Kenzo duduk dengan bersilang kaki di kursi kebesarannya di dalam ruangan Presiden Direktur. Bibirnya nampak menyunggingkan senyuman sembari memutar kursi ke kiri dan ke kanan. Ia baru saja menerima laporan bahwa mobil mini cover yang ia beli untuk Gwen sudah diantarkan dengan selamat ke kontrakannya. Tinggal menunggu waktu saja, ia yakin Gwen akan tiba di ruangannya untuk memberikan jawaban. Jawabannya sudah pasti 'yes'. Sebegitu percaya dirinya Kenzo, ia yakin uang dapat membeli apapun di dunia ini.
Kenzo menatap ke arah pintu seraya menghitung mundur. "3 ... 2 ... 1 ..." serunya.
Pintu pun dibuka dari luar. Gwen melangkah memasuki ruangan dengan wajah datar. Kenzo tersenyum lebar, ia adalah suhunya dalam menaklukan hati wanita dan kali ini pun ia berhasil menaklukkan hati Gwen Ariani, wanita yang memiliki body aduhai dan kecantikan yang memukau.
"Selamat datang, Gwen Sayang. Gimana, mobilnya, kamu suka?" tanya Kenzo tersenyum lebar, bangkit dari duduknya lalu melangkah menghampiri.
Gwen menghentikan langkahnya tepat di depan Kenzo, memandang wajahnya dengan napas tersengal-sengal. "Oke, aku mau jadi istri Om," ucapnya.
"Pilihan yang bagus, Sayang. Hidup ini butuh uang, Honey. Saya janji, setelah kamu jadi istri saya, kamu akan saya jadikan ratu. Saya akan memberikan apapun yang kamu mau," jawab Kenzo seraya mencubit gemas dagu Gwen.
"Tapi ada syaratnya, Om," ucap Gwen membuat Kenzo seketika mengerutkan kening.
"Syarat? Hmmm ... katakan apa syarat kamu, Honey? Pokoknya, apapun syarat yang kamu ajuin, pasti akan saya penuhi."
Gwen menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan, mengatur napasnya, detak jantungnya bahkan perasaannya yang campur aduk sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.
"Aku mau, kita jangan ngelakuin hubungan seks sebelum kita resmi menjadi suami istri," ucap Gwen, tegas dan penuh penekanan.
Kenzo terdiam, ternyata Gwen lebih pintar dari apa yang ia pikirkan. Ia sadar, bahwa Gwen menerimanya karena uang, tapi dirinya tidak menyangka bahwa wanita itu akan memberinya ujian lain yang lebih sulit dari sekedar Ujian Nasional sekalipun. Apa Kenzo sanggup menahan hasratnya? Sementara bercinta adalah obat dari segala penyakit yang terkadang datang secara tiba-tiba.
"Kenapa Om diem aja? Kalau Om gak sanggup memenuhi persyaratan yang aku berikan, ya udah ... aku akan mundur dan mobil yang udah Om kasih ke aku pun, akan aku balikin," tanya Gwen dengan penuh rasa percaya diri.
Kenzo melangkah menuju sofa dengan bibir yang dikerucutkan sedemikan rupa. Pria itu seperti tengah merajuk karena dipaksa berhenti bermain permainan kesukaannya. Wajahnya nampak ditekuk kesal dengan kepala menunduk.
"Akh, sial! Mana bisa saya gak bercinta barang seminggu atau dua Minggu? Yang namanya nyiapin pernikahan itu gak cukup dalam waktu hitungan hari doang. Akh ... si Gwen ngeselin deh," batin Kenzo dengan kesal.
Gwen tersenyum cengengesan seraya melakukan hal yang sama seperti Kenzo. Ia bahkan dengan sengaja duduk di sofa yang berbeda dengan pria itu untuk mengindari hal-hal yang tidak diinginkan. Kenzo adalah maniak seks, pria itu bisa saja tiba-tiba ingin melakukannya dan keinginannya itu tidak dapat ditolak.
"Om ..." rengek Gwen, menopang dagunya menggunakan kepalan tangan. "Om gak sanggup ya memenuhi persyaratan aku? Hmm ... segitu doang perjuangan Om buat ngedapetin aku?"
Kenzo yang semula menunduk seketika mengangkat kepala seraya duduk dengan tegak. "Siapa bilang saya gak sanggup?" ucapnya dengan percaya diri. "Lagian, kita bisa ke ke KUA besok pagi, kalau perlu sore ini juga kita kawin. Beres, 'kan?"
"Astaga, Om Kenzo. Mana bisa kita ke KUA sore ini juga? Emangnya Om cuma pengen nikahi aku secara siri, gitu?"
"Ya, dari pada kita maksiat?"
"Cuma nunggu satu bulan doang Om gak sanggup?" decak Gwen dengan mata membulat. "Sekarang udah jelas, Om nikahin aku cuma pengen badan aku doang. Gak sungguh-sungguh cinta sama aku."
"Hah? Kata siapa, Honey? Saya cinta sama kamu, kalau nggak, buat apa saya minta kamu jadi istri saya? Kalau saya cuma pengen tubuh kamu doang, saya bisa dapetin selusin cewek macam kamu," sanggah Kenzo mencoba meyakinkan.
"Ya udah, kalau Om beneran cinta sama aku. Ikutin aturan yang aku buat, paham?"
Kenzo menghela napas panjang sebelum akhirnya mengangguk dengan sangat terpaksa.
"Ngomong-ngomong, makasih mobilnya, Om. Aku suka," ucap Gwen seraya tersenyum lebar.
"Sama-sama, Honey," jawab Kenzo dengan santai. "O iya, kita ke rumah saya sekarang, ya. Kamu belum tau seperti apa istana saya itu, 'kan?" pinta Kenzo seraya berdiri tegak.
"Sekarang juga?" tanya Gwen dengan kepala mendongak menatap wajah Kenzo dengan kening mengerut.
"Ya iyalah, sekalian kita urus berkas-berkas pernikahan sekaligus memberitahu Damar bahwa saya akan segera menikahi kamu. Oke?"
Gwen terdiam dengan kepala menunduk. "Aduh, bisa malu aku sama si Damar. Semalem aku bilang udah putus sama Bapaknya ini. Sekarang, aku tiba-tiba dateng sebagai calon istrinya? Ya Tuhan, kuatkanlah mental hambamu ini dalam menghadapi tu anak," batin Gwen sembari menghela napas panjang.
***
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 30 menit lamanya, mobil yang ditumpangi oleh Kenzo dan Gwen akhirnya tiba di tempat tujuan. Mobil Pajero berwarna hitam itu mulai memasuki pintu gerbang perumahan elit, di mana kawasan itu hanya dihuni oleh mereka-mereka orang berduit.
Rumah-rumah mewah bertingkat nampak menghiasi sisi kiri dan kanan jalan, nampak tersusun rapi dan megah. Gwen memandang keluar jendela mobil dengan mulut dibuka lebar. Ini adalah pertama kalinya ia memasuki kawasan elit, bahkan tidak lama lagi akan menghuni salah satu rumah yang berada di sana.
"Waaah! Entah amalan apa yang dilakukan sama mendiang orang tuaku sampe-sampe aku mendapatkan anugerah yang tidak terhingga seperti ini. Aku bakalan tinggal di sini sama suamiku kelak," batin Gwen seraya tersenyum lebar.
"Kamu kenapa, Gwen?" tanya Kenzo memandang wajah Gwen dengan senyum. Ekspresi wajahnya terlihat lucu dan menggemaskan.
Gwen menoleh dan menatap wajah Kenzo seraya tersenyum cengengesan. "Hah? Eu ... nggak ko, Om. Aku cuma kagum aja liat rumah-rumah mewah di sini ini," jawabnya seraya menggaruk kepalanya sendiri yang sebenarnya tidak terasa gatal.
"Kamu pasti akan syok setelah ngeliat rumah kita," ucap Kenzo.
Mata Gwen membulat. "Rumah kita?"
"Ya iyalah, kalau kamu udah resmi jadi istri saya, rumah saya ya ... jadi rumah kita. Apa lagi?"
Gwen tersenyum lebar benar-benar merasa bahagia. Entah ia bahagia karena harta, atau karena dicintai secara ugal-ugalan oleh Kenzo, pria yang memiliki usia jauh lebih tua darinya. Sayangnya, ia sediri masih bingung dengan perasaannya. Apa ia pun memiliki perasaan yang sama kepada pria itu atau tidak?
Mobil tersebut akhirnya memasuki pintu gerbang dengan pagar besi berwarna keemasan di mana rumah dua lantai dengan warna cat senada berada di dalam sana. Halaman luas nampak membentang tepat di depan rumah tersebut. Gwen tercengang, pantas saja Kenzo menyebut kediamannya istana karena penampakan rumah tersebut benar-benar seperti istana di mana dua pilar raksasa menopang lantai satu dan lantai dua di bagian depannya.
"Waaah! Rumah Om gede banget," decak Gwen, segera keluar dari dalam mobil. Hal yang sama pun dilakukan oleh Kenzo.
"Selamat datang di istana kita, Honey," ucap Kenzo seraya merentangkan kedua tangannya berdiri tepat di tengah-tengah pilar raksasa.
Gwen tersenyum lebar seraya menatap wajah Kenzo.
Pintu utama dibuka dari dalam, baik Gwen maupun Kenzo sontak menoleh dan menatap Damar yang berjalan keluar seraya memandang wajah Gwen dengan kening dikerutkan.
"Gwen? Lagi ngapain lo di sini?" tanyanya, berhenti tepat di tengah-tengah teras dengan lantai marmer.
Kenzo mendengus kesal. "Ish, kamu ini. Yang sopan dong manggil calon ibu tiri kamu. Panggil dia, Tante Gwen. Nah, kalau kami udah nikah, panggil dia Mommy Gwen, paham?"
Damar memandang lekat wajah Gwen. "Mommy Gwen? Bukannya lo bilang sama gue kalau lo udah putus sama Daddy?" tanyanya. "Dasar munafik lo!"
Bersambung ....