Bab 14. Pernyataan Cinta

1022 Kata
"Jangan bercanda, Om Kenzo. Aku gak percaya Om suka dan cinta sama aku," ucap Gwen tersenyum sinis. Ucapan Damar yang mengatakan siapa Kenzo sebenarnya masih terngiang-ngiang di telinga. Ia pun bukan wanita bodoh yang akan percaya begitu saja dengan ucapan Kenzo yang terkenal suka gonta ganti wanita bahkan dijuluki maniak seks oleh putranya sendiri. Damar memandang sayu wajah Gwen. "Saya gak bercanda, Gwen. Saya serius, saya cinta sama kamu. Sungguh!" ucapnya meyakinkan. Gwen memalingkan wajahnya ke arah lain. "Terus, Om pikir aku akan percaya gitu?" "Terus, apa yang harus saya lakukin biar kamu percaya sama saya, Gwen? Katakan kamu mau apa? Hp baru, mobil atau rumah mewah? Semua itu bisa saya berikan buat kamu." Gwen tersenyum hambar seraya menghela napas panjang. "Tidak semua hal bisa dibeli dengan uang, Om. Termasuk pembuktian cinta." "Tidak, kamu salah. Uang bisa membeli segalanya termasuk pembuktian cinta. Di dunia ini tak ada yang tak bisa dibeli dengan uang, Gwen. Kamu udah ngalaminya sendiri, 'kan? Uang itu segalanya, bahkan hukum di negeri ini pun bisa dibeli dengan uang." Gwen terdiam, merenungkan apa yang baru saja diucapkan oleh Kenzo. Ya, ia sendiri mengalami di mana uang yang dimiliki oleh Kenzo berhasil membeli harga dirinya sebagai seorang wanita. Ia yang awalnya ragu untuk menjadi penghangat ranjang sang Presdir kala itu seketika luluh setelah diimingi sejumlah uang. Begitu pun dengan hukum di negeri ini, hukum akan condong kepada mereka uang ber-uang, sementara mereka yang berada di bawah garis kemiskinan harus berada di urutan paling belakang. Seperti itulah kekuatan uang. "Kenapa kamu diem aja, Gwen?" tanya Kenzo masih menatap wajah Gwen dengan tatapan mata yang sama. "Oke, gini deh. Eu ... kamu tunggu sebentar," pinta Kenzo, seraya merogoh saku jas hitam yang ia kenakan lalu meraih ponsel canggihnya dan menghubungi Erik, asisten pribadinya. "Halo, Erik. Tolong beliin mobil Mini Cooper warna pink, cash. Sekarang juga," ucap Kenzo meletakan ponsel tersebut di telinga. "Baik, Pak Bos," jawab Erik patuh. "Saya mau mobilnya dibawa ke sini, ya." "Maksudnya ke tempatnya Mbak Gwen?" tanya Erik dengan bingung. "Iya, secepatnya, ya." Ucapan terkahir Kenzo sebelum menutup sambungan telepon. Gwen menatap wajah Kenzo dengan kening dikerutkan. "Om beli mobil Mini Cover kayak beli tempe di warung. Emangnya mobil itu buat siapa?" tanyanya, ia bukannya tidak tahu bahwa Kenzo membeli mobil tersebut untuk dirinya. "Buat kamu, Gwen. Kita liat aja nanti, apa kamu masih menolak cinta saya setelah kamu melihat mobil itu," jawab Kenzo tersenyum ringan. Mata Gwen membulat. "Buat aku?" Kenzo mengangguk. "Iya, buat kamu, Gwen. Kalau kamu mau jadi istri saya, saya akan berikan apapun yang kamu mau. Kamu akan jadi Nyonya Kenzo dan menjalani hidup kamu bak Ratu." Gwen terdiam, apa hatinya masih akan sekeras batu setelah disuguhi mobil mewah berharga fantastis? Dalam mimpi pun ia tidak pernah berfikir untuk memiliki kendaraan beroda empat dan sekarang Kenzo membelinya tanpa berpikir panjang? Di dunia ini siapa sih yang akan menolak kemewahan? Gwen tidak munafik, uang adalah segalanya, terlebih ia masih memiliki dua adik yang harus ia sekolahkan. "Kenapa kamu diem aja, Gwen? Masih mau nolak saya?" tanya Kenzo dengan penuh percaya diri. "Aku butuh waktu buat berfikir, Om," jawab Gwen, masih diselimuti rasa dilema. "Saya yakin, setelah mobil itu dateng, pikiran