Berjalan berdua dengan sahabat adalah hal yang menyenangkan. Itulah yang dilakukan Kimina dan Zanita. Melangkahkan kaki melewati sebuah gerbang dirasakan dengan penuh kegembiraan. Tapi sayang, suasana seperti ini tak berlangsung begitu lama. Sekelompok preman sekolah telah menyambut dengan penuh keinginan. Sebuah kepungan membuat Kimina dan Zanita tak bisa pergi kemana-mana. "Sis, aku belum tahu namamu. Tapi aku minta uang kontribusinya," kata seorang perempuan bertato bunga di leher. "Kontribusi apa?" tanya Kimina. "Halah, kau tadi diberi uang oleh kekasihmu. Mana!" pinta perempuan bertato. Maaf, uang ini untuk bayar sekolah. Bukan untuk kalian," tolak Kimina. "Serahkan uangmu atau darahmu akan mengalir di sini," ancam para preman. Dua orang lelaki telah siap memegang tangan Kimina

