°14° Masa Lalu II (PART KHUSUS II)

1078 Kata
(ಥ ͜ʖಥ) HAPPY READY (ಥ ͜ʖಥ) Telah banyak luka yang aku berikan padamu. Begitu pula degan orang-orang yang kau sayangi. Tapi, tidak ada satu pun balasan yang kau berikan padaku. Maaf, telah menyakitimu. (CS - Cinta Swara) : : : 1 jam yang lalu... Swara terbangun dari tidurnya. Ia meraih ponsel yang sejak tadi berdering. Dengan samar-samar, Swara dapat melihat panggilan tidak terjawab dari Kavita. 10 panggilan tidak terjawab. "Kavita ada di mana? Mengapa Kavita menelepon ku sebanyak ini? Bukankah dia sudah pulang?" gumam Swara merasa bingung. "Aku akan meneleponnya lagi." Swara kembali menelepon Kavita, namun ponselnya tidak aktif. "Kavita, ayolah angkat. Jangan membuatku khawatir begini. Ada apa dengan dirinya?" Swara menelepon Kavita sekali lagi, namun hasilnya tetap sama. "Kavita, apa yang terjadi padamu?" Swara menoleh ke arah kiri. Dimana Sanskar tidur dengan sebelah tangan yang memeluk Swara. Jemari Swara bergerak mengusap rambut Sanskar. "Sanskar...." Si pemilik nama sama sekali tidak menjawab. Swara mendekat, lalu mencium dalam dahi Sanskar. 'Sanskar nyenyak sekali tidurnya. Aku tidak tega membangunkannya.' -Swara masuk lagi ke pelukan Sanskar. 'Tapi aku tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan Kavita. Bantu sahabatku kalau ia sedang dalam masalah, Ya Allah.' -doa Swara dan berusaha memejamkan matanya lagi. ┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻ Di kediaman Maheswara... "Ka-kau jahat! Hiks, aku takut padamu! Aku benci denganmu! Kenapa kau datang kalau hanya ingin melukaiku?! Kenapa, ha?!" ucap Kavita bertubi-tubi memukul d**a bidang Zain yang masih memeluknya erat. "Sttt, pukul aku sepuasmu, Kavita." "Aku benci padamu, Zain! Aku benci padamu! Kau penghancur segalanya! Kau licik! Kau licik!" Kavita melepaskan pelukan Zain, lalu menatap Zain dengan benci. "Kau menggunakan aku hanya untuk bertatap muka dengan Swara! IYA, KAN?! Hiks!" "Apa yang akan kau lakukan lagi padanya, ha?! Hikshiks, kau akan menghancurkan dirinya seperti kau menghancurkan ku?!" Zain masih diam mendengarkan perkataan Kavita. "Kau laki-laki b******n! Kau laki-laki b******n, hiks!" Kavita terjatuh ke bawah. Ia masih menangis sesegukan ketika mengingat masa lalu itu. "Berdiri!" ucap Zain tegas sambil mengulurkan tangannya berniat membantu Kavita berdiri, namun langsung ditolak olehnya. "Jangan menyentuhku! Kau tidak berhak atas diriku!" Zain terkekeh, lalu ikut jongkok bersama Kavita. Menyamakan tinggi keduanya. Zain meraih dagu Kavita yang luruh dengan air mata. "Aku berhak menyentuhmu, sayang. Karena kau adalah milikku. Perlu aku ingatkan lagi kalau kau lupa, sayang?" Kali ini Kavita yang terdiam. Ia membiarkan Zain membawa dirinya berdiri, lalu memeluk erat dirinya. "Kau tahu? Detak jantung yang tak beraturan itu tidak ada lagi di diriku ketika bertatap muka padanya. Tapi bersamamu...," Zain melepaskan pelukannya, lalu menangkup pipi Kavita yang tirus. "Detak jantung yang tak beraturan ini ada Kavita." Zain membawa tangan Kavita tepat di d**a bidangnya yang terbuka. "Maaf, kalau aku pernah mengatakan itu padamu. Tapi jujur, setelahnya aku menyesal. Karena aku telah menyadari kalau aku mencintaimu. Sangat." Zain kembali membawa Kavita ke pelukannya. "Ka-kau bohong kan?!" tanya Kavita tak percaya. "Kau tidak bisa melihat cinta untukmu dimataku, hem?" tanya Zain balik, Kavita menggeleng pelan. Zain terkekeh. "Kau harus belajar, sayang... dan belajar untuk mencintaiku. Sekali lagi maaf... kalau selama ini aku sering membuatmu ketakutan. Aku tidak berniat, sungguh! Hanya ingin selalu melihatmu ada disampingku, aku terpaksa melakukannya." "Aku juga berjanji... akan menanamkan benih di dalam rahimmu agar kau selalu bersamaku. Aku tidak mau kehilangan cintaku untuk kedua kalinya, Kavita...." Zain membawa Kavita ke pelukannya lagi. "La-lalu... bagaimana dengan kejadian beberapa tahun yang lalu?" mengingat sesuatu sontak Kavita langsung melepaskan pelukannya. "Kau hampir saja meniduri sahabatku, sekarang kau meniduri sahabatnya sahabatku, Zain?! Pria seperti apa kau, ha?! Menjijikkan sekali!" "Kau juga pernah mengatakan ini kepada Swara kalau kau akan menjaganya. Tapi dengan brengseknya kau hampir meniduri sahabatku sendiri?! Lalu apa ini? Semudah itu kau membuka hati untuk orang lain?! Kau juga sudah meniduri aku, Zain...! Kita tidak ada hubungan apapun! Aku kotor karena dirimu, hiks!" jerit Kavita membenci pria di hadapannya. Zain menggenggam kedua tangan Kavita yang akan memukul dirinya lagi. "Aku mohon... lupakan masa lalu itu. Biarkan aku membuat lembar baru dengan dirimu, Kavita. Aku mohon...." "Hiks! Bagaimana bisa... setelah apa yang sudah kau lakukan pada kami?! Bagaimana bisa, ha?!" "Aku membenci dirimu! Aku benci dengan diriku yang kotor, hikshiks... Aku benci diriku!" hati Zain terkoyak ketika Kavita mengatakan itu semua. Tapi percayalah... hanya ingin memiliki cintanya cuma itu yang ada di benaknya. Sampai ketika ia harus mengambil mahkota yang sudah lama dijaga Kavita. Mungkin... kata maaf tak akan membuat Kavita nya tersenyum lagi. "Aku akan membuktikannya padamu kalau aku benar-benar mencintaimu. Tapi please... jangan menyuruhku untuk menjauh darimu. "Begitu mudahnya kau mengatakan itu, hiks... A-aku...." Zain langsung mendekap Kavita di pelukannya. "A-aku takut kalau aku... ha-hamil. Akuh. Aku tidak mau itu terjadi." tanpa Kavita sadari ia memeluk Zain erat. Zain tersenyum bahagia. Ini adalah pertama kalinya Kavita memeluk ia se-erat mungkin. "Aku akan bertanggung jawab. Aku janji, sayang." Tidak ada lagi isakan ataupun penolakan dari Kavita. Karena ia saat ini benar-benar sudah tertidur dipelukan Zain. Zain langsung membawa Kavita menuju ranjang, lalu ikut berbaring di sampingnya dengan menarik selimut untuk menutupi kedua tubuhnya sampai d**a. "Maafkan aku, sayang. Aku sungguh menyesal. Cup!" Zain mengecup dalam dahi Kavita, setelahnya ia tertidur menghampiri Kavita ke dunia mimpi. Keesokan harinya... Kavita terbangun dengan susah payah membuka kedua matanya. Ia mengerjap, lalu memicing menatap atap rumah yang ia tempati. Ia baru sadar, kalau dirinya masih berada di rumah Zain. Secepat kilat ia bangun dan langsung memeriksa pakaiannya. 'Dia tidak melakukan itu kan padaku?' Kavita mengeratkan selimut yang ia pakai semalam sampai decitan pintu kamar langsung mengambil atensinya. "Morning, sayang." ucap Zain tersenyum lebar dengan membawa sebuah nampan yang berisi makanan dan minuman. Kavita mengeratkan selimutnya lagi, lalu merosot mundur ketika Zain duduk di pinggir ranjang setelah meletakkan nampan tadi. "Ja-jangan mendekat!" ucap Kavita ketakutan. "Oke, baiklah. Tapi kamu yang kemari. Kita sarapan bersama." ucap Zain. Kavita menelan salivanya susah payah, lalu menggeleng kuat. "Tidak! A-aku tidak mau! Aku mau pulang! Biarkan aku pulang!" ucap Kavita. "Aku akan mengantarmu, tapi kita sarapan dulu." "Aku tidak mau! Aku bisa pulang sendiri!" Kavita turun dari ranjang, lalu menuju pintu kamar. Namun, ketika ia mau menyentuh knop tubuhnya langsung melayang. "Ah, Zain! A-apa yang kau lakukan?! Turunkan aku! Aku mau pulang!" Kavita memberontak dengan memukul punggung Zain yang berbalut kaos putih. "Sarapan dulu, baru pulang." Zain menurunkan Kavita ke ranjang lagi. "Ak... uhuk-uhuk!" Kavita terbatuk-batuk ketika Zain langsung menyuapi Kavita. "Ini, minum dulu. Makanya kalau lagi makan itu jangan bicara. Jadi keselek kan!" ucapnya mengingatkan. Kavita mengatur napasnya setelah menghabiskan air minum 1 gelas. "Ka-kau yang memaksaku untuk makan. Kan aku bilang tidak mau." "Kenapa, hem?" Zain mengusap keringat di dahi Kavita. "Aku takut kau mencampurkan sesuatu di makanan dan minuman itu. Tapi, a-aku sudah menghabiskan minumnya. Bagaimana ini?!" ucap Kavita mulai panik. Zain terkekeh. "Aku menaruh bubuk cinta di dalamnya agar kau mencintaiku secepatnya." balas Zain. Mata Kavita membola sempurna. "Tidak! Aku tidak akan pernah mencintaimu! Tidak akan pernah!" "Awas ke makan perkataan sendiri." (ಥ ͜ʖಥ) (ಥ ͜ʖಥ) (ಥ ͜ʖಥ) To Be Continued...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN