Mata Gwen membuat dengan kening dikerutkan. "Hah? Apa gue gak salah denger? Lo pinjem duit sama gue?" tanyanya dengan heran.
"Udah, jangan banyak omong. Gue laper, pinjemin gue duit, Gwen. Duit pemberian bokap gue 'kan banyak," ucap Damar dengan santai.
"Gue udah balikin semua duit bokap lo, ya!" decak Gwen. "Dan gue udah gak ada hubungan apapun lagi sama dia, paham?" Gwen melanjutkan langkahnya dengan wajah datar.
"Lo beneran udah putus dari bokap gue?" tanya Damar mengekorinya bak anak ayam yang tengah mengikuti induknya. "Bagus deh. Keputusan yang tepat, lo gak tau siapa bokap gue, Lo bakalan nyesel udah deket sama dia, Gwen. Dia itu b******k, maniak seks."
Gwen tidak menanggapi ucapan Damar, langkahnya semakin cepat berharap anak itu menyerah dan berhenti mengikutinya. Namun, Damar tetap berjalan di belakangnya, semakin cepat Gwen melangkah, maka semakin lebar pula kaki Damar melangkah. Ia tidak tahu lagi harus ke mana, ia pun tidak memiliki teman dekat untuk dimintai tolong, sedangkan ibunya sudah pindah dan menetap di luar negeri. Beruntung ia bertemu dengan Gwen seperti takdir yang telah dituliskan oleh Tuhan.
"Tunggu gue, Gwen. Gue mohon pinjemin gue duit lo," pinta Damar dengan suara lantang. "Barang-barang gue disita sama Daddy, termasuk dompet dan ATM gue."
"Gue gak peduli," jawab Gwen tanpa memutar badan.
"Ya udah, gue minta maaf."
Gwen menghentikan langkahnya membuat Damar sontak melakukan hal yang sama. "Coba ulangi!" pintanya seraya memutar badan.
Damar memejamkan matanya sejenak seraya menghela napas panjang lalu kembali memandang wajah Gwen. "Gue minta maaf, Gwen," ucapnya dengan sangat terpaksa.
Gwen tersenyum menyeringai. "Gue lebih tua tujuh tahun dari lo, ya. Yang sopan dong."
Damar mendengus kesal. "Terus, lo pengen gue manggil lo apa? Tante, Mbak atau Ibu tiri?"
"Serah lo deh. Gue udah capek, stop ngikutin gue, Damar!" decak Gwen kembali memutar badan lalu melanjutkan langkahnya yang sempat tertahan.
"Gue mohon pinjemin gue duit, Gwen. Dua juta aja," rengek Damar kembali mengikuti Gwen dari belakang.
"What? Dua juta?" tanya Gwen seraya menghentikan langkahnya dan kembali memutar badan. "Lo pikir gue Bank apa? Enak aja minjem duit dua juta."
"Ya udah, gue pinjem seratus aja deh, cuma buat malam ini doang, gue laper banget."
"Seratus?" Mata Gwen membulat seraya tersenyum lebar. "Makannya, jadi anak itu jangan so bisa hidup tanpa orang tua. Lo biasa hidup enak, sekarang nelangsa 'kan lo gak diurusin sama bokap lo. Seharusnya, lo tuh banyak-banyak bersyukur punya bokap kaya raya!"
"Udah ceramahnya? Mana sini seratus, gue ganti kalau kita ketemu lagi," decak Damar dengan sinis.
Gwen mendelik wajah Damar dengan kesal seraya merogoh tas miliknya lalu meraih selembar uang seratus ribuan. "Nih, gak usah diganti," ucapnya seraya menyerahkan uang tersebut. "Lagian, kenapa lo gak balik aja ke rumah bokap lo sih? Emangnya lo mau jadi anak jalanan?"
Damar menerima uang tersebut tanpa menimpali ucapan Gwen. Ia bahkan segera berbalik dan berjalan meninggalkannya begitu saja. Sebenarnya, ia malu harus mengemis dan merengek kepada wanita itu mengingat apa yang telah ia lakukan selama ini, tapi apalah daya, perutnya tidak dapat dikompromi. Ia belum memakan apapun sejak keluar dari hotel sang ayah.
Gwen tersenyum sinis. "Dih, dasar anak dakjal, gak bisa apa bilang terima kasih?" decaknya lalu berbalik dan melanjutkan langkahnya dengan perasaan kesal.