kamu pasti bakalan berubah." "Apa setiap cewek yang deket sama Om selalu Om perlakukan kayak gini?" Kenzo terdiam, entah sudah berapa wanita yang ia manjakan seperti ini. Kenzo memang royal, tapi ia tidak pernah menggunakan perasaan kepada setiap wanita yang pernah melayaninya di atas ranjang. Hanya Gwen seorang, wanita yang membuat Kenzo gelisah pasca kepergiannya. "Hmm! Entahlah, saya lupa," jawab Kenzo seraya menggaruk kepalanya sendiri yang sebenarnya tidak terasa gatal juga tersenyum cengengesan. "Eu ... saya harus ke hotel, Gwen. Masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan. Hmm ... pokoknya, saya tunggu jawaban kamu secepatnya, oke?" "Jawaban aku 'kan udah jelas, Om. Aku gak mau jadi istri Om," tegas Gwen penuh penekanan. "Yakin?" Gwen terdiam. "Saya yakin kamu pasti bakalan berubah pikiran setelah mobil pemberian saya itu dateng," ucap Kenzo seraya berdiri tegak. "Saya pamit, Sayang," bisiknya, mendekatkan wajah tepat di depan wajah Gwen sebelum akhirnya berbalik dan melangkah meninggalkan kontrakan. Jantung Gwen berdetak kencang. Matanya menatap kepergian Kenzo dengan perasaan bingung. Otaknya berkutat dengan sesuatu yang membuatnya pusing. Sebagai seorang perempuan, ia tidak munafik dan berfikir realistis bahwa hidup memang butuh uang, tapi jika boleh berkata jujur, ia masih bingung dengan perasaannya kepada Kenzo. Apakah ia mencintainya atau hanya menginginkan uangnya saja? "Siapa sih yang bakalan nolak cowok sekaya Anda, Om, tapi jujur ... aku gak tau apakah aku juga cinta sama Om atau nggak," gumam Gwen merasa bingung. *** Siang hari tepatnya pukul 14.00, suara ketukan di pintu seketika mengejutkan Gwen yang tengah berbaring di ruangan depan. Wanita itu bangkit dengan perlahan seraya menyeka ujung bibirnya yang basah karena iler. "Astaga, siapa sih gangguin orang aja?" decaknya, berdiri tegak dengan perasaan malas. "Permisi," seru orang di luar sana kembali mengetuk pintu. Gwen menghela napas panjang lalu membuka pintu seraya membuka mulutnya lebar-lebar. "Iya, siapa ya?" serunya, menatap seorang laki-laki mengenakan jas berwarna hitam. "Apa benar ini tempat tinggalnya Gwen Ariani?" "Iya betul, Pak," jawab Gwen dengan bingung. "Silahkan Anda tanda tangani surat serah terima mobil yang dipesan sama Pak Kenzo, Mbak. Pembayaran sudah dilakukan cash dan mobilnya ada di depan." Gwen terdiam seraya menggerakkan matanya ke kiri dan ke kanan. Jadi, Kenzo benar-benar membelikan mobil untuknya? Rasa tidak percaya masih menyelimuti hati seorang Gwen, meskipun ia yakin Kenzo tidak main-main dengan ucapannya. "Mbak, kenapa Anda bengong? Silahkan Anda tanda tangan di sini," pinta orang tersebut seraya memberikan beberapa dokumen berikut balpoin yang harus di tanda tangani. Gwen dengan tangan gemetar, menerima balpoin lalu membubuhkan tanda tangannya dengan perasaan campur aduk. Rasanya masih seperti mimpi ketika dirinya benar-benar memiliki kendaraan beroda empat yang selama ini ia impi-impikan. "Oke, ini kuncinya dan mobilnya saya parkir di depan, ya." Gwen hanya menganggukkan kepala seraya menerima kunci mobil berikut surat tanda kepemilikan kendaraan beroda empat itu dengan perasaan campur aduk. Tatapan matanya nampak kosong menatap lurus ke depan. "Ya Tuhan, apa aku lagi mimpi? Aku beneran dibeliin mobil sama Om Kenzo? Belum nikah aja udah royal kayak gini, apalagi nanti kalau udah nikah," batin Gwen. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN