Aksi Pemuda Pasar

1000 Kata
Api bercampur dengan bahan bakar. Panas yang tinggi membuat benda di sekitarnya menjadi terbakar. Kazaro dan teman-teman berlari menjauh. Hanya saja telat bagi Subroto. Aspal yang lengket membuat sulit untuk bergerak. Baru saja bangun, beberapa terbang terkena ledakan. Logam tajam melayang dan menancap pada tubuh sang mandor. Tak butuh waktu lama untuk arwah bisa keluar dari raga. Sebagian besar berteriak histeris melihat pemandangan tak mengenakan tersebut. "Kalian semua, cepat bawa orang itu. Yang lain teruskan pekerjaannya," teriak pemilik proyek. *** Mentari sedang turun, cahayanya mulai meredup. Waktu bagi orang untuk pulang, setelah seharian bekerja. Hal itu termasuk Kazaro. Dengan wajah penuh kekecewaan, rumah menjadi tempat tujuan akhir perjalanan hari ini. Kunci sepeda motor ditaruh di atas meja. Sebuah kursi menjadi tempat bersandar diri. Keringat masih terlihat di sekujur tubuh. Segelas kopi disajikan oleh seorang perempuan muda, Kimina. "Dik, berapa kekurangan uang sekolah?" tanya Kazaro. Segelas kopi hangat diminum sebagai pelepas dahaga. "Memangnya ada apa, Kak?" tanya balik Kimina. "Aku minta ditunda, mungkin satu bulan lagi," jawab Kazaro. "Kata bu kepala sekolah tidak usah. Aku dikeluarkan dari sekolah. Aku dituduh penyebab Avis kehilangan kaki. Avis itu keponakannya pemilik sekolah. Meski tak terbukti tapi aku langsung dikeluarkan," kata Kimina dengan agak bersedih. "Aduh, aku juga sama. Gara-gara mandor mengamuk dan mati terkena ledakan, aku malah dituduh penyebabnya." "Kok bisa, di saat yang bersamaan kita mengalami nasib yang sama." Kimina duduk di samping Kazaro. Keduanya merenungi kejadian hari ini. "Ada apa ini? Mengapa kakak dan adik duduk terdiam?" tanya sang ibu. "Kita dikeluarkan tanpa melakukan apa pun." Kazaro berdiri dari tempat duduk dan berjalan menuju ke kamar mandi. "Kok bisa?" tanya sang ibu lagi. "Sebab kami terkena tuduhan yang tak pernah kami lakukan." Kimina menghela nafas. *** Hari-hari berlalu, belum juga Kimina mendapatkan sekolah baru. Hari-hari mereka lakukan bersama. Lahan peninggalan sang ayah menjadi tempat menanam sayuran. Kebetulan tanaman kentang telah panen. Bersama mereka memanen sayuran tersebut. Telah bekerja tentu saja dirasakan. Tapi dengan kebersamaan mereka bisa lewati dengan senang hati. Kentang yang dipanen telah terkumpul banyak. Satu per satu ditata dengan rapi. Sebuah karung telah terisi penuh. Dengan bersama mereka mengangkat ke atas sepeda motor. Ban bekas dimanfaatkan sebagai tali pengikat agar tak terjatuh saat. "Kazaro, kau bawa ini ke Bu Mini. Bilang sebagai contoh," kata sang ibu. Kedua tangan masih menata buah kentang. "Iya Bu," kata Kazaro. Sepeda motor dinyalakan dan Kazaro. Sementara itu sang ibu dengan beberapa orang masih menata sayuran yang tersisa. Jalan beraspal agak ramai dilalui. Tiada halangan yang berarti bagi Kazaro. Sedikit berbeda dengan biasanya, saat itu pasar sedang ramai. Bukan ada pejabat lewat, tapi para preman sedang meminta paksa uang. Karena tak diberi, seorang nenek menjadi korban keganasan. Pukulan demi pukulan dilancarkan. Tiada satu orang pun yang berani menahan mereka. Berbelok ke sebuah toko menjadi pilihan pertama bagi Kazaro. Barang yang dibawa diturunkan di dekat sebuah kios. "Bu, ini sampel hasil panen kali ini," kata Kazaro. "Coba aku lihat." Beberapa butir kentang diperiksa pemilik toko. Berat juga dipertimbangkan. "Apakah masih ada lagi?" tanyanya. "Iya, Bu," jawab