Jalan sedang ramai. Seperti biasa, sopir mobil senantiasa melajukan kendaraannya dengan kecepatan setinggi dan senyaman mungkin agar bisa waktu perjalanan bisa sehemat mungkin dan tentu saja keselamatan. Kimina, seorang saja yang masih belia. Hampir saja dia ditabrak sebuah mobil. Angin yang berhembus menerbangkan sedikit rok yang dikenakannya. Hal ini berbeda dengan pemuda yang mengejarnya. Langkah kakinya terlambat menjangkah. Bersentuhan dengan lekat antara pemuda dan mobil di jalanan. Kecepatan yang tinggi membuat tubuh si pemuda terlontar jauh. Sebuah tanah berpaving menjadi tempat mendaratnya. Remuk, itu yang dialami si preman. Parah tulang, organ dalam yang hancur dan bersimbah darah keadaan tubuh si pemuda. Luka memar menghiasi seluruh area badannya. Sungguh wadah yang tiada kecocokan untuk nyawa bernaung. Tak heran jika nyawanya pergi meninggalkan sang raga. Tiada waktu Kimina untuk berduka. Di sat beberapa orang sedang berkumpul Kimina pergi menjauhi rombongan.
Sejauh kimina berlari tetap saja dia dikejar para pemuda. Sebuah tempat yang tepat dia berbelok dan bersembunyi. Sebuah kayu bersandar disampinginya. diambillah kayu itu untuk menjaga dirinya.
Tiada lelah para preman mengincar Kimina. Terus saja mereka mencari dan mengejar Kimina. Sebuah gang yang sepi dimasuki seorang pemuda. Langkah demi langkah si preman semakin dekat dengan Kimina. Kian dekat kian membuat Kimina terdesak. Genggaman tangan Kimina pada kayu semakin dikuatkan. Terlihatlah tubuh seorang preman. Dengan sekuat tenaga Kimina memukuli si Preman.
"Ah, rasakan ini!" teriaka Kimina sambil terus memukulkan kayunya.
Si preman hanya bisa menangkis dengan tangannya. Luka memar mulai tercipta di tubuhnya. Pertahanan yang dilakukan semakin membuatnya merasakan kesakitan. Tapi pertahanannya berakhir sudah. Temannya menahan serangan Kimina.
Hendaknya Kimina terus memukuli si pemuda. Tapi tenaganya tak kuat meneruskan. Gerak tangan terhalang genggaman seseorang. Sebuah tinjuan menghantam perut Kimina. Pegangan kayu di tangannya terlepas dan kayu jatuh ke tanah. Sakit, itulah rasa di perutnya. Dipegangi perut rampingnya agar rasa sakitnya berkurang. Tiada cara untuk melawan, hanya lari yang bisa dia lakukan.
Tibalah Kimina di tengah jembatan. Hendak hati ingin menyeberang tapi jalan di depan telah diblokir total. Berbalik badan ke belakang, tapi pemuda yang lain sudah mendekat. Wajah mereka tergambar ingin memiliki tubuh Kimina. Tiada jalan lain untuk menghindari kejaran penjahat. Hanya ada satu caranya. Kimina terjun bebas ke dalam sungai. Tangan dari para preman gagal menangkapnya.
"Dasar cewek tak tahu diuntung. Sudah bagus menyerah saja dan bisa kita nikmati. Masih saja ada jalan untuk kabur," kata seorang preman. Dipandanginya aliran sungai.
"Jangan memandang saja, ayo kita kejar," kata preman yang lain. Segera mereka bergerak menelusuri pinggir sungai.
Melarikan melalui air bukanlah jalan terbaik bagi Kimina. Apa-apa yang dikenakan basah semua. Seluruh barang yang dia bawa basah terkena air sungai. Untung saja ponsel miliknya tahan terhadap air. Rasa lelah masih saja terasa. Menepi ke pinggir sungai menjadi pilihannya. Tapi sayang, para pemuda telah berada di sana. Hendak lari lagi tapi daya telah tiada. Hanya berpasrah dirilah yang bisa dia lakukan. Seketika para preman membawanya.
Sekian lama waktu mereka berjalan. Sampai juga di sebuah gudang kosong. Kimina terikat erat, tiada sanggup dia melawan. Mulut yang tersumpal membuatnya tak bisa berteriak. Pasrah, itulah yang dia lakukan. Kancing baju yang basah dibuka satu per satu. Tampan jelas kaos di dalamnya.
"Hei, apa yang kau lakukan?" tanya seorang preman.
"Biasalah, kita bersenang-senang," kata pemuda yang membuka baju Kimina.
"Aku tahu kakaknya Kimina. Bagaimana kalau kita gebuki kakaknya dahulu baru kita nikmati tubuh adiknya ramai-ramai," kata temannya Kimina.
"Aku setuju denganmu. Kau hubungi kakaknya, kita pukuli dulu kakaknya hingga puas. Baru setelah itu kita cangkul adiknya. Pasti rasanya sangat menyenangkan," kata ketua preman.
Tak sanggup Kimina membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya. Air matanya menambah kadar air dibajunya.
***
Burung-burung terbang menari indah. Kicauan merdunya seolah-olah mengajak bernyanyi. Itulah yang ditemui Kazaro di sepanjang perjalanan pulang. Kala itu mentari menuju pada masa terbenamnya. Lelah dan kepanasan seharian bekerja telah biasa dia alami. Air dalam kamar mandi sebagai penyegar tubuhnya. Ada satu yang kurang dari keluarga itu, seorang perempuan muda yang bernama Kimina masih belum balik juga.
"Bu, adik kok belum balik juga. Apakah belajarnya sampai sore hari?" tanya Kazaro kepada ibunya di saat sang ibu masih memasak di dapur.
"Coba kau hubungi saja." Sang ibu terus memasak tanpa memperhatikan Kazaro.
Baru saja Kazaro mau menelepon nomor adiknya tapi sebuah pesan telah masuk. "Bu, aku cari Kimina saja," katanya.
"Sesore ini, Nak."
"Iya, Kimina dicekal. Aku harus membebaskannya."
"Kenapa tidak lapor polisi saja, urusannya akan mudah beres."
"Aku takut mereka akan menghabisi nyawa Kimina saat melihat polisi."
"Nak, berhati-hatilah. Kuncinya ada di sepeda motor."
Segera Kazaro bergegas berlari menuju ke sepeda motornya. Sebuah helm dia pakai. Kunci ditancapkan, gas ditekan dan berangkatlah Kazaro.
Kala sore menjelang malam perjalanan tidaklah mudah. Banyak serangga kecil beterbangan. Pandangan sedikit terganggu, untung saja helm sanggup melindungi dari tabrakan serangga yang tak terelakkan. Semakin lama langit semakin gelap. lampu sepeda motor dinyalakan guna menerangi jalanan yang akan dilalui.
Tibalah Kazaro di sebuah tempat yang dijanjikan. Berdiri tegak di samping sepeda motornya, Kazaro dihadapkan dengan sekelompok para preman. Kimina tak jauh dari mereka. Keadaan terikat, baju yang terbuka dan ada beberapa bagian yang lusut. Itulah pandangan Kazaro melihat si adik.
"Plok plok plok," bunyi tepukan tangan dari ketua pemuda. Didekatilah Kimina.
"Bro, selama ini kita tak pernah bersenggolan satu sama yang lain. Kita tak sekali pun bermusuhan. Apa tujuanmu mengganggu hidup keluarga kami," kata Kazaro.
"Tak ada, aku akan puas jika bisa memukulimu di depan adikmu sebelum adikku dicangkul dan kutanam benih kehidupanku di dalamnya," kata ketua preman.
"Bro, aku mohon lepaskan adikku. Kita hidup damai saja," tawar Kazaro.
"Damai untuk adikmu saat sudah aku tanami, hahaha," tawa keras ketua pemuda. Sekali isyarat para anggota tim segara maju.
"Baiklah, kau sendiri yang meminta." Kazaro berkonsentrasi dengan penuh. Simbol ditangannya menyala terang.
Tiada penjagaan ketat dari para preman. Hanya seorang preman yang menjaganya. Kesempatan yang bagus buat Kazaro. Napas dan tenaga di atur, sudut demi sudut diperhatikan. Kini saantya telah siap. Dua simbol di tangan Kazaro membuat sebuah ledakan. Kazaro terlempar dan langsung mengarah menuju ke Kimina. Pemuda yang ada di sampingnya langsung terhempas terkena ledakan dari simbol. Kazaro berhasil menangkap si adik. Keduanya terjatuh ke lantai sedikit jauh dari para pemuda.