Prahara di Proyek

1004 Kata
Kabut berhiaskan pada pagi tersebut. Cuaca agak sedikit dingin dibandingkan yang kemarin. Kala itu Kimina membuka mata. Kamar tidur menjadi tempat berbaring. Tapi ada sesuatu yang berbeda, pakaiannya telah berganti. "Tidak!" teriaknya sekencang mungkin. Sang ibu dan kakak berlari mendekat. Pintu kamar dibuka mereka berdua masuk ke dalam. "Kimina, ada apa?" tanya ibu. "Ibu, aku mengapa ada di sini? Kenapa pakaianku ganti?" tanya Kimina. "Semalam kau pingsan. Jadi aku yang menggendongmu. Soal baju Ibu yang menggantikan. Bajumu terkena bau tak sedap dari preman," jawab Kazaro. "Jadi aku tak jadi ditanami benih kehidupan," kata Kimina. "Selama aku hidup tak akan ada oleh yang tidak sang menanamkan sesuatu pada adikku," kata Kazaro dengan penuh keyakinan. "Kazaro, bisa saja kau ini," kata sang ibu. "Tapi mengapa Kakak datang ke sini? Bukankah ini kamar perempuan," kata Kimina. "Sudahlah, kau cepat mandi. Jika terlalu lama kasihan kakakmu." *** Kimina telah bersiap, sebuah sepeda motor telah didatangi. Secara bersamaan Kazaro telah bersiap. Sepeda motor dinyalakan, kedua pun berangkat bersama. Tak butuh waktu lama bagi mereka berdua untuk sampai di sekolah. Waktu itu suasana dengan ramai. Di depan gerbang Kimina turun. Sejumlah uang dikeluarkan dari kantong saku dan diberikan pada sang adik. "Tolong bilang pada pak guru kalau aku sedang mencicil," kata Kazaro. "Terima kasih, Kak," kata Kimina sambil menerima sejumlah uang. Tangan sang kakak dicium sebelum berpisah. Kimina berjalan menuju ke kelas dan berbaur dengan murid lainnya. Speda motor dinyalakan, Kazaro meninggalkan tempat tersebut. Baru sekitar lima menit dia meninggalkan sekolah, tapi seorang dengan sengaja berdiri di tangah jalan. Sebuah kendaraan berada di belakang menghadang jalan raya. Tak habis akal, Kazaro memilih jalur lain. Dia memutar dan melewati jalur alternatif. Gang sempit yang telah dia hafal dan perkirakan keluarnya ditelusuri. Lagi-lagi dia dicegat. Kini depan dan belakang terblokade total. Tiada celah atau jalur laim. "Maaf, aku sedang mau bekerja," kata Kazaro. "Tuntaskan dulu urusan kita semalam," kata seorang yang turun dari sepeda motor. Sebuah parang besar dikeluarkan. Tangan yang memegang kendali sepeda motor mengeluarkan cahaya. Kedua telapak tangan di arahkan ke preman. Reflek yang bagus membuat preman tersebut bisa menghindar. Sepeda motor di belakang menjadi agak mundur. Sebuah celah terbuka, motor kembali dinyalakan. Tak tanggung-tanggung, orang yang terada di depannya ditabrak saja walau tak kena. Kazaro pun berhasil keluar. Para preman lain segera mengejar. Jalanan pagi itu sangat ramai. Tepat saat orang sedang berangkat bekerja. Depan kecepatan sedang Kazaro melajukan sepeda motor. Sayang, beberapa preman datang dengan kecepatan lebih tinggi. Sedikit demi sedikit jarak semakin dekat. Sebuah pedang telah dipersiapkan. Kilauannya memantulkan cahaya mentari. Sedikit terlihat di kaca spion, iya pun segera mengeluarkan ledakan dari simbol. Motor di belakang menjadi tak seimbang dan akhirnya terjatuh. Tak hanya di situ saja, pengejaran mulai berdatangan. Sebuah pedang dilemparkan. Putaran amat berbahaya menuju pada Kazaro. Simbol di tangan digunakan untuk menggeser sepeda motor dengan cara tak wajar. Pedang melayang jauh hingga mengenai sebuah truk besar. Ban pecah, truk menjadi tidak seimbang dan berguling ke kiri. Barang yang dibawa ikut ambruk. Seisi jalan tertutup. Sebuah tanjakan terbuat dari papan berada tepat di jalur yang dipakai. Gas pada volume penuh, tempat