Kazaro. "Baiklah, nanti akan aku kirim orang ke sana." Beban yang dibawa Kazaro telah tiada. Tentu saja dengan lebih mudah dia melaju sepeda motor. Tapi gerak roda terhenti ketika melihat nenek yang sudah tua renta. Beberapa helai rambut putih berguguran. Darah berbalut dengan kulit yang sudah berlipat seperti buku. Sebuah pisau telah dikeluarkan. Tak tega rasa di dalam hati jika melihat seorang yang sudah tua dibunuh dengan sangat kejam. Sebuah batu kecil diambil dan diletakkan di tengah simbol telapak tangan. Simbol melayang dan menimbulkan sebuah ledakan. Dari sana batu bisa melesat jauh. Tepat beberapa milimeter sebelum pisau menyentuh kulit batu telah mengenai sasaran. Tangan pemegang pisau terluka. Rasa tak karuan membuat pisau terlepas dan jatuh ke lantai, "Argh." "Kalau berani lawan yang lebih muda, jangan nenek tua," tantang Kazaro. "Kau ini, berani melawanku," tanya orang yang menjadi korban Kazaro. "Maju ke sini jika kalian mau," kata Kazaro. "Serbu!" teriak seorang preman. Dia nekad berlari dan melakukan sebuah tendangan. Sebuah ledakan dari simbol sudah untuk menghentikan serangannya. "Kau pemilik simbol?" tanya seorang pemuda. "Memangnya ada apa?" tanya balik Kazaro. "Baguslah, setidaknya aku ada alasan untuk melakukan hal yang serupa." Ketua penjahat maju ke depan. Para warga ketakutan dan memilih untuk mundur. Simbol di tangan menyalakan sebuah api. Sebuah tembakan dia lakukan. Dengan cara yang sama Kazaro menahan serangan tersebut. "Bagus juga seranganmu," puji Kazaro. "Serangan? Ini baru pemanasan," kata si pria api. "Aku anggap begitu." Dengan sepeda motor yang telah berbalik arah Kazaro pergi meninggalkan pasar. Sengaja sepeda motor dilaju dengan kecepatan rendah agar para pemuda bisa dipancing. Usaha membuahkan hasil, para preman mengikuti setiap langkah yang dia lakukan. Di tengah jalan yang sepi dia berhenti dan turun dari sepeda motor. Para preman melakukan hal yang sama. "Kalian semua, memang bukan lelaki sejati. Tiada lelaki yag menyiksa seorang nenek," kata Kazaro. Bukan menyiksa tapi memberi pelajaran. Mereka tak mau membayar uang keamanan," kata ketua preman memilik simbol api, Agnava. "Kalian polisi? Bukan, kalian yang membuat kekacauan dan sistem sendiri. Kalian tak lebih dari nyamuk. Malah bagus suara yang dihasilkan nyamuk meski aku jengkel juga," ejek Kazaro. "Berani kau ini!" teriaka seorang preman sambil melemparkan pisau. Benda tersebut terkena simbol dan jatuh ke tanah. Segenggam kerikil diambil Kazaro. "Kalian tahu ini apa? Batu kerikil. Meskipun kecil tapi lebih berguna dari kalian," katanya. Simbol ditangan mulai menyala, kerikil di tangan melesat dengan kecepata sangat tinggi. Butiran demi butiran terbang menyebar dan menuju ke para preman. Dengan terburu-buru mereka mencari tempat berlindung meski tak sempat menghindar. "Kok tak terjadi sesuatu," kata seorang preman. Hanya sedikit bintik berwarna merah dikulit. "Oh, tak berhasil ya. Aku lupa jika daya ledak tersebar secara merata kekuatannya akan melemah. Aku lupa hukum fisika" kata Kazaro. "Dasar pemiliki simbol suka melucu. Serang dia!" teriak Agnasa. Para preman mulai maju. Sebuah pisau mereka perlihatkan. Kilau cahaya matahari terpantul dengan sempurna. Salah satu dari mereka melompat tinggi. Sebuah tusukan dilakukan dan mengarah pada kepala Kazaro. Tetes demi tetes dari berjatuhan di tanah. Preman lain hanya bisa melihat dari jarak yang agak jauh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN