Perkataan seorang petani perempuan itu ada benarnya juga. Ditambah lagi ia sudah berlari ilmu beladiri selama beberapa hari. Dengan senang hati ia mengikuti perempuan itu. Sesuatu yang dibayangkan tak sesuai dengan kenyataan yang ada. Rasa takut dan trauma masih saja bersemayam di hati gadis dengan pakaian paling minim tersebut. Simbol di telapak tangan dinyalakan sebagai antisipasi jika ada orang yang akan menyakitinya. Namun canda tawa serta saling tukar makanan membuat ia lupa akan rasa yang pernah menyiksa pada kehidupan sebelum bertemu Kazaro. Simbol di tangan dimatikan, ia pun mulai bercakap pada petani di sekitar. Namun cerita yang ia tuturkan membawa kesedihan tersendiri. "Mika, yang sabar. Kau berada di tangan yang tepat. Lingkungan petani itu baik dan tak pernah saling sikut. T

