Selamatkan Kimina

1019 Kata
Terlepas dari pegangan preman, Kimina berlari ke arah sang kakak. Di saat yang bersamaan pemuda lain mengejarnya. Simbol di tangan masih tetap menyala. Akurasi bagus dari Kazaro, para pemuda terkena ledakan. Siapa pun yang mendekat terkena ledakan dari simbol di tangan. Sampailah Kimina pada sang kakak. Sedikit berlari ke belakang, dia pun berkata, "Kak, jangan terlalu keras." "Aku tak peduli." Kazaro berada belakang Kimina. "Kau pemilik simbol juga," kata ketua tim. "Memangnya ada apa?" Kazaro terus maju selangkah demi selangkah. "Akan aku potong tanganmu." Para pemuda mengeluarkan pisau. Berlarilah mereka ke arah Kazaro. Hal yang sama dilakukan Kazaro. Langkah kaki dipercepat, ledakan dari simbol terjadi lagi. Kurang dari satu milidetik ledakan telah mengenai seorang pemuda. Terpental tubuhnya ke belakang. Penjahat melompat sambil menghujam sebuah pisau. Jarak tinggal sepuluh centimeter tapi ia terpental terkena ledakan simbol. Tubuh penuh gambar tersebut terbang sebelum menabrak tembok. Rasa di punggung mau patah saja. Teman sekelasnya Kimina ikut menyerang. Pisau diarahkan ke wajah Kazaro. Tapi terlebih dahulu area kelemahan terkena tendangan. Rasa sakit tak karuan harus dia terima. Hancur sudah harapan punya keluarga. Seorang preman berlari dan menebaskan pisau ke wajah Kazaro. Sedikit menekuk lutut, dengan mudah serangan tersebut meleset. Serangan balasan dilancarkan. Ledakan simbol melayang pada perut sehingga preman tersebut terpental jauh. Saat itu pertahanan Kazaro terbuka. Sebuah tendangan membuat dirinya terpental mundur. Dan bersamaan dengan itu simbol di tangan menyala. Si penendang juga ikut terpental. Preman lain telah siap di tempat Kazaro terkapar. Sebuah tusukan hendak ia lakukan. Tapi Kimina terlebih dahulu memberikan sebuah pukulan. Sedikit rasa pusing bercampur dengan sakit tapi ia tak pingsan. Tubuh berbalik ke belakang, wajah Kimina yang ketakutan terlihat jelas. Pandangan ingin menghabisi membuatnya bergemetaran. Dengan sekuat tenaga, Kimina menggenggam kayu bekas memukul penjahat. Saat itu pertahanan si preman lengah, Dia melakukan sebuah jegalan. Tubuh penjahat yang mulai terjatuh terkena ledakan dari simbol. Berlari mundur jauh ke belakang Kimina lakukan. Sebuah pedang panjang dikeluarkan dari sarung. Ketua preman berlari dan langsung menyerang. Simbol yang menempel pada lantai membuat Kazaro bisa menghindar dengan berguling ke samping. Ledakan dari kedua simbol berikutnya membuat dia melayang. Sambil bersalto simbol dinyalakan lagi. Beberapa pemuda terkena kekuatan dari simbol tersebut. Kazaro berdiri sempurna, dua ledakan masih sempat dia lakukan. "Jangan kau kira memiliki simbol bisa membuatmu menang," kata ketua preman. "Dan jangan juga kau anggap main keroyok simbol kejantan seorag preman," kata Kazaro. "Hiyaaa!" teriak seorang pemuda dari arah samping. Dengan sebuah simol serangan itu batal. Dia terpental ke belakang. Sebuah gerakan beladiri diperlihatkan Kazaro. Simbol di tangan masih menyala terang, sebelah kanan menghadap ke depan dan sebelah kiri menghadap ke lantai. "Menyerah saja, simbol ini akan terus berfungsi hingga aku kehabisan energi. Sekarang masih jauh dari itu," katanya. "Bunuh dia," perintah sang ketua. Dengan sigap para pemuda berlari ke arah Kazaro. Pisau siap menyerang. Satu per satu dari mereka mulai berjatuhan terkena ledakan simbol. Tapi ada juga yang lolos hingga pisau tersebut mengenai sasarannya. Garis berwarna merah menghiasi kulit. Darah Kazaro keluar dari sana. Simbol menyala dan si penyerang terpental ke udara. Tak hanya diam saja, ketua tim ikut menyerang. Sebuah tebasan sejajar dengan kepala Kazaro. Lagi-lagi simbol menyala. Terkejut karena itu, pedang yang dia pegang terlepas dan jatuh di lantai. Sebuah pijakan dilakukan Kazaro. Pedang melayang di udara dan simbol pun menyala. Perpaduan keduanya membuahkan serangan mematikan. Peang melesat dengan cepat. Tak sempat para preman menghindar. Beberapa kulit teriris, bahkan temannya Kimina harus rela kehilangan salah satu kakinya. "Argh!" teriak remaja sebaya dengan Kimina. Kaki yang terpotong pengeluarkan banyak darah. "Kau ini!" teriak amarah salah satu pemuda. Sebuah serangan menarget padanya. Dengan tenang hati Kazaro menerima. Ledakan dari simbol menerbangkan si penyerang. Serangan kejutan dari tendangan jarak jauh harus dirasakan. Dia terpental jauh dan terjatuh ke lantai. Simbol di kedua tangan menyala, dia pun melompat tinggi. Beberapa kali ledakan dibuat, banyak dari preman yang terkena. Pisau melayang di udara ikut menambah serangan yang dibuatnya. Dengan posisi yang sempurna dia mendarat. Sebuah pisau berhasil ditangkap dan diarahkan ke leher ketua tim. Seketika terhenti serangan dari para preman. "Menyerahlah atau kalian mati," katanya. Para preman menurunkan pisau yang mereka bawa. Tapi ada satu yang tak melakukan itu. Seorang yang berambut tak karuan menodong Kimina. Sebuah pisau telah menempel pada leher gadis tersebut. "Kau yang harus menyerah atau adikmu menjadi mayat sekarang juga," ancamnya. Pisau berpindah tangan dan dilemparkan ke arah Kimina. Dengan bantuan daya ledak membuat kecepatan dan akurasi pisau bertambah. Pisau terbang sedikit di bahu gadis tersebut dan mengenai tembok yang berada di belakang. Lepas tak berdaya, kedua orang tersebut dibuatnya. Bahkan air keluar dari celana si preman. Kimina terjatuh ke lantai, kesempatan bagus untuk menyerang. Simbol menembak dari jarak beberapa meter, preman yang menjadi target terbang ke belakang. Sedikit bahu terluka karena pisau yang menancap. Sebuah pedang masih tergeletak di lantai dekat teman sekalas Kimina. Sekali lompat Kazaro bisa sampai di sana. Sebuah ledakan menghantarkan preman terdekat untuk terbang. Pedang telah berada di tangan, kepala ketua preman telah terkunci. "Maju selangkah atau kalian semua kehilangan kepala," katanya. Dilihat di sekitar, para preman sudah kewalahan. Seorang diantaranya kehilangan kaki. Sebuah pilihan diputuskan oleh sang ketua. "Baiklah, kami menyerah," katanya. Pedang yang tadi diacungkan kini dibiarkan bergeletak di lantai. Menolong si adik menjadi prioritas baginya. Kazaro berjalan menuju Kimina. Rupanya sang ketua berbohong. Pedang yang tergeletak diambil. "Hiya!" teriaknya sambil menyerang. Dengan reflek yang bagus kedua simbol menyala. Kazaro menargetkan pada perut si preman. Ledakan ganda menyebabkan ia melayang dan menatap sebuah tembok. Benda yang ada di atas bergerak hingga jatuh tepat di kepala. Luka terlalu parah hilang nyawa terlepas dari raga. Para preman menyaksikan peristiwa tersebut mereka memilih untuk kabur. Kimina didatangi. Keadaannya sedang tak sadarkan diri. Dengan senang hati Kazaro membawa untuk pulang ke rumah. *** Tak mau kalah, seorang preman melakukan sebuah kontak. "Boss, aku minta maaf. Ketua kami telah meninggal," katanya via saluran telepon. Siapa yang berani melakukan ini?" tanya lawan bicara sambungan telepon. "Dia seorang pemilik simbol di kedua tangan tipe laser. Namanya Kazaro." Betapa beruntungnya kalian, beraninya dia membunuh salah satu orang kepercayaanku." Seorang bertato di wajah marah karenannya. Ponsel dia banting dengan keras. Komponen dari yang rusak, ponsel pun mati karenanya. "Kazaro! Kau harus mati!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN