Gwen menghentikan langkahnya saat melihat Kenzo dari kejauhan. Keningnya mengkerut, sedang apa Kenzo di sana? Bukankah ia sudah mengakhiri hubungan mereka? Gwen mendengus kesal lalu menoleh dan menatap laki-laki yang berjalan bersamanya.
"Dia siapa, Gwen? Kamu kenal sama dia?" tanya laki-laki tersebut menatap wajah Kenzo dari ujung kaki hingga ujung rambut.
"Eu ... dia mantan Bos aku, Mas. Mas Andi duluan aja, jangan lupa kabari aku kalau ada lowongan kerja, ya. Aku lagi butuh banget kerjaan," jawab Gwen tersenyum hambar lalu kembali menatap wajah Kenzo yang tengah berjalan mendekat.
"Oke, nanti saya hubungi kamu lagi, ya," jawab Andi, lalu melangkah meninggalkan Gwen..
Kenzo menghentikan langkahnya tepat di depan Gwen, memandang Andi dengan wajah sinis lalu mengalihkan pandangan matanya kepada Gwen. Lagi-lagi, ada yang aneh dengan perasaannya, rasa panas terasa membakar hatinya, seolah membumi hanguskan organ intinya di dalam sana.
"Dia siapa, Gwen? Pacar kamu?" tanya Kenzo dengan wajah datar.
Gwen mendengus kesal dengan wajah masam. "Mau ngapain Anda ke sini, Om? Bukannya kita udah gak ada hubungan apa-apa lagi, ya," ucapnya seraya berjalan melintasi Kenzo begitu saja.
Kenzo mengikuti Gwen dengan gugup. "Eu ... saya ke sini mau--" Kenzo menahan ucapannya dengan perasaan bingung, terdiam sejenak seraya menatap punggung Gwen yang berada tepat di depannya. "O iya, Gwen. Saya ke sini mau kasih kamu uang pesangon."
"Gak usah, aku gak butuh uang pesangon," jawab Gwen, segera membuka pintu kontrakan lalu masuk ke dalam sana. "Mendingan Om pergi dari sini. Aku sibuk!"
Kenzo berdiri tepat di depan pintu. "Boleh saya masuk?" tanyanya, tersenyum cengengesan.
Gwen menghela napas panjang lalu mengangguk pelan.
Kenzo melangkah memasuki kontrakan lalu duduk bersila seraya melonggarkan dasi yang melingkar di lehernya. Rasanya benar-benar sesak berada di ruangan sempit, apalagi tanpa AC membuat udara semakin terasa pengap.
"Sekarang katakan, mau apa Om dateng ke sini?" tanya Gwen, duduk dengan bersandar tembok menghadap Kenzo. Wajahnya nampak datar, memandang ke arah samping.
"Saya 'kan udah bilang tadi, saya ke sini mau kasih uang pesangon buat kamu, Gwen," jawab Kenzo, memandang lekat wajah Gwen. Wanita itu masih saja terlihat cantik meskipun tanpa polesan make up sedikit pun. "Kamu udah balikin semua uang pemberian saya, mana mungkin saya membiarkan karyawan saya resign tanpa uang pesangon sepeser pun."
"Ya udah, sekarang Om kirim uang pesangon buat aku, terus pergi dari sini," pinta Gwen dengan dingin.
Kenzo tersenyum sinis. "Dih, dingin banget kayak kulkas dua pintu. Baru sehari kita berpisah, kamu udah dingin kayak gini. Mentang-mentang udah punya gandengan baru," decaknya.
"Gandengan baru siapa? Nggak ada, tadi itu bukan pacar aku, Om."
Kenzo tersenyum lebar. "Beneran?"
"Kalau Om mau kasih uang pesangon, ya udah buruan kirim. Setelah itu pergi, aku sibuk."
"Emangnya kamu sibuk apaan sih? Kamu 'kan pengacara."
Gwen mengerutkan kening. "Pengacara?"
"Iya, pengangguran banyak acara," jawab Kenzo tersenyum lebar.
Gwen tersenyum kecut seraya memalingkan wajahnya ke arah lain.
Kenzo seketika merubah raut wajahnya, memandang sayu wajah Gwen. Tatapan mata yang pernah Gwen lihat saat mereka masih bersama sebagai partner di atas ranjang. Perasaan Gwen sempat meleleh, tapi wanita itu segera menepis perasaan tersebut dengan kepala menggeleng pelan.