***
Keesokan harinya tepatnya pukul 07.00, Kenzo dengan stelan jas hitam lengkap dengan dasi dengan warna senada berjalan keluar dari dalam rumah dengan menenteng tas kantor miliknya. Erik sang asisten segera membukakan pintu mobil untuk sang majikan. Namun, langkah Kenzo terhenti saat melihat Damar berjalan di halaman dengan penampilan acak-acakan, anak itu bahkan masih mengenakan seragam putih abu yang sudah terlihat kotor.
Damar menghentikan langkahnya tepat di depan Kenzo dengan wajah datar. "Anda menang, aku gak bisa hidup tanpa harta Anda," ucapnya dingin.
"Anda?" decak Kenzo tersenyum sinis. "Panggil Ayahmu ini Daddy."
Damar terdiam seraya memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Panggil Daddy maka Daddy akan kembaliin semua barang-barang kamu."
Damar menarik napas panjang, menghembuskannya secara perlahan lalu berucap pelan, "Daddy, puas?"
Kenzo tersenyum lebar. "Oke, barang-barang kamu ada di kamar kamu di lantai dua. Ambil aja sendiri, mobil kamu masih di hotel, ganti aja sama yang baru. Daddy akan beliin mobil baru buat kamu," ucap Kenzo lalu melangkah memasuki mobil.
Damar hanya menatap kepergian Kenzo tanpa menimpali ucapannya. Ia akhirnya sadar, bahwa dirinya tidak dapat hidup tanpa harta sang ayah. Baru sehari saja tinggal di jalanan bahkan harus tidur di trotoar sudah membuatnya menyerah dan memutuskan untuk mengikuti aturan yang dibuat oleh Kenzo. Meskipun begitu, Damar hanya membutuhkan hartanya bukan orangnya. Hatinya masih diselimuti rasa dendam, ia masih berfikir bahwa Kenzo menelantarkannya dan sang ibu, padahal bukan seperti itu kejadian yang sebenarnya.
Damar memutar badan lalu melangkah menuju pintu seraya merentangkan kedua tangannya. "Huaaa! Hari ini gak usah sekolah deh, buat apa sekolah kalau masa depan gue udah jelas," ucapnya seraya membuka mulutnya lebar-lebar menahan rasa kantuk.
***
Sementara itu di perjalanan, Kenzo menatap keluar jendela seolah tengah menikmati pemandangan, di mana jalanan nampak padat merayap meskipun belum menimbulkan kemacetan. Otaknya tidak bisa lepas dari Gwen, baru sehari ditinggalkan oleh wanita itu, hatinya terasa kosong dan hampa. Ia tidak pernah seperti ini sebelumnya, dirinya pun bisa mendapatkan selusin wanita seperti Gwen dengan uang yang ia miliki, tapi entah mengapa hanya Gwen yang ia ingini saat ini.
"Gak usah ke hotel, Erik. Anterin saya ke suatu tempat," ucap Kenzo dengan wajah datar.
"Baik, Pak Bos. Kita mau ke mana?" tanya Erik, memandang wajah sang majikan dari pantulan kaca spion.
"Ke kontrakannya Gwen," jawab Kenzo singkat.
Erik mengangguk patuh. "Baik, Pak Bos," jawabnya seraya menginjak pedal gas guna mempercepat laju mobil.
***
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 30 menit, Kenzo akhirnya tiba di kontrakan wanita bernama Gwen. Ia segera keluar dari dalam mobil dan berjalan memasuki gang dengan perasaan campur aduk. Pikirannya benar-benar berkecamuk, sebenarnya buat apa ia datang ke sana?
Kenzo tiba-tiba menghentikan langkahnya. "Astaga, mau ngapain saya ke sini? Emangnya wanita di dunia ini cuma dia aja apa?" decaknya dengan wajah polos, memandang ke arah depan dengan tatapan kosong. "Ingat, Kenzo. Kamu bisa dapetin puluhan wanita kayak si Gwen, kenapa juga kamu masih berharap sama dia." Kenzo berbicara kepada diri sendiri.
Kenzo menghela napas panjang lalu berbalik dan hendak melangkah meninggalkan tempat itu. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Gwen dari kejauhan, tengah berjalan bersama seorang laki-laki yang seusia dengannya. Wajah Kenzo seketika memerah penuh amarah.
"Gwen," gumamnya, hatinya tiba-tiba terasa panas terbakar. "Siapa laki-laki itu? Baru sehari ninggalin saya, dia udah punya gandengan baru? Dasar cewek murahan!" umpatnya dengan kesal.
Bersambung ....