menghindari serangan para preman. Dengan kedua ledakan simbol bisa membuat jarak yang cukup bagi Kazaro. Seorang preman maju, tapi telah disambut baik dengan sebuah simbol menyala. Satu per satu preman mulai maju. Kecepatan gerak simbol sulit ditandingi dengan reflek manusia. Tak ayal mereka semua terpental satu per satu. Bola api datang dan langsung ditahan dihancurkan dari efek simbol peledak.
Kedua tangan ditempelkan pada tanah. Simbol menyala hingga bisa membentuk sebuah ledakan besar. Tubuh Kazaro bisa melayang tinggi karena itu. Dua simbol menyala lagi. Ledakan demi ledakan dikeluarkan. Satu per satu preman terhempas mundur. Tapi Agnava malah datang dengan membawa sebuah tinjuan api. Terlambat untuk menghindar, luka hangus bersarang pada pipi kiri. Dia membalas dengan ledakan dari tangan kanan. Agnava bisa bertahan. Kedua telapak tangan saling berhadapan, adu kekuatan antara dua simbol tak terelakkan. Api menyebar ke samping. Sedikit luka terbakar yang harus dia terima. Tapi Agnava malah terpukul mundur.
"Huh, hampir saja," kata Kazaro.
"Hai, bagaimana kau bisa melakukan ini?" tanya Agnava.
Sebuah ledakan dari simbol di tangan Kazaro menjadi jawaban untuk pemilik simbol api. "Jangan pernah memberitahukan sesuatu kepada musuhmu," kata Kazaro dengan telapak tangan menghadap pada Agnava. Simbol di telapak tangan masih menyala meski sudah redup.
"Hiya!" teriak seorang preman untuk menyerang.
Sebuah simbol telah menyala. Tanpa melirik sama sekali dan hanya mengandalkan koordinasi lewat suara, Kazaro menembakkan peledak, tepat mengenai perut. Pisau pun jatuh ke tanah.
"Dasar kau ini!" teriak preman yang lain.
Satu per satu preman mulai bangkit dan menyerang lagi. Tapi simbol menghalangi pergerakan mereka. Ketika hendak mendekat simbol telah menyala. Tapi juga mereka sedikit berhasil dengan membuat Kazaro kewalahan serta kecapekan. Saat dia sudah kehabisan tenaga mereka semua maju bersama. Sayang, Kazaro bisa menjauh dengan kedua simbol yang menyala. Atap bangunan yang tinggi jadi tujuan yang aman.
"Kau! Jika berani turun sini. Jangan seperti bayi kucing!" teriak para preman. Semakin lama semakin bergemuruh. Cacian kerap terlontarkan dari mulut mereka.
Namun Kazaro tak menggubris sama sekali. Dengan sangat santai dia memandang langit. Tubuh diistirahatkan di tempat yang jauh dari jangkauan dari preman. Angin sepoi-sepoi menambah kenikmatan suasana itu.
"Hei, kalian jangan berteriak saja. Aku kita masuk," ajak Agnava.
Ketakutan yang telah tersebar memudahkan Agnava untuk masuk ke dalam gedung tersebut. Keluar dari gedung dan tak mengganggu urusan mereka menjadi pilihan si pemilik gedung. Di luar gedung tempat menyaksikan keberingasan para preman.
Tak butuh waktu lama untuk mereka naik ke atas hingga menggapai atas gedung. Pintu terkunci sedikit menjadi penghalang. Bola api yang cukup besar menghancurkan pintu tersebut. Satu per satu dari mereka sampai ke lantai atas. "Hiya!" teriak preman secara beramai-ramai.
Posisi sedang enak terusik dari teriakan para preman. Beberapa batang paku diambil. Simbol yang ada di tangan Kazaro menyala. Ledakan yang ditimbulkan membuat paku meluncur bagaikan peluru. Paku yang menyentuh kulit segera masuk ke dalam tubuh. Beberapa preman terluka karena itu.
Tubuh berdarah tak diperhatikan. Rasa benci telah merasuk ke dalam hati. Pisau tetap dipegang erat dengan tangan. Paku yang menancap dalam berusaha dicabut. Darah keluar sangat banyak. Meski kurang mematikan tapi melumpuhkan pergerakan. Belum lagi Kazaro yang datang menyerang. Para preman berusaha bertahan. Satu per satu pisau dilemparkan. Bukannya kena tapi malah berbalik arah. Pisau terbang mengiris anggota badan mereka. Sebagai ketua, bukannya Agnava membantu tapi kabur. Keganasan Kazaro tak sampai segitu saja. Siapa pun yang mendekat akan terpental jauh dan terjun dengan bebas. Sisa dari mereka memilih untuk kabur.
Para preman sudah tak berdaya lagi, Kazaro memilih untuk kembali ke kebun. Dengan pantuan dari simbol di telapak tangan, meski melompat dari ketinggian lima meter lebih tadi tak mengalami masalah saat mendarat. Sepeda motor dinaiki. Mesin dinyalakan dan dia pun kembali ke kebun.
***
Sebagai perwakilan dari sang penjual, Kazaro tak kelihatan di pasar. Mini beserta pegawai telah mengetahui letak kebun peninggalan ayahnya Kazaro. Tanpa pemandu maupun navigasi mereka bisa tiba tanpa tersesat. Sebuah kendaraan pick up mengantarkan hingga tiba di tempat yang tertuju.
"Bu, apakah sudah selesai ditata?" tanya Mini.
"Masih ada yang belum diselesaikan," jawab ibunya Kazaro. Tangan masih menata butiran kentang di dalam karung berlubang seribu.
Seorang sopir dan kuli angkut ikut turun tangan. Bersama, mereka dengan cekatan menata kentang ke dalam karung sebelum ditaruh di atas pick up. Kentang yang terlalu kecil dan rusak parah disisihkan.
Semua kentang yang layak jual telah berada di atas pick up. Baru muncul sesosok lelaki yang wajah sebelah kiri hangus.
"Kakak, kau ini dari mana saja? Kenapa lama sekali?" tanya Kimina.
"Aku dihadang pemilik simbol api," jawab Kazaro.
"Halah, alasan saja," kata Kimina begitu sewot pada kakaknya.
"Lho, aku tak alasan. Tadi ada preman yang mau membunuh seorang nenek. Maka dari itu aku selamatkan," kata Kazaro.
"Dan kau membunuh preman itu. Nak, Ibu tak suka caramu meski kau benar. Kau ingat yang terjadi pada ayahmu?" Ini semua sebab melawan para preman," kata sang ibu dengan agak sedih. Sebutir air mata menetes ke tanah.
"Bu, jangan khawatir. Aku ini pemilik simbol. Aku bisa menjaga diri." Kazaro menenangkan sang ibu.
"Mas, benar apa kata ibumu. Sebaiknya kau tak ikut campur dalam urusan preman. Yang kau lawan itu bukan preman biasa. Mereka preman yang diketua oleh Agnava, si pemilik simbol api. Jika dia mengamuk maka seisi pasar bisa hancur karenanya. Maka kami para pedagang memilih untuk diam diri," kata Mini.
***
"Kazaro, kau sudah membuatku tak bisa berjalan. Kau juga telah membunuh ketua serta ayahku dalam jarak yang berdekatan. Aku tak akan mengampuni dirimu. Tunggu adikmu akan kutanami sebelum kupotong di depan matamu sendiri sebelum kematianmu sendiri datang," kata seorang berkali satu. Kursi roda menuntunnya pada seolah tempat. Sebuah senapan diambil.