"Sadar, Gwen. Sadar, dia itu buaya darat. Jangan terbuai sama tatapan matanya. Ingat kata Damar, ayahnya ini maniak seks. Palingan juga, dia dateng ke sini cuma kangen sama goyangan kamu di ranjang," batin Gwen, kepada diri sendiri.
"Sebenarnya, saya dateng ke sini karena saya kangen sama kamu, Gwen," ucap Kenzo terdengar tulus. "Semenjak kamu pergi, hati saya terasa hampa. Separuh jiwa saya serasa pergi bersama kamu, Gwen."
Gwen tersenyum sinis. "Anda bukan kangen sama aku, Om, tapi kangen sama servis aku doang, 'kan? Udah gak usah gombal, gak akan mempan," decak Gwen.
Kenzo berpindah tempat duduk tepat di depan Gwen, meraih lalu menggenggam telapak tangannya erat. "Saya serius, Gwen. Awalnya saya berfikir, gak masalah kamu ninggalin saya, saya bisa mendapatkan wanita yang 10 kali lipat lebih hot dari kamu, Gwen, tapi--"
"Udah cukup, Om. Jangan buat aku berharap lebih sama Om. Keputusan aku udah bulat, aku gak mau punya hubungan apapun lagi sama Om," sela Gwen, seraya melepaskan genggaman tangan Kenzo.
"Saya serius, Gwen. Ya Tuhan, harus dengan cara apa lagi agar saya bisa meyakinkan kamu?"
"Terus, arti dari ucapan Om itu apa? Aku gak ngerti."
"Menikahlah sama saya, Gwen," ucap Kenzo kembali meraih telapak tangan Gwen dan menggenggamnya.
"Buat jadi baby sisternya si Damar? Anak Om itu?"
"Kayaknya, saya udah berhasil naklukin dia, Gwen. Saya usir dia dari hotel, saya sita semua barang-barangnya dia. Eh ... baru sehari, dia udah balik ke rumah," sahut Kenzo seraya tersenyum lebar, merasa sudah berhasil menaklukan Damar. "Emang bener, ya. Uang itu bisa menaklukkan apapun dan siapapun, termasuk anak saya itu."
"Hmmm! Syukur deh kalau dia udah balik ke rumah," decak Gwen dengan suara pelan.
Kenzo mengerutkan kening. "Emangnya kamu tau kalau Damar udah gak tinggal lagi di hotel?"
"Semalem aku ketemu sama dia."
"Maksud kamu Damar?"
Gwen menganggukkan kepala.
"Dia ngomong apa aja sama kamu, Gwen? Dia gak nyakiti kamu?" tanya Kenzo dengan khawatir.
"Nggak, Om. Anak Om itu cuma pinjem duit sama aku. Minjemnya sih dua juta, tapi aku kasih aja seratus. Enak aja minjem dua juta, emangnya aku Bank apa," decak Gwen, tersenyum sinis.
"Apa? Damar minjem duit sama kamu?"
Gwen kembali mengangguk dengan wajah datar.
"Astaga, malu-maluin aja sih tuh anak!"
"Kalau menurut aku sih, kayaknya Om harus kasih dia perhatian lebih deh. Dia itu gak cuma butuh duit Om doang. Dia juga butuh kasih kasih orang tuanya dan sebanyak apapun uang yang Om kasih sama dia, gak akan ngeganti kasih sayang orang tua."
"Itu ... itu tuh yang saya suka dari kamu, Gwen. Saya ngerasa cuma kamu wanita yang cocok jadi ibu sambungnya dia. Saya mohon menikahlah sama saya, Gwen," ucap Kenzo dengan penuh semangat.
"Nggak aku gak mau," jawab Gwen tegas dan penuh penekanan.
"Astaga, kamu nolak saya lagi?"
"Aku gak mau nikah sama laki-laki yang gak cinta sama aku. Om minta aku jadi istri Om cuma pengen aku jadi ibu sambungnya Damar, bukan benar-benar jadi istri sejatinya Om."
"Oke, saya akan jujur sama kamu," seru Kenzo. "Sebenarnya saya suka sama kamu, Gwen. Saya cinta sama kamu, puas?"
Bersambung ....