tersebut dilewati. Dengan kecepatan tinggi sepeda motor bisa melompat dan melewati rintangan tersebut. Para preman melakukan hal yang sama. Dikarenakan terlalu berat maka mereka gagal melewatinya. Papan patah sebelum mereka berhasil melompat. Alhasil Kazaro tak terkejar lagi. *** Sebuah proyek pembangunan tempat mencari makan bagi Kazaro. Otot yang sedikit mengagumkan diperlihatkan. Berkali-kali dia bolak-balik membawa batako ringan. Terkadang juga adonan semen atau peralatan lain. Siang hari udara semakin panas. Waktu kerja tertunda sementara. Bersama dengan teman-teman satu profesi, dia memakan hidangan jatah para pekerja. Canda tawa pelepas kepenatan mereka lakukan. Tapi kali ini agak berbeda. Seorang meneriakkan nama Kazaro. Sontak beberapa orang kaget dibuatnya. Sebuah gergaji mesin dibawa dalam keadaan menyala. Orang terdekat memilih untuk kabur. Tiada satu pun orang yang mau mencoba untuk menghentikan. Apalagi jabatan tinggi yng telah dia sematkan, seorang mandor. "Kazaro! Kesini kau! Akan aku bunuh!" teriak sang mandor sambil berlari tertuju orang yang diincar. Tiada orang yang berani menghalangi. Langkah gerak tanpa aral berarti. Gerak kanan gerak kiri dia lakukan. Tak butuh waktu lama untuk tiba di tempat Kazaro. Sebuah serangan vertikal dia lakukan. Tapi Kazaro telah menghindar terlebih dahulu. Serangan demi terus mengarah kepadanya, gerakan yang lamban sangat mudah untuk dihindari. Nyawa memang selamat, tapi masalah baru muncul. Banyak properti yang rusak. Ada sebuah jalanan yang kosong. Di sana tempat yang aman. Sedikit demi sedikit dia memancing. Hingga keduanya tiba di jalan yang dimaksud. Aspal belum mengering tapi kaki telah menginjak. Lengket, terasa berat kaki melangkah. Mobilitas menjadi terhambat. Dengan menyalakan simbol, lompatan jauh terjadi. Jarak Kazaro jauh berada di luar radius serangan sang mandor. Tapi siapa sangka gergaji mesin dilemparkan. Mesin pemotong terbang melayang menuju pada Kazaro. Hanya dengan merunduk sudah bisa selamat dari benda berbehaya tersebut. "Kazaro!" teriak sang mandor sambil mengeluarkan sebilah pisau. Niat untuk berlari terhalang materi yang ada di bawah. Tak lama berselang beberapa orang berkumpul di sana. Rasa takut masih ada di benak hati. Sang pemilik proyek pun datang. "Subroto hentikan! Kau sedang apa?" teriaknya. "Akan aku bunuh Kazaro!" teriak sang mandor. Tekad telah bulat dan sulit dipadamkan. Pisau tajam masih berada di tangan Subroto. Gerak langkah masih tak tertahankan. Seorang dengan badan cukup besar memberanikan diri. Sebuah lompatan dilakukan, badan Subroto berhasil dipegangnya. "Pak, sadarlah. Jangan terbawa emosi," katanya. Pisau di tangan mengiris sedikit kulit tebal si pria besar. Gerak refleks membuat orang itu tak sengaja menendang orang di depannya tubuh Subroto jatuh ke aspal yang masih meleleh. Pisau terlepas dari tangan. Seketika semua orang datang datang dan langsung melompat. Tubuh mandor itu tertumpuk beberapa orang. "Sudah hentikan, kasihan pak mandor." Kazaro datang dan membangun orang satu per satu yang bertumpukan. Warga lain ikut membantu. *** Mesin gergaji masih menyala bagian yang tajam terus bergesekan dengan besi mobil yang ditabrak. Percikan api tercipta. Sedikit demi sedikit lapisan isolator ikut terbakar. Kandungan tembaga telah terkelupas. Serpihan besi yang terbang menyambungkan kedua kabel beda alur. Korsleting listrik tak terhindarkan. Kebakaran pun terjadi di dalam sana. Api membesar dan menyambar ke bagian bahan bakar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN